
Di rumahnya, Rio belum bisa tidur. Kepalanya dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum sempat ia tanyakan kepada Biani.
Saat di kantor polisi Rio melihat Biani dan Mamanya seperti sudah saling kenal dan sepertinya mereka sudah kenal lama.
"Siapa Leon dan siapa Shania di kehidupannya Biani?" gumam Rio.
Rio berdiri di balkon lantai dua rumahnya tangannya memegang pagar tralis dan pandangannya lurus ke depan, entah apa yang sedang ia pandangi.
Rio begitu penasaran dengan hubungan apa diantara keluarga Leon dan keluarga Biani.
"Kak! Melamun saja," ucap Galang yang baru tiba di tempat itu.
Rio menoleh ke arah Galang!
"Kamu belum tidur?" tanya Rio.
"Belum. Aku tidak bisa tidur."
"Kenapa?"
"Gara-gara cewek."
"Cewek? Kenapa, kamu ditolak?"
"Tidak," sahut Galang singkat.
"Lalu kenapa? Kenapa kamu bisa sampai tidak bisa tidur?"
"Kak, seumur-umur aku gak pernah nemuin cewek seperti dia."
"Seperti apa? Apa dia terlihat seperti monster, sehingga membuat kamu tidak bisa tidur?"
"Aku serius Kak. Dia itu cantik." Galang bercerita sembari membayangkan wajah Biani.
"Dia terlihat seperti mudah untuk didapatkan namun ternyata butuh perjuangan keras untuk mendapatkan nya. Dia seperti burung merpati, terlihat jinak tapi saat akan ditangkap dengan sigap dia akan terbang menjauh," ucap Galang.
"Rupanya kamu sedang jatuh cinta," ucap Rio.
"Sepertinya begitu kak. Aku baru pertama merasakan mencintai gadis sampai sebesar ini."
"Heh ingat ya, kuliah mu belum selesai," ucap Rio sembari mencubit lengan Galang.
"Awwh! Sakit Kak. Aku tahu aku belum selesai kuliah lagian dia juga masih kuliah kok."
"Teman kampus mu?"
"Bukan. Aku tidak tahu dia kuliah di mana yang pasti dia masih kuliah."
"Kamu kenal di mana sama dia? Kok bisa-bisanya jatuh cinta sama orang yang tidak kamu kenal dengan baik."
"Aku kenal sama dia di ...." Galang tidak melanjutkan ucapannya.
Tidak mungkin Galang mengatakan kalau gadis yang ia sukai adalah pelayan di kafe milik kakaknya.
Dalam pikiran Galang, dia takut kalau kakaknya tidak akan mendukungnya karena gadis yang disukainya hanyalah seorang pelayan kafe yang keadaannya tidak sepadan dengan keluarga mereka.
"Kenal di mana?" tanya Rio lagi.
"Di mall kak. Kebetulan dia itu anak tetangganya temanku, makanya aku tahu sedikit tentang dia."
"Oh begitu. Ingat, mencintai seseorang boleh-boleh saja asal kamu tahu batasannya. Kamu masih muda perjalanan hidupmu masih panjang. Jangan sampai hidupmu hancur hanya karena seorang gadis," jelas Rio.
"Aku sudah dewasa, Kak aku tahu aku harus apa dan harus bagaimana."
"Baguslah." Rio menepuk-nepuk punggung adiknya itu!
"Kakak mau tidur. Kamu udah selesai kan curhatnya?"
"Sebenarnya masih banyak yang harus aku bicarakan tapi karena kakak sudah mengantuk, ya sudahlah kita bicara lain kali saja," ucap Galang.
"Oke, lain kali kakak akan menjadi pendengar yang baik untukmu."
"Tentu saja kakak harus menjadi pendengar yang baik untukku karena aku juga selalu menjadi pendengar yang baik untukmu juga kan."
__ADS_1
Rio tertawa kecil lalu meninggalkan Galang di tempat itu!
Galang menatap punggung kakaknya sampai kakaknya itu masuk ke dalam kamarnya.
"Dia adalah kakak sekaligus teman yang baik untukku," gumam Galang.
Galang berjalan memasuki kamarnya! Di dalam kamarnya dia menatap foto Biani didalam ponselnya.
Rio memotret Biani dengan kamera ponselnya secara diam-diam karena tidak mungkin dia meminta izin pada Biani untuk memotret nya, karena sudah bisa dipastikan Biani tidak akan mengizinkan galang untuk memotret nya.
...****************...
Pagi hari.
Jenny sudah berada di kantor polisi, dia sedang menjenguk putranya yang sedang menjalani hukuman.
"Jacky, bagaimana keadaan mu, Nak?" ucap Jenny pada putranya.
"Aku baik-baik saja, Ma. Mama tidak perlu khawatir," sahut Jacky.
"Mama rindu sekali padamu."
"Aku juga sangat merindukan Mama dan juga Biani. Bagaimana kabar Biani, Ma?"
"Dia baik-baik saja. Dia titip salam untukmu, adikmu tidak bisa ke sini karena dia harus bekerja."
"Tidak apa-apa, Ma aku tahu dan aku juga mengerti dengan keadaannya."
"Lain kali dia pasti ke sini untuk menemui dirimu."
