Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 81


__ADS_3

Setelah mengantarkan Mamanya pulang dan setelah Rio pergi dari rumahnya, Biani berpamitan kepada Mamanya, dia akan berangkat bekerja.


"Ma, aku berangkat kerja ya," ucap Biani pada Mamanya.


"Iya, sayang hati-hati dijalan ya," sahut Jenny.


"Mama juga hati-hati di rumah ya kalau ada apa-apa atau Mama merasakan sesuatu segera hubungi aku ya."


"Iya, sayang. Jangan khawatir, Mama sudah benar-benar sehat kok ini."


"Mama kan baru pulang dari rumah sakit. Mama belum sembuh total, jadi aku minta sama Mama jangan mengerjakan apa pun ya. Mama harus istirahat."


"Iya-iya kenapa sekarang kamu jadi bawel?"


"Karena aku sayang sama Mama. udah ya, aku pergi Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Biani mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Jenny sendirian di rumahnya!


...****************...


Setelah pulang dari kampusnya, Galang langsung ke kafe milik kakaknya untuk menemui Biani.


Sebenarnya dari sebelum Biani bekerja di tempat itu pun, Galang suka nongkrong di sana selain karena kafe itu milik kakaknya kafe itu juga menjadi favorit teman-teman nya untuk nongkrong di sana.


Sudah hampir setengah jam, Galang menunggu Biani, dirinya sudah merasa gelisah karena gadis yang dia sukai belum datang juga.


Berkali-kali Galang melihat jam di tangannya, dia seperti orang yang sedang menunggu seseorang yang sangat berharga dalam hidupnya padahal Biani bukan lah orang spesial dalam hidupnya.


"Biani kemana kok, gak muncul juga?" gumam Galang.


Galang sangat mengharapkan Biani selalu bekerja di setiap harinya, tidak ada kata yang akan dia ucapkan kepada Biani dan juga tidak ada rasa yang harus ia ungkapkan pada Biani, hanya melihatnya saja Galang sudah bahagia.


Galang dan Biani baru kenal beberapa hari tapi Galang sudah memiliki rasa yang lebih dari sekedar teman biasa, meski begitu Galang belum ingin mengutarakan perasaannya karena dia takut Biani akan lari nantinya.


"Selamat siang semuanya," ucap Biani kepada teman-temannya.


Galang menoleh ke arah suara!


Sebuah senyuman terukir di bibir Galang saat melihat Biani yang tengah tersenyum manis pada teman-temannya.


"Dia datang juga," gumam Galang.


Galang terus menatap Biani yang baru akan memulai pekerjaannya.


Biani menatap Galang sekilas, terlihat Galang tersenyum kearahnya saat Galang tahu Biani sedang menatapnya Galang melambaikan tangannya pada Biani.


Biani mengalihkan pandangannya, dia kembali fokus pada pekerjaannya yang baru akan dimulai.


"Sekali menatapku, kamu pasti akan melakukannya lagi," ucap Galang didalam hatinya.


"Ndah, itu adiknya Pak Bos emang dia sering nongkrong di sini atau dia ke sini untuk mengawasi kita-kita?" tanya Biani kepada Indah.


"Setiap hari dia memang suka nongkrong di sini, Bi. Aku rasa dia sedang tidak mengawasi kita, buktinya dari dulu Pak Bos tidak pernah ke sini untuk membicarakan tentang perilaku karyawan di sini. Itu berarti dia gak pernah mengadu pada kakaknya," jelas Indah.


"Kamu yakin, Ndah?"


"Yakin. Udah kamu tenang saja, dia gak berbahaya kok."


"Kok aku merasa dari awal aku kerja di sini dia terus memperhatikan aku ya?"


"Aku juga merasa seperti itu, mungkin dia suka sama kamu."


"Ngaco kamu, Ndah gak mungkin dia suka sama aku."


"Kalau benar dia suka sama kamu, kamu beruntung banget. Terima saja cintanya kan lumayan bisa pacaran sama adiknya Bos."


"Udah lah, lama-lama kok kamu jadi ngawur."


"Dibilangin, gak mau."


Biani tak menghiraukan lagi perkataan Indah, menurutnya tidak mungkin Galang menyukainya.


...****************...


Setelah mengecek gedung yang akan mereka gunakan untuk mengadakan pesta pernikahan mereka.


Elvan dan Kayla pergi ke air terjun untuk sekedar mengistirahatkan dirinya dari segudang aktivitas pekerjaan mereka.


