Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 124


__ADS_3

Satu minggu sudah berlalu.


Shila sudah berhasil menangkap Sonny dan enam anak buahnya namun ia belum melakukan tindakan lebih lanjut karena akan melanjutkan misi selanjutnya.


Shila menyekap mereka di tempat yang berbeda-beda agar mereka tidak mudah melarikan diri.


Di suatu ruangan, Shila sedang bertanya-tanya kepada Sonny untuk menggali informasi untuk melancarkan misi selanjutnya.


"Dibayar berapa lo sama mereka?" tanya Shila.


"Puluhan juta," sahut Sonny jujur.


Laki-laki yang memiliki kekuasaan di padar dan ditakuti oleh banyak preman dan banyak orang itu tak dapat berkutik dihadapan seorang wanita yang nampak biasa saja namun berbahaya itu.


"Siapa saja yang membayar lo untuk pekerjaan kotor yang sering lo lakukan?" tanya Shila lagi.


"Banyak. Sudah tak terhitung," sahut Sonny.


"Enaknya lo diapain ya? mau langsung dimatiin atau masuk penjara dulu atau gue lakukan apa yang sudah lo lakukan terhadap orang-orang yang sudah lo lukai?" ucap Shila sembari duduk tenang dihadapan Sonny.


"J_jangan. Jangan bunuh saya, saya bersedia melakukan apapun asal jangan bunuh saya," ucap Sonny yang mulai panik.


"Sayangnya gue gak butuh bantuan dari lo,"


Duarr!


Bunyi letusan terdengar setelah Shila menarik pelatuk senjata apinya.


Di tempat lain.

__ADS_1


"Jenny, untuk dua hari kedepan aku gak bisa menemuimu," ucap Rendy yang berdiri membelakangi Jenny.


Jenny melangkah beberapa langkah untuk mensejajarkan posisinya dengan Rendy!


"Kenapa?" tanya Jenny.


"Aku ada acara. Karyawan kantor juga aku liburkan selama dua hari," jelas Rendy.


"Acara apa? segitu pentingnya sehingga kantor sampai ditutup?" tanya Jenny penasaran.


"Liana hamil. Mama memintaku untuk merayakan kehamilan Liana dan dia minta agar aku pergi liburan bersama Liana," jelas Rendy lagi.


"Apa! Liana hamil?" Jenny terkejut mendengar pernyataan Rendy.


"Kamu tidak pernah menyentuhku meski aku menawarkannya untukmu. Sekarang malah kamu membuat wanita itu hamil!" Jenny berkata sembari memukul lengan Rendy tanpa henti.


"Aku terpaksa melakukannya. Mama terus mendesak meminta cucu. Jenny-Jenny, kamu percaya kan sama aku? aku mencintaimu selalu mencintaimu," ucap Rendy sembari merangkul Jenny.


"Aku mencintaimu, aku mencintaimu Rendy. Kenapa kamu tega melakukan ini padaku," lirih Jenny disela tangisnya.


"Maaf. Setelah Liana melahirkan aku akan menceraikannya dan kita akan menikah," ucap Rendy sembari mengusap air mata yang mengalir membasahi pipi Jenny.


Jenny menangis di pelukan Rendy sedangkan Rendy membiarkan menangis di pelukannya.


Rendy mengelus punggung Jenny berharap kekasihnya bisa sedikit lebih tenang.


Jenny tersenyum, dalam hatinya ia merasa bahagia karena memiliki peluang untuk melancarkan rencana busuknya.


"Pergi saja yang lama, Rendy. Agar aku lebih leluasa meraup hartamu," ucap Jenny didalam hatinya.

__ADS_1


Jenny mengeratkan pelukannya dan membenamkan kepalanya ke leher Rendy!


"Aku akan menunggu hari itu. Hari dimana kamu meninggalkan wanita itu demi memperjuangkan cinta kita," ucap Jenny.


"Hari itu akan tiba. Kita akan menyambut kebahagian kita saat Liana angkat kaki dari rumahku," sahut Rendy sembari terus mengelus punggung Jenny.


Di tempat lain.


Banyak orang berkerumun di tepi jalan raya. Merasa penasaran, Satya menepikan mobilnya lalu melihat ada apakah di sebrang jalan sana!


"Permisi, Pak. Ada apa ya?" tanya Satya kepada seorang bapak-bapak.


"Ada wanita pingsan. Warga mau membawanya ke rumah sakit," ucap bapak itu.


"Oh, terimakasih ya, Pak."


Satya berjalan menghampiri kerumunan itu, untuk memastikan apakah ia mengenal orang yang pingsan itu!


Satya melihat sekilas wanita yang sedang dikerumuni oleh warga itu.


"Liana!" ucap Satya.


Orang-orang yang mengerumuni Liana menatap Satya secara bersamaan.


"Anda mengenalnya?" tanya ibu yang tengah menopang kepala Liana dengan pahanya.


"Dia teman saya."


Satya segera memangku Liana membawanya ke dalam mobilnya untuk segera dilarikan ke rumah sakit!

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2