
Beberapa hari berlalu kini Shania sudah pulang dari rumah sakit, kondisinya sudah semakin membaik luka-luka pada tubuhnya pun sudah mulai sembuh. Saat ini Shania dan Leon sedang berada di rumahnya, hubungan mereka semakin membaik setelah Leon tahu bahwa Shania adalah gadis yang baik yang tidak pernah menyimpan dendam kepada siapapun berbeda dengan Biani yang menghalalkan segala cara untuk menggapai keinginannya.
Seiring berjalannya waktu Leon mulai menyukai Shania dan mulai melupakan Biani yang selama ini ia cintai.
Meski Leon sudah mencintai Shania namun, Leon belum mengungkapkan isi hatinya kepada Shania karena belum mendapatkan waktu yang tepat.
"Shania, jangan banyak gerak dulu ingat kata dokter kamu harus banyak beristirahat," ucap Leon kepada Shania.
"Aku hanya menyapu lantai kamu tidak perlu khawatir, Leon."
"Hari ini asisten rumah tangga kita akan datang," ucap Leon.
"Apa? Untuk apa asisten rumah tangga? Aku bisa melakukan pekerjaan rumah sendiri."
"Aku tahu tapi masa putrinya pengusaha terkenal harus mengerjakan pekerjaan rumah sendiri," ucap Leon.
Shania tersenyum dalam diam.
"Kenapa baru sekarang kamu cari asisten rumah tangga, kenapa gak dari dulu saja kamu cari asisten rumah tangga untuk mengerjakan pekerjaan rumah? Apa kamu sudah puas melihat aku kelelahan mengurus rumah sebesar ini, Leon?" ucap Shania didalam hatinya.
"Shania!" ucap Leon sembari menjentikkan jarinya di depan wajah Shania.
"Iya, Leon. Ada apa?"
"Kok kamu malah bengong, mikirin apa?"
Shania tersenyum tipis. "Nggak ada, aku hanya membayangkan kalau punya asisten rumah tangga, apa yang akan aku kerjakan nanti."
"Ya, kamu ngurus aku lah."
Shania tertawa kecil. "Kamu bisa aja."
...****************...
Jenny sedang berkumpul di ruang keluarga bersama kedua anaknya. Mereka sedang berbincang ria bersama, bercerita tentang hari-hari yang sudah mereka lewati.
Keluarga itu sangat harmonis meski anggota keluarga mereka tidak lengkap tanpa seorang ayah sebagai kepala rumah tangga mereka.
Tok!
Tok!
Tok!
"Permisi!"
Saat mereka sedang berbincang terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Jenny, Biani dan Jacky menatap ke arah pintu!
"Siapa yang datang?" ucap Jacky.
"Tamu, Kak gak mungkin aku kan," ucap Biani.
Jenny berjalan menuju pintu rumahnya untuk melihat siapa yang bertamu ke rumahnya!
Jenny membuka pintu dan langsung nampak dua orang polisi berdiri tegap di depan pintu rumahnya.
"Selamat sore, Bu."
"Selamat sore. Ada keperluan apa ya Pak?" ucap Jenny.
"Apa benar ini kediaman saudari Biani?" tanya polisi itu.
"Iya, Pak. Saya Ibunya Biani."
"Kami datang untuk menangkap saudari Biani atas tuduhan melakukan percobaan pembunuh. Ini surat perintah kami."
Polisi itu memperlihatkan surat perintah penangkapan terhadap Biani.
"A_apa, tidak mungkin, Pak. Anda pasti salah orang, anak saya tidak mungkin melakukan hal itu," ucap Jenny.
"Siapa yang datang, Ma?" ucap Jacky sembari berjalan menghampiri Mamanya.
Jacky terkejut saat melihatmu polisi yang datang ke rumahnya. Dalam hatinya ia berpikir polisi itu pasti akan menangkapnya karena sudah membuat Leon kecelakaan.
Jenny menangis, air matanya tak terbendung lagi.
"Kami harap Anda tidak menghalangi tugas kami."
Polisi itu masuk ke dalam rumah itu lalu memborgol Biani yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Pak, saya gak bersalah, saya tidak tahu apa-apa," ucap Biani sembari memberontak.
"Pak! Pak! Tolong jangan bawa adik saya. Kalian pasti salah orang," ucap Jacky mencoba mencegah polisi agar tidak membawa Biani.