Kayla berjalan lebih mendekat lagi pada air terjun itu!


"Suasana di sini sangat tenang," gumam Kayla sembari menatap air terjun itu.


Elvan berdiri di samping Kayla, dia juga mengalahkan pandangannya ke air terjun itu.


"Tempat inilah tempat yang sering aku datangi saat aku sedang ingin sendiri dan saat aku ingin lari dari keramaian," ucap Elvan.


"Sejak kapan kamu tahu ke tempur ini?"

__ADS_1


"Sejak kapannya aku tidak ingat, yang aku tahu aku sering ke sini sudah dari dulu."


"Pertama kali ke sini sama siapa?"


"Harus dijawab banget nih?"


"Iya dong, pertanyaan ya harus dijawab."


"Tapi jangan marah ya."


"Kenapa harus marah?"


"Karena pertama kali ke sini aku bersama kekasihku dulu," ucap Elvan sembari menatap Kayla.


Kayla mengukir senyum di bibirnya.


"Jangan bilang kamu ke sini untuk mengenang kekasihmu itu."


"Tidak lah, dia sekarang sudah menikah Kay. Ngapain mengenang orang yang bukan milik kita."


"Tapi dulu pernah jadi milikmu kan?"


"Iya, itu dulu sebelum dia pergi ninggalin aku setelah itu dia bukan lagi milikku. Aku juga tidak berharap dia kembali padaku meski dia sudah tak bersama lagi dengan suaminya."


"Kenapa bisa begitu? Bukankah kamu mencintainya?"


"Ya, dulu aku memang mencintainya tapi setelah tahu dia sudah menikah, cinta untuknya hilang begitu saja. Aku tidak mau dengan perempuan yang sudah pernah menikah."


"Kenapa? Bukankah gadis yang sudah menikah sama dengan gadis yang belum menikah? Mereka sama-sama perempuan hanya saja beda status."


"Kamu gak ngerti dan gak akan mengerti."


Kayla tertawa kecil lalu dia menatap Elvan dengan tatapan dalam.


"Apa kamu tidak mau dengan yang bekas, bekas laki-laki lain tentunya," ucap Kayla.


"Tidak seperti itu, aku hanya ...."


"Kalau aku bukan gadis lagi gimana?"


"Aku harus gimana? Yang aku tahu kamu belum pernah menikah."


"Zaman sekarang kan bisa saja, melakukan tanpa itu harus menikah. Menghamili tanpa harus menikahi," ucap Kayla.


"Sekarang aku tidak bisa berbuat apa-apa karena aku belum membuktikannya. Gimana kalau kita buktikan? Kita ke hotel yuk!"


Elvan meraih tangan Kayla lalu mengangkatnya sampai batas dada!


"Dari ucapan mu barusan saja aku sudah tahu kalau kamu bukanlah gadis yang gampang menyerahkan dirimu untuk laki-laki meski kamu mencintai laki-laki itu. Pernikahan kita tinggal beberapa hari lagi tapi kamu menolak aku untuk melakukannya di hotel."


Kayla tak berucap lagi, dia menatap Elvan tanpa berkedip, ternyata laki-laki yang dicintainya itu pintar menyimpulkan sesuatu hanya dari ucapan seseorang.


Mereka berdua saling bertatapan ditengah hijaunya hamparan rerumputan dan dengan gemuruh air terjun yang kian menjadikan suasana di sana sangat indah dan tenang.


...****************...


"Leon, aku ingin bertemu dengan orang tuaku, apa boleh aku menemui mereka?" tanya Shania pada Leon.


"Tentu saja boleh. Kenapa tidak."


"Terimakasih. Besok setelah kamu berangkat ke kantor, aku mau ke sana."


"Kenapa harus besok? Sekarang saja kita ke sana."


"Memangnya kamu mau ke sana?"


"Tentu saja, bukan hanya kamu yang ingin bertemu dengan Papa dan Mamamu aku juga mau bertemu dengan Mama dan Papa mertuaku."


"Kalau gitu kita ke sana sekarang!" seru Shania.


Leon memutar arah mobilnya menjadi menuju ke rumah orang tuanya Shania!


...****************...


Di kediaman Jenny.


Jenny duduk di bibir ranjang sembari memegangi foto suaminya.


"Seandainya kamu masih ada, mungkin aku tidak sendirian menghadapi semua ini, mungkin kamu akan selalu ada di sampingku untuk menguatkan aku," gumam Jenny sembari mengusap foto itu.


