Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 141


__ADS_3

Pagi hari. Rendy, Liana dan Elma sudah berkumpul di restoran yang ada di hotel tempat keluarga mereka menginap.


Mereka hendak sarapan, namun mereka harus menunda sarapannya karena Ken dan Shila belum menampakkan batang hidungnya di tempat itu.


"Liana, kamu sarapan duluan saja," ucap Elma kepada Liana.


Karena Liana sedang hamil, Elma lebih perhatian kepada menantunya itu, Elma tak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada Liana dan calon cucunya.


"Aku nunggu Ken dan Shila aja, Ma. Aku gak apa-apa kok," sahut Liana.


"Kamu sedang hamil. Gak boleh telat makan, sayang, kamu harus memenuhi kebutuhan nutrisi kamu setiap hari," jelas Elma.


Tak lama Ken dan Shila datang dengan berjalan beriringan.


"Maaf, membuat kalian menunggu lama," ucap Ken sembari menarik kursi untuk Shila duduk!


Shila tersenyum ramah kepada semua orang lalu segera duduk di kursi yang berada di samping Liana.


"Dapat berapa ronde, semalam? sampai kalian bangun kesiangan," ucap Rendy dengan santainya.


"Uhuk! Uhuk!" Mendengar pertanyaan Rendy Shila terbatuk karena tersedak air yang sedang ia minum.


Ken mengusap punggung Shila!


"Pelan-pelan Shil, minumnya," ucap Ken.

__ADS_1


Liana memukul lengan Rendy pelan! "Gara-gara kamu tuh," ucap Liana.


Rendy tersenyum, "maaf," ucapnya.


Elma menggelengkan kepalanya lalu menarik nafas perlahan lalu membuangnya.


"Kalian ini, sudah dewasa masih aja sering bercanda," ucap Elma.


"Lo, bercandanya keterlaluan. Lihat nih Shila sampai tersedak," ucap Ken kepada Rendy.


"Maaf, Shil. Serius aku penasaran," ucap Rendy dengan tatapan jahilnya.


Wajah Shila memerah, betapa malunya ia saat ini.


"Sudah-sudah, ayo sarapan. Kasihan Liana sudah menunggu lama, dia sedang hamil. Tidak baik orang hamil telat makan," ucap Elma.


*** *** ***


Jenny menangis, menyesali semua yang sudah ia lakukan. Karena terlalu cinta dan takut ditinggalkan oleh sang kekasih, ia harus merasakan tersiksanya tidur dibalik jeruji besi.


Kini ia sedang mengandung anaknya Bram. Cinta membuatnya hilang akal hingga ia rela mengorbankan segalanya agar orang yang ia cintai tidak pindah kelain hati.


"Aku harus apakan bayi dalam kandunganku ini? Aku gak mau melahirkan tanpa suami," ucap Jenny didalam hatinya.


Jenny terus menangis sambil *******-***** perutnya.

__ADS_1


Penyesalan memang selalu datang belakangan, ada baiknya sebelum melakukan sesuatu, pikirkan terlebih dahulu apa saja konsekuensinya.


Jenny terus menangis hingga akhir ia tertidur karena lelah menangis.


"Gila kali tuh si Jenny, tiba-tiba nangis habis itu langsung tidur sering marah-marah gak jelas pula," gumam teman satu selnya Jenny kepada teman yang satunya lagi.


"Iya, mungkin sebentar lagi dia akan menjadi gila," sahut temannya yang lain.


*** *** ***


Brak! barang bawaan yang dipegang oleh Diana terjatuh ke lantai karena ada orang yang menabraknya.


"Mas, kalau jalan hati-hati dong," ucap Diana tanpa melihatmu siapa yang menabraknya.


"Maaf, Mbak. Saya gak sengaja." Laki-laki itu membantu Diana membereskan barang yang berantakan di lantai!


"Maaf, ya. Saya benar-benar gak sengaja," ucap laki-laki itu lagi setelah selesai membantu membereskan barang-barang milik Diana.


"Arkhan!" ucap Diana dengan tatapan tak percaya.


"Diana? Kamu benar Diana kan?" ucap Arkhan tak kalah terkejutnya dari Diana.


"Iya, aku Diana. Arkhan kan ya?" ucap Diana dengan tatapan terus tertuju kepada Arkhan.


"Gak nyangka, kita bisa bertemu lagi. Apa kabar Dii?" ucap Arkhan.

__ADS_1


Arkhan dan Diana memang saling kenal mereka pernah bersekolah di SMA yang sama karena Arkhan tak punya cukup biaya untuk melanjutkan kuliah akhirnya mereka berpisah dan tak pernah bertemu dalam waktu yang lama, mereka baru bertemu lagi saat ini setelah hampir sepuluh tahun terpisah.


Bersambung.


__ADS_2