Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 54


__ADS_3

Rendy menghentikan mobilnya di tepi jalan. Ia memijat pelipisnya pelan.


Entah kenapa bayangan Jenny dan Liana terus melintas dipikirannya.


Antara Liana dan Jenny, keduanya memiliki sifat berbeda dan memiliki perlakuan yang berbeda saat sedang bersama Rendy.


"Jenny, kenapa kamu kembali disaat aku sudah memiliki Liana," lirih Rendy sembari terus memijat pelipisnya.


Saat ini waktu baru menunjukkan pukul 14:22 wib.


Rendy memutuskan untuk pulang ke rumah, ia ingin memastikan perasaannya kepada Liana apakah benar ia sudah benar-benar mencintai Liana.


Rendy melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi ia ingin cepat bertemu dengan istrinya untuk mengetahui apakah ia masih merasakan getaran cinta saat memeluk Liana setelah ia tahu Jenny ingin kembali padanya.


Tak perlu menunggu lama, Rendy sudah tiba di halaman rumahnya.


Rendy berjalan memasuki rumah sambil berusaha bersikap biasa saja didepan Liana.


Rendy mengedarkan pandangannya ke sekeliling namun ia tak mendapati sosok Liana, ia melanjutkan langkahnya menuju kamar!


Saat Rendy tiba di kamar ia mendapati Liana sedang berdiri di balkon kamarnya sambil memandang ke arah luar.


Rendy berjalan perlahan lalu memeluk Liana dari belakang!


"Lagi liatin apa?" ucap Rendy sembari mencium leher belakang Liana.


Liana memegang tangan Rendy yang melingkar di perutnya!


"Mas, kamu ... ?"


"Iya sayang, hari ini aku pulang lebih awal karena gak tahu kenapa aku sangat merindukanmu," ucap Rendy sembari mengeratkan pelukannya.


"Gombal," ucap Liana dengan senyum manisnya.


"Serius, sayang." Rendy memutar balikkan badan Liana hingga mereka berhadapan.


Rendy menangkup pipi Liana dengan kedua tangannya lalu memainkan bibir istrinya itu.


"Ini yang bikin aku kangen," ucapnya sembari terus memainkan bibir Liana dengan jari tangannya.


Rendy mencium bibir itu dengan lembut sambil memeluk Liana dengan penuh cinta.


"Aku mencintaimu Li. Ya, aku yakin kalau aku benar-benar mencintaimu," ucap Rendy didalam hatinya.


Rendy melepaskan ciumannya tapi ia tak melepaskan pelukannya.


"Aku gak tahu kenapa aku bisa serindu ini, padahal setiap hari kita bertemu," ucap Rendy.


"Ish, gombal terus," ucap Liana dengan senyumnya.


"Bukan gombal. Aku serius," ucap Rendy sembari terus memeluk sang istri.


Liana hanya tersenyum menanggapi ucapan sang suami.


"Sayang, kita liburan yuk!" ucap Rendy.


"Kemana?" Liana mengalungkan tangannya di pundak Rendy.


"Kemana aja yang kamu mau," ucap Rendy dengan tangan yang terus melingkar di pinggang Liana.


"Bukannya sekarang kamu lagi sibuk di kantor?" ucap Liana.


"Iya."


"Kenapa ngajak liburan?" Liana menatap sang suami penuh tanya.

__ADS_1


"Aku ingin kita menghabiskan waktu berdua hanya berdua tanpa diganggu oleh Ken dan segudang pekerjaan di kantor," jelas Rendy.


"Mmmm." Liana berpikir sejenak.


"Aku tidak ingin ada penolakan," ucap Rendy.


"Ish, maksa." Liana mengerucutkan bibirnya beberapa centi.


Rendy membelai rambut Liana mesra.


"Maafkan aku karena masih menyimpan nama Jenny dihati ini," ucap Rendy didalam hatinya.


Di kantor.


Ken bolak-balik ke ruangan Rendy untuk menemui kakaknya itu, namun ternyata Rendy belum kembali ke kantor.


"Kemana anak itu?" ucap Ken lirih.


"Pak Ken, kenapa berdiri disitu?" ucap Diana yang hendak ke ruangan bosnya.


"Eh Di. Saya lagi nyari pak Rendy. Kamu liat dia gak?" ucap Ken.


"Tidak, Pak. Ini saya mau ke ruangan pak Rendy," ucap Diana.


"Gitu ya. Kamu kembali kerja lagi aja biar saya yang nyari pak Rendy," ucap Ken kepada Diana.


Setelah Diana pergi, Ken melangkahkan kakinya menuju ruangannya!


