Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 58


__ADS_3

"Aku rasa semua perempuan pasti bisa bersikap lemah lembut," ucap Shila.


"Kenapa begitu?" tanya Ken.


"Karena memang sudah kodratnya wanita seperti itu, kalau seorang wanita tidak bisa bersikap lembut, bagaimana mereka mengurus suami dan anak-anaknya yang memang menguras kesabaran," jelas Shila panjang lebar.


"Kok kamu tahu, kamu kan belum nikah?" Ken bertanya lagi.


"Memang belum. Aku punya ibu dan ibuku lah yang mengajarkan aku tentang semua itu," sahut Shila.


Ken tersenyum sembari menatap Shila, "Kamu punya pacar?" tanyanya.


Shila balik menatap Kendra, "Punya."


Ken terdiam sesaat lalu bertanya lagi.


"Pacarmu gak marah, kamu jalan sama aku?"


"Marah lah. Kalau dia tahu aku jalan sama laki-laki mungkin dia pasti meninta laki-laki itu untuk menikahiku," ucap Shila.


Ken menautkan kedua alisnya. Ia merasa aneh dan tidak percaya dengan apa yang diucapkan Shila.


"Ayahku adalah satu-satunya pacar yang aku punya. Dia cinta pertamaku," ucap Shila lagi.


Ken tertawa kecil, "kamu bisa aja."


Shila hanya menanggapi ucapan Ken dengan senyuman.


"Kamu pernah punya pacar?" tanya Ken.


"Pernah. Tapi kandas ditengah jalan," sahut Shila jujur.


Shila memang pernah memiliki hubungan dengan seorang laki-laki namun hubungannya putus ditengah jalan.


"Maaf," ucap Ken.


Shila tersenyum dalam hati yang pilu karena mengingat masa lalu yang memilukan.


"Tidak masalah, itu hanya masa lalu," ucap Shila


Shila berdiri lalu berjalan lebih dekat lagi ke tepi danau!


"Mau menemaniku makan siang?" ucap Ken sembari menyusul Shila.


"Boleh," jawab Shila singkat.


Ken menggenggam tangan Shila lalu menariknya membawa Shila ke mobilnya.


"Masuk!" ucap Ken setelah membukakan pintu mobilnya untuk Shila.


"Terimakasih," ucap Shila dengan senyum yang selalu menghiasi bibirnya.


Di mall tempat Rendy dan Liana berkunjung.


Liana berdiri didepan toko yang baru ia kunjungi sembari sesekali menatap kedepan berharap suaminya segera menemuinya.


Tak lama Rendy tiba di tempat itu dengan membawa sesuatu ditangannya.


Rendy terus berjalan menghampiri istri tercintanya tak lupa senyum manis ia suguhkan untuk Liana.


"Lama banget," ucap Liana.


"Maaf," ucap Rendy, "I love you!" sambung Rendy sembari memberikan setangkai bunga mawar merah.


Liana tersenyum lalu menerima bunga itu dari tangan sang suami.

__ADS_1


"Terimakasih. I love you to," sahut Liana.


"Makan?" ucap Rendy.


"Boleh," sahut Liana singkat.


Rendy dan Liana berjalan bergandengan menuju restoran yang ada di mall terebut!


Setelah tiba di tempat mereka ingin makan siang, Liana melihat ada bodyguard kakeknya berdiri di salah satu sudut ruangan restoran itu.


Liana menghentikan langkahnya sembari menarik tangan sang suami!


"Ada apa?" tanya Rendy.


"Itu bodyguardnya kakek," sahut Liana.


"Kita makan di tempat lain saja ya," ucap Rendy sembari menggenggam erat tangan Liana.


"Nona muda!" ucap salah satu bodyguardnya Ridwan yang melihat keberadaan Liana.


Ridwan menatap bodyguardnya yang memanggil cucunya.


"Dimana dia?" tanyanya.


Bodyguard itu menunjuk ke arah Liana dan Rendy.


Ridwan beranjak dari duduknya dan mulai melangkahkan kakinya untuk mengejar Liana dan suaminya.


Beberapa bodyguard itu mengikuti Ridwan dari belakang untuk berjaga-jaga kalau Ridwan butuh pertolongan.


Merasa diikuti oleh kakeknya Liana dan Rendy berjalan cepat bahkan keduanya harus berlari agar tidak terkejar oleh Ridwan.


"Lewat sini!" ucap Rendy sembari menarik tangan Liana ke tempat yang ramai orang-orang untuk mengecoh pandangan Ridwan.


"Mas, jangan buat keributan disini. Secepatnya kita harus keluar dari tempat ini," ucap Liana.


Ridwan berdiri mematung, ia tak melihat kemana Liana dan suaminya pergi.


"Kenapa tuan?" tanya salah satu bodyguard Ridwan karena melihat tuannya hanya diam tanpa pergerakan.


