Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 16


__ADS_3

Saat jam makan siang, Elvan memutuskan untuk pergi mengunjungi rumah Leon untuk melihat kondisi Leon yang baru saja mengalami penyerangan oleh orang yang tidak dikenal.


Elvan mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan sedang karena ia tak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan menimpanya.


...****************...


Sudah hampir setengah hari, Leon dan Biani menghabiskan waktu bersama tanpa menghiraukan perasaan Shania yang kini sudah berstatus sebagai istrinya Leon.


Sepasang kekasih itu bercumbu mesra melepaskan rindu yang mendera setelah beberapa hari tak jumpa. Mereka tak mengindahkan keberadaan Shania bahkan tanpa rasa malu mereka berciuman dihadapan wanita yang baru beberapa hari menjadi istrinya Leon.


Leon me****t bibir Biani dengan lembut, dengan leluasa lidahnya bermain didalam mulut kekasihnya itu.


Biani pun membalas permainan Leon, mereka begitu menikmati ciuman panas itu hingga tanpa mereka sadari pakaian yang mereka kenakan hampir terbuka seluruhnya.


Shania yang melihat kelakuan laki-laki yang telah menjadi suaminya merasa jijik dan ilfil. Ingin rasanya ia marah kepada suaminya dan ingin sekali ia melempar wanita yang tengah bersama dengan suaminya itu ke luar rumahnya, namun semua rasa itu ia tahan karena suatu alasan.


Saat ini Shania belum mengenal Leon lebih jauh dan dia juga belum tahu sifat aslinya seperti apa. Shania mencoba bersabar dan berusaha tidak meneteskan air matanya meski dalam hatinya sudah terasa amat sakit karena perlakuan dan perkataan Leon kepadanya.


"Astaga, Leon! Apa yang sedang kamu lakukan?" ucap Elvan.


Elvan masuk ke rumah Leon tanpa dipersilahkan oleh sang pemilik rumah, melihat pintu yang tidak terkunci tanpa permisi Elvan langsung masuk kedalam rumah Leon!


Leon dan Biani terperanjat. Biani segera merapikan bajunya yang hampir terlepas dari badannya! Sedangkan Leon bersikap biasa saja seolah tidak ada yang terjadi.


"Leon kamu sadar gak sih, barusan kamu melakukan apa?" ucap Elvan dengan emosi yang mulai menghampiri jiwanya.


"Seperti yang kamu lihat," ucap Leon.


"Leon, aku pulang dulu," ucap Biani.


Biani segera pergi meninggalkan rumah Leon dengan perasaan malu karena tertangkap basah sedang melakukan apa yang seharusnya tidak dilakukan oleh dirinya dengan Leon.


Meski mereka tidak melakukan sesuatu yang berlebihan dan tidak akan menyebabkan Biani hamil tapi tetap saja Biani merasa malu kepada Elvan terlebih saat ini Leon sudah memiliki istri.


"Ngapain kamu ke sini?" ucap Leon.


"Aku mau melihat keadaanmu tapi apa yang aku lihat saat tiba di rumah ini? Sangat mengejutkan bahkan sangat menjijikkan," ucap Elvan.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja," ucap Leon sembari mengancingkan kembali kancing kemejanya yang sudah terbuka.


"Leon, sadar. Kamu sudah menikah, jangan melakukan hal seperti tadi lagi karena itu bisa menyakiti Shania," ucap Elvan.


"Sudah aku bilang, aku tidak mencintai Shania, aku hanya mencintai Biani."


"Leon, cobalah berpikir dewasa. Kamu sama Biani tidak mungkin bersatu lebih baik kamu coba untuk menerima Shania sebagai istrimu, sebagai pendamping hidupmu sampai kamu tua nanti," jelas Elvan.


"Sudahlah Elvan, jangan ikut campur urusan rumah tangga aku lebih baik kamu urus saja kehidupan pribadimu," ucap Leon.


Elvan terdiam mematung.


"Aku tidak ingin kamu ikut campur urusan pribadiku, karena ini hidupku hanya aku yang berhak memutuskannya apa yang harus aku lakukan dan apa yang tidak perlu aku lakukan," ucap Leon lagi.


