Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 49


__ADS_3

"Leon!"


Elvan meraih kepala Leon lalu meletakannya di atas pahanya!


"Van, tinggalkan aku disini. Tolong kamu selamatkan Shania, Shania diculik," ucap Leon dengan suara yang hampir tidak terdengar.


"Nggak, aku gak bisa ninggalin kamu. Ayo kita ke rumah sakit!"


Elvan membiarkan Leon terbaring di atas aspal lalu ia berlari untuk mengambil mobilnya!


Elvan segera membawa mobilnya ke dekat Leon!


Setelah Elvan menghentikan mobilnya, Ia segera membawa tubuh Leon masuk ke dalam mobilnya!


"Bertahanlah Leon, aku akan membawamu ke rumah sakit."


Elvan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi!


Tak lama Elvan tiba di rumah sakit, Elvan segera dibantu oleh petugas untuk membawa Leon ke ruangan IGD!


"Van, tinggalkan aku di sini. Tolong selamatkan Shania, dia sedang hamil," ucap Leon dengan nada lirih.


"Aku pasti menyelamatkan Shania dan juga calon bayimu. Bertahanlah demi keluarga kecilmu."


Setelah Leon dibawa ke ruang IGD, Elvan segera menelpon orang tuanya Leon.


πŸ“ž "Halo, Van," ucap Liana dari sebrang telepon.


πŸ“ž "Halo, Mama, Leon kecelakaan sekarang dia ada di rumah sakit xxx. Mama cepat kesini karena aku ada urusan yang lain," ucap Elvan tanpa basa-basi.


πŸ“ž "Apa! Leon kecelakaan? Mama sama Papa ke sana sekarang."


πŸ“ž "Cepat ya, Ma."


Elvan memutuskan sambungan teleponnya lalu ia segera pergi untuk mencari Shania.


...****************...


Para preman itu menyekap Shania di sebuah gubug yang terletak jauh dari pemukiman warga.


"Lepaskan aku!"


Shania berteriak sambil terus menangis.


"Lo pasti akan kita lepaskan, tapi itu nanti."


"Siapa kalian, apa mau kalian?"


"Lo gak perlu tahu siapa kita. Yang jelas lo gak akan bisa lepas dari tempat ini."


Para preman itu tertawa terbahak-bahak. Setelah puas tertawa mereka pergi meninggalkan Shania dengan keadaan tangan dan kaki yang terikat!


"Tolong!"


"Tolong!"


Shania terus berteriak meminta tolong meski ia tahu tidak akan ada orang yang mendengar suaranya karena tempat itu berada di tempat yang sangat jauh dari pemukiman warga.


...****************...


Elvan sedang dalam perjalanan menuju tempat terjadinya penyerangan terhadap Leon bersamaan dengan menghilangnya, Shania!


"Shania sedang hamil," gumam Elvan.


Elvan terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai ke tempat yang ia tuju!


"Kemana aku harus mencari Shania? Semoga Shania baik-baik saja."


Saat sedang kebingungan, tiba-tiba Elvan teringat dengan pekerjaan Mamanya dahulu.


"Mama, aku harus minta tolong sama, Mama," gumam Elvan.


Tanpa pikir panjang Elvan memutar balikkan mobilnya menuju rumahnya!

__ADS_1


Elvan menambah kecepatan mobilnya hingga mencapai batas maksimal! Tak butuh waktu lama, akhirnya Elvan tiba di rumahnya.


Elvan berjalan dengan sedikit berlari memasuki rumahnya sembari terus berteriak memanggil Mamanya!


"Ma!"


"Mama!" Teriak Elvan.


"Ada apa, Van? Kenapa teriak-teriak?" ucap Shila.


Elvan berjalan menghampiri Mamanya lalu menggenggam tangan Mamanya! Raut wajah penuh kekhawatiran terpancar dari wajah Elvan.


"Ma, tolong. Tolong Shania!" ucap Elvan sembari mengguncang-guncangkan tangan Shila.


"Sayang kamu tenang dulu, ada apa? Apa yang terjadi dengan Shania?"


"Ma, Shania diculik. Tolong bantu aku untuk mencari dia."


"Leon kemana?"


"Leon di rumah sakit. Keadaannya kritis."


"Apa! Ya udah, kamu tenang, Nak. Pertama kamu antar Mama ke tempat kejadian itu ya."


"Iya, Ma."


Shila mengganti pakaiannya lalu meraih tasnya dari atas meja yang ada didalam kamarnya! Tak lupa ia membawa ponselnya.


Elvan dan Shila pun memulai pencarian dari titik awal terjadinya pertarungan antara Leon dan para penculik itu.


...****************...


Liana dan Rendy berlari memasuki rumah sakit yang diberitahukan oleh Elvan.


"Suster, dimana pasien kecelakaan atas nama Leon?" tanya Liana kepada seorang petugas rumah sakit itu.


"Beliau masih dalam penanganan dokter di ruangan IGD, Bu."


Liana segera berlari menuju pintu ruangan IGD untuk menunggu kabar dari dokter.


"Pa, Leon." Tangis Liana semakin pecah.


