Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 34


__ADS_3

"Sayang, kapan kita pulang? uang kita sudah menipis," ucap seorang wanita yang tengah berlibur di luar negeri.


"Secepatnya," jawab laki-laki itu singkat.


Sepasang kekasih yang bersekongkol untuk meraup uang milik Rendy itu mulai kehabisan uang.


Uang hasil curiannya dari perusahaan milik Rendy sudah mulai habis dipakai berfoya-foya.


Sepasang kekasih itu menggunakan hasil curiannya untuk berlibur dan membeli barang-barang branded merek ternama.


"Apa Rendy ada menghubungimu?" tanya Bram kepada Jenny kekasihnya.


"Tidak," saut Jenny singkat.


"Benarkah? sepertinya akan sulit untukmu masuk kembali ke kehidupan Rendy," ucap Bram, terlihat diwajahnya ada kekhawatiran.


"Tidak pernah aku terima panggilan telepon dari laki-laki bodoh itu." Jenny tergelak, "kenapa kamu menanggapinya dengan serius? laki-laki bodoh itu sering menelponku bahkan sampai puluhan kali dalam sehari," sambung Jenny.


"Kenapa tidak kau terima panggilan telepon darinya?" tanya Bram kepada Jenny.


"Sayang, aku tidak ingin ada yang menganggu kebersamaan kita," ucap Jenny sembari bergelut manja dipangkuan kekasihnya itu.


"Lagipula, aku sengaja tidak mengangkat telepon darinya. Karena setelah aku kembali, aku akan mengatakan padanya kalau aku diculik," ucap Jenny lagi.


Jenny memang pintar mencari alasan keahliannya dalam merayu laki-laki juga sangat membantunya untuk mendapatkan hati orang yang ia inginkan.


Apalagi selama ini Rendy sangat mencintai dan menyayanginya. Dengan berpura-pura diculik, akan memudahkan ia untuk kembali masuk kedalam kehidupan Rendy.


"Kau memang pintar, sayang," ucap Bram seraya memainkan bibit Jenny dengan ibu jarinya.


Jenny tersenyum, "aku belajar semua itu darimu," ucap Jenny.


Sepasang kekasih itu asyik bercumbu mesra, tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka.


Wanita yang sedang mengawasi Jenny dan Bram dari kejauhan itu, mencoba mengambil gambar Jenny dan Bram.


Setelah wanita pengintai itu mendapatkan gambar yang ia inginkan, ia segera mengirim foto itu kepada Ken yang kini berada di tanah air.


"Sayang, apakah Rendy sudah pernah mencicipi ini?" tanya Bram sembari terus memainkan bibir Jenny dengan ibu jarinya.


"Kalau iya kenapa dan kalau tidak kenapa?" Jenny bertanya balik kepada Bram.


"Tidak kenapa-napa. Aku hanya bertanya, mungkin saja laki-laki itu sudah pernah mencumbuimu," ucap Bram.


"Laki-laki itu memang bodohnya kebangetan, sayang. Sama sekali dia tidak pernah melakukannya bahkan dia suka menyuruhku untuk mengenakan pakaian yang tertutup," jelas Jenny.


"Benarkah? apa mungkin dia tidak normal? masa melihat cewek secantik kamu gak pengen sesuatu gitu." Bram dan Jenny tergeletak.

__ADS_1


Bagaikan dunia milik berdua, pasangan kekasih itu terus bercumbu mesra di depan umum tanpa menghiraukan orang-orang yang sesekali melirik ke arah mereka.


Jenny memang pintar merayu dan mencari alasan dia juga pandai berbohong. Bodohnya, dia meninggalkan laki-laki yang sangat mencintainya demi laki-laki bajingan yang hanya merusak tubuhnya saja.


Di tanah air.


Ken baru selesai dengan pekerjaannya, ia segera bersiap untuk pulang.


Baru beberapa langkah dari pintu ruangannya, Ken mendapat notifikasi di aplikasi berwana hijau di ponselnya.


Ken segera membuka pesan dari nomor yang ia beri nama Markonah itu, sengaja Ken memberi nama asisten rumah tangganya agar Rendy tidak curiga.


Ken membuka gambar yang dikirim oleh wanita pengintai itu, seketika Ken terkejut melihat gambar orang yang berada di foto itu.


Ken mengepalkan tangannya, "kurangajar!" ucap Ken, rahangnya mengerat sampai gemeltuk giginya yang beradu satu sama lain, terdengar dengan jelas.


Ken menulis pesan untuk Markonah.


["Terus awasi pergerakan mereka. cari bukti sebanyak mungkin,"] kirim.