"Lihatlah kelakuan saudaramu, di depanku saja dia bisa melakukan sesuatu yang tidak pantas untuk dilakukan dengan orang lain meski dia adalah kekasihnya bagaimana dibelakang ku? Mungkin dia akan berbuat layaknya seperti pasangan suami istri," ucap Shania yang dari tadi mendengarkan perdebatan antara Leon dan Elvan.


"Atau mungkin mereka memang sudah melakukannya," ucap Shania lagi.


"Jaga bicaramu, Shania!" Leon membentak Shania hingga Shania terperanjat.


Shania menatap Leon tajam.


"Jika dia wanita baik-baik, dia tidak akan melakukan hal yang tidak pantas dilakukan seperti tadi meski dengan kekasihnya. Wanita baik-baik akan menjaga kehormatan keluarganya dan kehormatan dirinya terlebih kesuciannya sebagai seorang gadis," ucap Shania.


Leon dan Elvan terdiam sembari menatap Shania.


Perkataan Shania memang benar tapi zaman sekarang ciuman adalah sesuatu yang biasa dilakukan oleh orang berpacaran.


"Aku hanyalah istri di atas kertas bagimu tapi aku minta jangan bercinta di depanku. Terserah kamu mau berbuat apa dengan wanita itu asalkan di tempat yang tidak bisa aku lihat dan tidak aku ketahui, tolong hargai aku sebagai istrimu," ucap Shania.


"Shania, tolong maafkan kesalahan Leon," ucap Elvan.


"Aku tidak menerima maaf dari orang yang tidak bersalah. Kamu tidak ada hubungannya dengan masalah aku dan Leon," ucap Shania.


"Dari awal aku sudah katakan kalau aku tidak mencintaimu dan aku akan tetap melakukan apa pun keinginanku," ucap Leon.


"Aku gak ngerti dengan jalan pikiran kamu Leon. Kenapa kamu tidak bisa bersikap dewasa seperti laki-laki lain di luar sana," ucap Shania.

__ADS_1


"Shania-Shania, sudah jangan bicara lagi. Leon tidur akan bisa berpikir jernih saat sedang kacau seperti ini. Lebih baik kamu tinggalkan saja dulu," ucap Elvan.


"Aku memang mau pergi, Van bahkan kalau aku tidak memikirkan hubungan antara keluarga aku dan keluarga Om Rendy, aku sudah pergi sebelum hari pernikahan itu terjadi," ucap Shania sembari melangkahkan kakinya menuju kamarnya!


...****************...


Di perjalanan pulang, Biani merasa bahagia karena bisa bertemu dengan Leon dan juga bisa membuat istrinya Leon cemburu padanya.


Biani terus mengemudikan motor matic nya dengan perasaan bahagia karena berhasil menyakiti Shania baik batin maupun fisik.


"Lo gak akan bisa hidup tenang bersama Leon karena gue gak akan pernah biarin lo bahagia di atas penderitaan ku," ucap Biani didalam hatinya.


Biani terus melajukan motor matic nya menuju rumahnya!


Tak perlu waktu lama, akhirnya Biani tiba di rumahnya.


"Udah pulang, Nak?" ucap Jenny yang sedang menyapu halaman rumahnya.


Biani memarkirkan motornya lalu segera turun untuk mencium punggung tangan mamanya!


"Iya, Ma. Maaf aku kelamaan perginya," ucap Biani.


"Tidak apa, Nak. Bagaimana pertemuannya?" tanya Jenny.


"Sangat menyenangkan. Ma, boleh aku sering-sering pergi untuk bertemu dengan teman-temanku?"


"Asal kamu tahu batasan, kamu boleh bergaul dengan siapa pun," ucap Jenny.


Biani terdiam karena dia merasa dia sudah melakukan kesalahan dan akan terus melakukan kesalahan itu.


"Mama gak mau kamu terjerumus kedalam pergaulan bebas yang akan menimbulkan penyesalan nantinya," ucap Jenny lagi.


"Aku tahu Ma, aku gak mungkin melakukan apa yang Mama larang."


"Maaf, Ma. Aku tidak ingin kehilangan Leon, terpaksa aku melakukan apa yang seharusnya tidak aku lakukan," ucap Biani didalam hatinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2