"Ma, tenang dulu. Leon pasti baik-baik saja, kita doa kan yang terbaik untuk anak kita ya."


Rendy memeluk sang istri dengan penuh cinta.


"Mama takut Leon kenapa-kenapa."


"Tidak, Mama berdoa saja semoga Leon selamat."


Rendy terus berusaha menguatkan Liana padahal dalam hatinya ia juga merasa takut akan terjadi apa-apa terhadap putra satu-satunya itu.


"Pa, Shania? Apa dia sudah tahu?" Tiba-tiba Liana teringat dengan Shania.


"Papa telpon Shania dulu ya, Ma!"


Rendy mengambil ponselnya dari dalam saku celananya!


Rendy langsung menelpon menantunya itu tapi tidak ada jawaban darinya hingga beberapa kali menelponnya tetap tidak ada respon dari Shania.


"Shania tidak mengangkat telepon dari Papa," ucap Rendy.


"Ya Allah, jangan-jangan ...."


"Suut, jangan berburuk sangka dulu, mungkin Shania sedang ada kesibukan sehingga dia tidak mendengar suara ponselnya."


Tak lama seorang dokter keluar dari ruangan IGD!


Liana dan Rendy segera berjalan menghampiri dokter itu!


"Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Liana.


"Anda–"

__ADS_1


"Saya orang tuanya, dok," ucap Liana memotong perkataan dokter itu.


Dokter itu tidak langsung menjawab pertanyaan Liana, ia menatap Liana sejenak lalu beralih menatap Rendy.


Dokter itu menarik nafasnya panjang lalu membuangnya perlahan.


"Pasien kritis," ucap dokter itu.


Bak disambar petir di siang bolong, tiba-tiba Liana merasakan sesak di dadanya dan jantungnya pun terasa berhenti berdetak.


"Tidak mungkin. Anak saya pasti baik-baik saja, Anda pasti sedang bercanda kan?"


Tangis Liana semakin deras setelah tahu kalau putranya sedang kritis.


"Mama, Mama tenang dulu." Rendy memeluk sang istri mencoba untuk menenangkannya.


...****************...


Di tempat kejadian.


Shila dan Elvan sedang mencari petunjuk siapa yang melakukan penyerangan terhadap Leon dan penculikan terhadap Shania.


"Apa tidak ada saksi mata yang melihat kejadian tadi?" ucap Shila.


"Sepertinya tidak ada, karena pas aku datang ke sini, tempat ini sepi."


Shila menatap sekeliling mencoba membangunkan instingnya yang lama tertidur. Saat itu di tempat itu sudah banyak wartawan dan beberapa polisi yang menyelidiki kejadian itu, orang-orang pun berkerumun untuk melihat apa yang sedang terjadi.


"Pak, Anda adalah keluarga korban. Boleh kami tahu kondisi Pak Leon saat ini?" tanya salah satu wartawan kepada Elvan.


"Maaf, saya belum bisa memberikan informasi apa-apa. Wawancaranya lain kali saja," ucap Elvan.


Elvan dan Shila memilih pergi dari tempat itu karena tidak ingin ditanya-tanya oleh wartawan!


"Sepertinya, Mama harus bekerja keras untuk menemukan Shania.


"Tolong cepat temukan, Shania, Ma. Aku takut terjadi apa-apa sama dia, dia lagi hamil."


"Apa! Shania hamil?"


"Iya, Ma."


"Kenapa harus disaat seperti ini? Disaat yang bersamaan Mama dapat berita duka dan bahagia."


"Semoga Shania baik-baik saja ya, Ma."


"Semoga saja. Mama akan melakukan yang terbaik untuk Shania."


...****************...


"Dokter, tolong selamatkan anak saya, berapapun biayanya akan saya bayar yang penting anak saya selamat," ucap Liana kepada dokter itu.


"Kami sudah melakukan yang terbaik untuk pasien, Bu tapi masalahnya ini bukan tentang uang tapi tentang takdir hidup manusia. Kita doa kan yang terbaik untuk pasien, semoga saja bisa melewati masa kritisnya," ucap dokter itu lalu pergi meninggal Rendy dan Liana.


Liana menangis dipelukan Rendy, ia tak kuasa menahan kesedihannya.


"Pa, kenapa bisa jadi seperti ini," lirih Liana.


...****************...


πŸ“ž "Halo, kerjaan kami sudah selesai," ucap preman itu memberi kabar kepada Jacky lewat sambungan telepon.


πŸ“ž "Bagus. Jangan biarkan wanita itu kabur," ucap Jacky dari sebrang telepon.


πŸ“ž "Kami tidak bisa menyekapnya lama-lama karena takut menimbulkan kecurigaan."


πŸ“ž "Buang saja wanita itu ke tempat yang jauh dari perkotaan yang tidak mungkin dia bisa kembali."


πŸ“ž "Beres, Bos o, ya Bos. Anak buah gue menabrak si Leon sampai dia tidak sadarkan diri," jelas preman itu.


πŸ“ž "Bagus, kalau bisa mati saja sekalian."


Setelah puas dengan laporan dari preman itu, Jacky menutup teleponnya secara sepihak.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2