Jenny meneteskan air matanya. Dia sedih karena saat ini kehidupannya sangat hancur.


"Bram, aku tidak menyangka masa lalu kita membuat anak-anak kita tersiksa. Kalau saja dulu aku tahu akan seperti ini, aku tidak mau melakukan kejahatan pada Rendy dan juga keluarganya."


Jenny memeluk foto itu dengan tangis yang tanpa henti, dia sangat sedih karena anak-anaknya harus menerima akibat dari masa lalunya.


...****************...


"Lama-lama memandang mu aku jadi gak sabar," ucap Elvan.

__ADS_1


"Gak tahan apa?" ucap Kayla.


"Gak tahan pengen cepat nikah sama kamu."


"Sabar, sebentar lagi kan."


"Iya tapi saat sedang seperti ini rasanya semakin lama aku menunggu datangnya saat itu, saat hari pernikahan kita."


Elvan menatap Kayla dengan tatapan dalam. Tanpa kata dan tak ada sedikitpun pergerakan, Elvan terus menatap kekasihnya itu.


"Hayo lagi mikirin apa?" ucap Kayla yang juga sedang menatap Elvan.


"Menurutmu aku sedang mikirin apa?"


"Mana aku tahu, aku bukan orang pintar yang bisa membaca pikiran orang."


"Aku sedang membayangkan malam pertama denganmu."


Kayla memukul Elvan dengan sedikit keras!


"Sadar mesum!"


"Hanya membayangkan saja, gak dosa kan? Selama aku tidak melakukannya aku gak membuat kesalahan kan?"


"Sadar aneh. Jangan kan melakukannya, membayangkannya saja tidak boleh selama kamu belum menikahi aku."


Elvan tersenyum lebar selebar bibirnya.


"Aku hanya bercanda, sayang. Aku hanya kagum padamu."


"Kagum dengan apanya?"


"Dengan semua yang kamu miliki dan dengan semua kemampuanmu."


"Kamu mencintai aku karena apa? Apa alasan kamu mencintai aku?"


"Aku mencintaimu karena kamu seorang perempuan, tidak mungkin kan aku mencintai seorang laki-laki. Tidak ada alasan kenapa aku mencintaimu, bagiku kamu sempurna."


"Tapi aku mencintaimu karena sebuah alasan."


"Apa?"


"Karena kamu anaknya tante Shila."


"Kenapa begitu?"


"Karena tante Shila adalah wanita hebat dan juga pemberani seperti Mamaku."


"Tunggu-tunggu, kok kamu jadi nyambungnya ke Mama kita?"


"Iya, selama ini aku mencari pasangan hidup yang sama-sama menyukai hal yang aku sukai, agar aku dan keluarga suamiku bisa nyambung tanpa adanya selisih pendapat kebetulan kamu mencintai aku dan aku pun sama mencintai kamu juga. Aku pikir apa salahnya melanjutkan hubungan kita."


"Kamu pernah punya pacar?"


"Tentu saja pernah, tapi putus ditengah jalan."


"Kenapa?"


"Karena keluarga mereka melarang ku untuk melanjutkan pekerjaan yang menjadi hobi ku."


"Oh jadi karena masa lalu yang membuatmu memilih-milih kekasih."


"Ya, tepatnya seperti itu."


...****************...


"Sudah waktunya pulang, aku antar ya," ucap Galang pada Biani.


"Tidak perlu, aku pulang sendiri saja," sahut Biani.


"Kenapa kamu selalu menolak aku?"


"Karena aku nyaman pulang sendiri."


"Apa menurutmu aku kurang tampan atau kurang kaya?"


Biani menatap Galang dengan tatapan tajam.


"Aku bukan wanita matre yang gampang dekat dengan laki-laki kaya dan aku tidak memandang laki-laki dari fisiknya. Lain kali pikirkan dulu sebelum berkata. Aku merasa tersinggung dengan perkataan mu yang seolah menganggap aku sebagai wanita murahan."


Biani berlalu begitu saja dari hadapan Galang setelah selesai dengan ucapannya!


"Bi!"


Galang mengangkat tangannya mencoba untuk menghentikan Biani, namun sedetik kemudian ia mengurungkan niatnya untuk menahan Biani.


Galang menatap kepergian Biani, dia membiarkan gadis itu pergi meninggalkan dirinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2