Ken meraih ponselnya dari meja kerjanya ia mencoba menghubungi Rendy.


Tak lama Rendy menerima panggilan telepon dari Ken.


📞 "Kenapa Ken?" ucap Rendy dari sebrang telepon.


📞 "Lo dimana?" ucap Ken.


Ken menggeram kesal.


📞 "Lo bisa gak sih, konsisten sama kerjaan dulu?" ucap Ken kesal lalu ia memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


"Tuh anak ngeselin banget." Ken menggerutu sambil menyala laptopnya.


Ken mulai kembali fokus pada pekerjaannya, pandangannya tak lepas dari layar laptopnya sesekali ia mengecek berkas yang ada diatas meja kerjanya.


Karena terlalu fokus Ken tak menyadari ada seseorang yang memperhatikannya dari ambang pintu.


Dua wanita beda usia itu memperhatikan Ken dengan penuh kekaguman.


Elma tersenyum bahagia melihat putranya yang sedang serius mengerjakan pekerjaannya.


Dibelakang Elma ada Shila yang menatap Ken penuh kekaguman, tak disadari sebuah senyuman terukir di bibirnya.


"Ken." Elma memanggil putranya sembari berjalan menghampiri Ken dengan senyum manis yang menghiasi bibirnya.


Pandangan Ken beralih kearah suara.


"Mama. Kapan datang?" ucap Ken.


"Dari tadi," ucap Elma.


"Mau ngapain, Mama kesini?" tanya Ken.


"Katanya kamu kangen sama Mama? Mama kesini untuk menemui kamu," ucap Elma dengan senyum manisnya.


Ken tersenyum bahagia saat mendengar ucapan mamanya.

__ADS_1


"Terimakasih," ucap Ken sembari memeluk Elma.


"Jangan berterimakasih, Mama tidak melakukan apa-apa untukmu," ucap Elma sembari mengelus bahu Ken penuh cinta.


"Dimana kakakmu?" Elma bertanya kepada Ken.


"Di rumahnya," ucap Ken singkat.


"Di rumah?" Elma mengulang perkataan Ken, "Rendy tidak ke kantor?" sambung Elma.


"Ke kantor, tapi dia pulang pas waktu makan siang," jelas Ken.


"Kenapa? Rendy sakit?" Elma mulai khawatir kepada putra pertamanya.


"Iya sakit. Sakit rindu," jawab Ken.


Elma dibuat bingung oleh perkataan Ken barusan. Ia mengernyitkan dahinya lalu berkata, "maksudnya?"


"Kak Rendy pulang karena katanya dia rindu sama Liana," jelas Ken lagi.


"Shila, kamu disini juga?" ucap Ken saat melihat Shila berdiri diambang pintu.


"Eh, Mama sampai lupa sama Shila," ucap Elma sambil tersenyum menyembunyikan rasa malu.


"Sini Shil, masuk!" ucap Ken.


Shila tersenyum lalu melangkahkan kakinya menghampiri Ken dan Elma.


"Maaf, Shil saya lupa ngajak kamu masuk kesini," ucap Elma yang merasa tidak enak hati kepada bodyguardnya itu.


"Tidak apa-apa, Bu. Saya mengerti," ucap Shila dengan senyum ramahnya.


"Shil, kebetulan kamu kesini, aku perlu bicara empat mata denganmu," ucap Ken tanpa menghiraukan adanya Elma diantara mereka.


"Tapi, Pak."


"Ken kalau suka, bilang aja," ucap Elma dengan senyumannya.


"Pendekatan dulu, Mam," ucap Ken.


Shila tersenyum, "bisa saja dia beralasan." Shila berucap didalam hatinya.


"Kamu ini." Elma memukul lengan atas Ken pelan.


"Boleh kan, Mam. Aku ajak Shila jalan?" ucapan Ken.


"Kalau Shila nya mau, Mama pasti izinin," ucap Elma.


"Gimana Shil, Mama udah ngizinin. Tinggal kamunya mau gak jalan sama aku?" ucap Ken dengan penuh harap.


"Baiklah, saya mau."


"Kebetulan besok hari minggu. Gimana kalau besok kita pergi berdua?" ucap Ken kepada Shila.


Shila terdiam tak menjawab ucapan Kendra.


"Mam, boleh kan aku pinjam Shila dari pagi sampai sore?" Ken bertanya kepada mamanya.


"Tergantung Shila, sayang. Mama cuma ngizinin Shila pergi sama kamu, soal lama atau tidaknya itu urusan Shila sama kamu nanti," jelas Elma.


Bersambung.


Mampir ke Terpaksa Menikah juga ya teman-teman.


__ADS_1



__ADS_2