Setelah pesan yang ia kirim dibaca oleh Markonah, Ken segera menghapus pesan itu agar tak dilihat oleh Rendy. Sebelum menghapus pesan itu, tak lupa ia menyalin gambar yang dikirim oleh Markonah ke memory card rahasia.


Ken melanjutkan langkah menuju parkiran!


"Ken!" teriak Liana.


Ken menoleh ke arah suara, "Liana. Ada apa?" tanyanya.


"Memangnya, suamimu kemana?" tanya Ken.


Tidak biasanya Rendy membiarkan istrinya pulang bersama orang lain.


Pikiran Ken sudah menuju hal-hal yang tidak baik, sedetik kemudian ia menepis pikiran kurang baiknya itu karena ia tahu kalau Jenny masih di luar negeri.


"Katanya dia ada urusan. Aku gak mau ikut dia, jadi aku pulang sama kamu aja," ucap Liana kepala Ken.


"Owh. Yaudah, ayo aku antar kamu pulang," ucap Ken.


Ken dan Liana berjalan beriringan menuju mobil, Ken.


Saat keduanya hendak masuk kedalam mobil, terdengar suara Rendy yang berteriak memanggil nama Liana.


"Liana! Li! tunggu!" teriak Rendy sembari berlari menghampiri Liana dan Ken.


Liana dan Ken menoleh ke arah suara!


"Ada apa?" tanya Liana kepada Rendy setelah suaminya itu berada di depannya.

__ADS_1


"Nanti aku pulang agak malam. Kamu ikut aja sama aku, aku khawatir kalau kamu sendiri di rumah," ucap Rendy dengan penulis rasa khawatir.


"Di rumah banyak orang. Ada asisten rumah tangga ada tukang kebun ada supir kamu dan pelayan-pelayan yang lainnya," ucap Liana.


"Aku tidak percaya sama mereka," ucap Rendy dengan tangan yang menggenggam erat tangan Liana.


Saat ini masih ada Jenny yang menempati posisi teratas dihatinya Rendy, namun entah kenapa Rendy juga mulai merasakan adanya getaran tak kasat mata yang berdesir kuat saat ia bersama Liana.


"Li, kamu ikut aja sama Rendy. Biar dia gak gelisah saat mengurus urusannya," ucap Ken yang dari tadi berdiri didepan pintu mobilnya.


"Tapi aku capek. Hari ini orang ini sudah membuat aku bekerja keras," ucap Liana sembari menunjuk kearah Rendy.


"Maksud kamu?" tanya Ken penuh rasa penasaran.


Selama ini Rendy tidak pernah menyuruh Jenny bekerja, lantas kenapa sekarang bosnya itu menyuruh istrinya bekerja.


Ken masih berdiri ditempat semula ia menunggu jawaban dari Liana ataupun Rendy.


"Tadi kita berdua latihan menjadi pasangan suami istri sungguhan," ucap Rendy.


Ken menggelengkan kepalanya, bisa-bisanya dua orang didepannya itu bersikap aneh. Mereka sudah menikah sudah sah secara agama dan negara, masih aja dua orang ini bersikap seolah masih pacaran.


"Dasar aneh," ucap Ken lalu ia masuk kedalam mobilnya, "Li, mau ikut suamimu atau mau aku antar pulang?" sambung Ken lagi.


"Mas, aku pulang aja sama Ken ya. Nanti biar dia aja yang jagain aku di rumah," ucapan Liana kepada suaminya.


"Kamu mau kan, Ken jagain aku di rumah?" tanya Liana kepada Ken.


Agar Rendy tidak mengkhawatirkannya, Liana meminta Ken untuk menjaganya di rumah selama suaminya belum pulang ke rumah.


"Jadi bodyguard dadakan. Aku siap, asal ada perhitungannya aja," ucap Ken sembari tersenyum.


"Ah elu Ken matre banget jadi adik. nanti gue bayar jasa elu dengan cewek yang cantik buat jadi istri lu," ucap Rendy sembari menggoda adiknya itu.


"Cewek lagi cewek lagi yang dibahas, jadi males. Li, kamu mau pulang sama aku atau tidak? udara disini mulai panas," ucapan Ken dengan nada dinginnya.


Liana tersenyum, kakak beradik ini memang selalu bercanda satu sama lain.


"Aku pulang sama kamu aja. Mas boleh ya," ucap Liana sembari masuk kedalam mobil Ken.


"Minta izin tapi udah masuk mobil, yaudah pulang sana. Ingat jangan nakal di rumah ya sayang," ucap Rendy sembari mengedipkan matanya kearah Liana.


Bersambung.


Rekomendasi novel yang bagus untuk kalian baca.


Judul : Mendadak Nikah

__ADS_1


Karya : Dara



__ADS_2