"Tidak ke sini juga tidak apa-apa, Ma. Mendengar dia sehat saja aku sudah sangat bersyukur."
"Maaf ya, Nak. Mama gak bisa bantu kamu untuk keluar dari sini, Mama gak punya uang untuk membayar pengacara."
"Ma. Mama tidak perlu melakukan itu, aku memang bersalah, aku pantas dihukum."
"Waktu kalian sudah habis," ucap seorang polisi yang berjaga.
"Pak tolong beri kami waktu sebentar lagi saja," ucap Jenny.
"Saudara Jacky ayo kembali ke tempat mu!"
Jacky tidak melakukan penolakan, dia berdiri lalu mulai melangkahkan kakinya.
"Mama baik-baik ya, di rumah," ucap Jacky sebelum dia pergi meninggalkan Mamanya.
Jenny menegang tangan Jacky dan perlahan terlepas begitu saja seiring menjauh nya Jacky dari dirinya.
Jenny menangis melihat Jacky akan kembali terkurung dalam jeruji besi yang sempit dan terasa dingin saat malam hari.
Karena tidak bisa berbicara lagi dengan Jacky, Jenny meninggalkan kantor polisi itu dengan perasaan sedih yang sangat dalam!
...****************...
"Datang terlambat lagi," ucap Elvan pada Leon.
Saat itu hari sudah mulai memasuki tengah hari, namun Leon baru tiba di kantornya.
Leon tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maaf, aku kesiangan," ucap Leon.
"Memangnya gak pasang alarm?"
"Pasang, tapi gak kedengaran karena semalam aku tidur dinihari jadinya pas pagi aku tidur pulas."
"Jangan kebanyakan bergadang, gak baik untuk kesehatan."
"Aku tahu tapi karena Shania sedang hamil dia suka minta ini dan itu yang membuat terpaksa aku harus tetap melek di malam hari."
Elvan tertawa kecil. "Rasain, siapa suruh bikin Shania hamil."
"Sekarang kamu bisa bilang gitu sama aku, sebentar lagi juga kamu akan merasakan bagaimana menghadapi wanita yang sedang hamil. Aku doakan semoga Kayla ngidamnya lebih parah dari Shania."
__ADS_1
"Doa mu gak akan dikabulkan oleh Tuhan, karena doa mu jelek."
Leon tertawa. "Aku kerja dulu, Van. Kalau bicara sama kamu gak akan ada habisnya."
Leon berjalan memasuki ruangannya!
Elvan menggelengkan kepalanya sambil menatap Leon.
"Anak itu," gumam Elvan.
...****************...
Di rumah sakit, Rio tak hentinya melihat jam di tangannya. Dia tidak sabar menunggu saat jam makan siang karena ia ingin segera bertemu dengan Biani.
"Waktu, kalau ditunggu jalannya lama banget," gumam Rio.
"Ngapain nungguin waktu?" ucap teman Rio.
"Aku ada keperluan saat jam makan siang," sahut Rio.
"Keperluan apa? Sampai kamu gak sabar nunggu jam dua belas siang."
"Rahasia. Kamu gak perlu tahu."
"Ya, terserah kamu saja. Lagi pula nanti juga aku tahu sendiri."
Rio tak berucap lagi dia meraih ponselnya lalu menelpon Biani.
Berkali-kali Rio mencoba menghubungi Biani dengan menelponnya, namun Biani tidak menerima telepon darinya.
Rio berdecak kesal sembari meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya.
"Cewek ya?" tanya temannya Rio yang berprofesi sebagai dokter itu.
"Kalau iya, kenapa?"
"Tidak. Mungkin saja dia sedang bersama yang lain."
"Kamu jadi teman nyebelin banget ya."
"Aku bercanda. Mungkin saja dia sedang sibuk dengan pekerjaannya."
Rio terdiam lalu melihat jam di tangannya lagi.
"Mungkin saja," ucap Rio singkat.
...****************...
"Biani," ucap Galang.
Biani tidak merespon Galang, dia terus melakukan pekerjaannya.
"Biani, kamu sombong banget sih. Maafkan aku ya."
"Maaf untuk apa?" tanya Biani sambil terus membersihkan meja bekas pengunjung kafe.
"Kemarin aku sudah membuatmu–"
"Aku sudah memaafkan kamu. Lupakan saja tentang itu."
"Bi, aku mau ...."
Belum sempat Galang menyelesaikan perkataannya, Biani meninggalkan Galang begitu saja!
Indah dan teman-temannya yang melihat kejadian itu merasa heran kepada Biani. Kenapa gadis itu menolak Galang padahal mereka ingin sekali dekat dengan Galang namun tidak mempunyai kesempatan untuk itu.
"Biani, aneh banget. Gue pengen banget dekat sama Galang, lah dia di dekati sama Galang malah terus menghindar," ucap salah satu temannya Biani.
"Iya, aku juga heran sama tuh anak. Apa mungkin dia punya pacar?" ucap Indah.
"Kalau punya pacar pasti kalau pulang kerja di jemput sama pacarnya," ucap temannya yang lain lagi.
"Iya juga ya."
__ADS_1
Teman-temannya Biani menatap Galang yang masih berdiri mematung dengan tatapan yang terus tertuju pada Biani.
Bersambung