
Shila menarik tangannya yang sedang digenggaman oleh Ken lalu berbalik membelakangi Ken!
"Saya tidak bisa menikah dalam waktu dekat karena saya punya misi yang belum saya selesaikan," ucap Shila.
"Tapi kamu mau kan?" tanya Ken sembari berjalan mendekati Shila.
Shila menatap netra hitam milik Ken, "anda serius?" ucapnya.
Ken tersenyum lalu berucap, "saya tidak suka bercanda dalam urusan cinta."
"Benarkah?" (Shila)
"Jangan banyak bertanya. Jawab saja ya atau tidak," ucap Ken.
Shila tak berucap namun ia menganggukkan kepalanya tanda ia mau menjadi istrinya Ken.
Ken tersenyum sembari meraih tangan Shila! "terimakasih."
Ken ingin hendak mencium tangan Shila namun ia mengurungkan niatnya karena ia takut Shila akan marah.
Ken menurunkan tangan Shila yang sudah ia angkat sampai batas dadanya.
"Mau ngapain?" tanya Shila.
Sebenarnya Shila tahu kalau Ken ingin mencium tangannya tapi ia pura-pura tidak tahu karena ingin mendengar pengakuan langsung dari mulut laki-laki yang baru saja menyatakan cinta padanya.
"Tadinya aku ingin mencium tanganmu tapi aku takut kamu marah dan gak jadi nikah sama aku," ucap Ken jujur.
Shila tertawa kecil, "saya tidak akan marah selama masih dalam batas wajar."
"Saya tidak mungkin merusak sesuatu yang saya sayangi," ucap Ken sambil mengelus punggung tangan Shila.
"Kapan kami siap nikah?" tanya Ken.
"Setelah misi saya selesai," sahut Shila.
"Berapa lama?" tanya Ken lagi.
"Tidak tahu tapi saya targetkan selesai bulan depan," jelas Shila.
__ADS_1
"Baiklah, saya akan menunggu," ucap Ken.
Di kediaman Elma.
Rendy dan Liana sudah tiba di rumah mamanya.
"Sayang, tumben kesini gak ngabarin dulu?" tanya Elma.
"Iya, Ma. Tadinya gak ada rencana mau kesini," ucap Rendy.
"Lalu?" (Elma)
"Tadi Liana pingsan dan setelah diperiksa oleh dokter, katanya Liana sedang hamil," ucap Rendy.
Liana hanya diam sambil menahan air matanya agar tidak jatuh dari pelupuknya.
"Apa? Liana hamil." Elma memeluk Liana dengan penuh kebahagiaan.
Raut wajah Elma terlihat berbinar saat mendengar kabar bahwa menantu satu-satunya sedang mengandung darah daging putranya.
"Mam, kami mau tinggal disini sekitar satu mingguan. Boleh kan? aku belum mengerti bagaimana cara mengurus wanita hamil jadi aku mau belajar sama Mama dan Liana juga belum tahu apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh wanita hamil," ucap Rendy panjang lebar.
"Mama bahagia kalau kalian tinggal disini, mau selamanya juga boleh, sayang," ucap Elma penuh kebahagiaan.
"Andai, Mama tahu yang sebenarnya," ucap Liana didalam hatinya.
Sore hari entah kenapa tiba-tiba Liana ingin jalan-jalan di taman karena kondisi Liana sangat mengkhawatirkan Rendy tidak kembali ke kantor dan memilih menemani sang istri.
"Sayang kamu mau kemana?" tanya Elma saat melihat Liana berjalan keluar rumah.
"Aku mau jalan-jalan di taman, gak jauh dari sini kok, Ma," ucap Liana.
"Rendy mana? minta dia yang menemani kamu," ucap Elma.
"Aku pergi sendiri saja, Ma lagian mas Rendy mungkin lelah karena akhir-akhir ini banyak kerjaan," jelas Liana.
Sebenarnya Liana tidak ingin ditemani oleh laki-laki yang sudah sangat menyakiti hatinya ia lebih memilih untuk pergi sendiri.
Sam mulai mengemudikan mobilnya saat Liana sudah berada didalam mobil!
__ADS_1
"Sam kamu punya pacar atau istri?" tanya Liana.
"Tidak," sahut Sam singkat.
"Kenapa?" tanya Liana lagi.
"Saya takut tidak membahagiakan wanita yang sudah mencintai saya," jelasnya.
"Sam jangan katakan masalah aku dengan Rendy kepada siapapun apalagi sama Mama," ucap Liana kepada Sam, ia tak ingin orang lain tahu tentang kehancuran rumah tangganya.
"Baik," sahut Sam singkat.
Tak lama mereka tiba di taman yang dituju. Liana segera turun dari mobil lalu mulai menyusuri taman itu!
Seperti biasa Sam hanya berdiri ditempat yang agak jauh dari Liana sembari terus mengawasi majikannya itu.
"Liana," ucap Satya yang kebetulan berada di taman itu juga.
Liana hanya tersenyum menanggapi panggilan dari Satya.
Satya berjalan membersamai Liana!
"Sendirian?" tanya Satya.
"Ditemani bodyguard," sahut Liana.
"Boleh aku temani?" tanya Satya lagi.
"Tentu, kalau kamu gak ada kesibukan," ucap Liana.
"Aku sudah selesai bekerja," ucap Satya.
Liana dan Satya duduk bersebelahan di kursi taman.
"Liana ... ." (Satya)
Baru Satya ingin berkata lagi, Rendy datang menghampiri mereka sambil menatap Satya tajam.
Bersambung
__ADS_1