"Saya kehilangan jejak Liana. Kalian menyebar! cari dimana cucuku berada," ucap Ridwan.


Tanpa menjawab perintah dari tuannya, para bodyguard itu bergerak cepat mencari Liana.


"Liana, kakek ingin bertemu. Kakek ingin meminta maaf padamu," lirih Ridwan didalam hatinya.


Rendy dan Liana terus berjalan menjauhi Ridwan dan orang-orangnya.


Setelah Rendy dan Liana tiba di tempat parkir. Seseorang berlari menuju Rendy dan Liana!


"Nona, tolong temui kakek anda," ucapnya dengan nafas terengah-engah.


"Ternyata kamu bodyguardnya kakek," ucap Liana.


"Tidak. Liana tidak akan menemui kakeknya," ucap Rendy.


"Tolong tuan muda, tuan besar sangat ingin bertemu dengan nona," jelas orang itu.


"Aku tidak ingin menemui kakek. Katakan padanya aku tidak ingin dijodohkan dengan orang pilihannya," ucap Liana.


Tiba-tiba beberapa orang menghampiri mereka dari beberapa titik.


"Sepertinya kita diserang," ucap Rendy.


Liana mengedarkan pandangannya ke sekeliling, memang benar orang-orangnya Ridwan tengah mengepung mereka.

__ADS_1


"Aku tidak ingin tertangkap," ucap Liana.


"Kamu tentang, sayang. Kita pasti akan lolos dari mereka," ucap Rendy mencoba menenangkan istrinya, padahal sebenarnya ia juga tidak yakin apakah mereka bisa lepas atau tidak dari orang-orangnya Ridwan.


Karena jumlah mereka banyak, tidak mungkin Rendy dan Liana melawan mereka. Rendy memutar otaknya memikirkan bagaimana cara agar ia bisa membawa sang istri pergi dari tempat itu.


"Ikuti aku, yank!" Rendy berlari sambil terus menggenggam tangan Liana.


Liana terus mengikuti langkah kemana arah suaminya membawanya pergi!


"Liana kamu bisa berlari lebih cepat lagi?" tanya Rendy sembari terus berlari.


"Tentu. Aku bisa berlari lebih cepat dari ini," sahut Liana.


"Nona! jangan mencoba kabur!" para bodyguard Ridwan mengejar Rendy dan Liana dengan kecepatan penuh.


Tiba disebuah lorong, Rendy dan Liana dicegat oleh beberapa orang yang mungkin mereka juga adalah orang-orangnya Ridwan.


Rendy menghentikan langkahnya! "Siapa mereka?"


"Aku tidak tahu," sahut Liana.


"Kita tidak bisa mundur, atau kakek mu akan menangkapmu," ucap Rendy.


"Kita lawan mereka," ucap Liana.


Rendy dan Liana terus melangkah menghampiri orang-orang yang mencoba menghalangi jalan mereka sambil terus berjaga-jaga kalau ada serangan mendadak.


"Siapa kalian, apa yang kalian inginkan?" seru Rendy.


"Nona muda. Kami menginginkannya," ucap salah satu dari mereka.


"Sudah kuduga, mereka pasti orang suruhan kakek," ucap Liana.


"Kamu siap?" tanya Rendy kepada Liana.


Liana hanya menganggukkan kepalanya.


"Lari!" ucap Rendy.


Liana berlari melewati beberapa orang itu sambil sesekali menyerang mereka dengan pukulan sementara Rendy masih melawan mereka dengan sekuat tenaga karena orang-orang yang mengejarnya tadi sudah tiba di tempat itu dan ikut menyerangnya.


Perkelahian tak dapat terhindarkan, Rendy dan Liana tak ingin menyerah meski jumlah orang-orang itu lebih banyak dari mereka.


Rendy dan Liana mulai kewalahan menangani orang-orang yang memang jumlah mereka berkali-kali lipat dari mereka.


Rendy jatuh tersungkur terkena pukulan dari salah satu bodyguard Ridwan.


"Mas!" teriak Liana.


Rendy bangkit lagi, ia tidak ingin Liana tertangkap karena ia tidak ingin kehilangan istri yang ia cintai.


"Jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik saja," ucap Rendy.


"Mas," lirih Liana sembari mengusap sudut bibir Rendy yang mengeluarkan darah.


Orang-orang itu tak menyerang Rendy dan Liana lagi, mereka hanya memandangi keduanya dengan tatapan penuh penyesalan.


"Liana," ucap Ridwan.


Rendy dan Liana menatap kearah suara.


"Kakek," lirih Liana.


"Sudah kukatakan, jangan lukai cucuku!" teriak Ridwan pada semua bodyguardnya.

__ADS_1


Para bodyguard itu hanya menundukkan kepala, mereka sadar akan kesalahan yang mereka perbuat.


Bersambung.


__ADS_2