__ADS_1
"Lebih baik Anda datang ke kantor polisi untuk mengetahui informasi lebih jelasnya."
Dua polisi itu membawa Biani dengan paksa!
"Saya tidak mau ikut ke kantor polisi! Saya tidak mau dipenjara! Saya tidak melakukan apa-apa!" Biani terus memberontak karena tak ingin dipenjara.
"Biani!" teriak Jenny sembari mengejar Biani.
Jacky berlari mengejar Biani dan polisi itu!
"Pak, tolong lepaskan adik saya. Dia tidak mungkin berbuat kriminal." Jacky terus memohon agar Biani tidak dibawa ke kantor polisi.
Dua polisi itu tidak menghiraukan Jacky dan Jenny yang memohon kepadanya.
Polisi itu membawa Biani masuk kedalam mobilnya lalu meninggalkan kediaman Biani!
Jenny terjatuh karena lelah berlari, dia terduduk di aspal sembari terus menangis dengan pandangan yang terus mengarah ke mobil polisi yang membawa putrinya pergi.
"Biani!" Teriak Jenny.
Jacky merangkul Mamanya!
"Mama jangan menangis, aku yakin Biani tidak bersalah, aku yakin polisi itu salah orang," ucap Jacky.
Jacky membawa Jenny masuk ke dalam rumahnya agar tidak menjadi tontonan tetangga!
"Gak nyangka ya anaknya Bu Jenny ternyata orang jahat."
"Iya, saya juga gak nyangka, padahal selama ini Biani gadis yang baik dan ramah."
"Orang yang terlihat baik dari luar belum tentu hatinya baik, Bu."
Para tetangganya Jenny yang melihat kejadian itu terus membicarakan Biani dan keluarganya.
"Ayo kita ke kantor polisi untuk menjelaskan kepada mereka kalau Biani tidak bersalah," ucap Jacky kepada Jenny.
Jacky menyalakan mesin motornya lalu mulai melajukan motornya dengan kecepatan rendah.
Jenny yang duduk di belakang Jacky terus menangis, air matanya tak bisa berhenti sebelum ia bisa menemui Biani dan membawa Biani pulang.
...****************...
"Leon, kamu mau kemana?" tanya Elvan.
"Papa memintaku untuk mengantarnya ke kantor polisi," sahut Leon.
"Iya."
"Mau ngapain?"
"Aku juga gak tahu. Papa bilang aku akan tahu nanti saat tiba di kantor polisi."
"Jangan-jangan kamu melakukan kekerasan dalam rumah tangga, terus Papa melaporkan kamu ke polisi," ucap Elvan dengan tawa kecil.
"Enak saja. Meski aku gak cinta sama Shania, aku tidak pernah menyakiti fisiknya."
"Iya, karena kamu memilih menyakiti perasaannya," celetuk Elvan.
Leon terdiam, ia merasa tertampar dengan perkataan yang Elvan lontarkan padanya.
"Aku memang melakukan itu." ucap Leon didalam hatinya.
Leon mengakui perbuatannya terhadap Shania, ia memang pernah berkata kasar dan menghina Shania diawal pernikahan mereka.
"Aku hanya bercanda Leon. Kenapa dibawa serius?" ucap Elvan karena Leon terus terdiam.
Leon tersenyum tipis yang dipaksakan. "Aku pergi dulu ya Van!"
Leon pergi meninggalkan Elvan di tempat itu!
...****************...
Di kantor polisi, Biani sudah ditahan di ruang tahanan.
"Pak! Saya tidak bersalah, tolong lepaskan saya!" Biani berteriak dari dalam sel tahanan.
Tak lama Jacky dan Jenny tiba di kantor polisi itu. Mereka segera memasuki area kantor kepolisian itu!
"Pak, kenapa putri saya ditahan?"
Jenny bertanya kepada polisi yang duduk didepannya.
Jenny memang tidak tahu dengan apa yang sudah Biani lakukan sehingga putrinya itu bisa terjerat hukum.
Jacky yang duduk disebelah Jenny, terus mengelus punggung Mamanya agar bisa berbicara dengan tenang.
__ADS_1
"Saudari Biani telah melakukan percobaan pembunuhan terhadap saudari Shania sebanyak dua kali," jelas polisi itu.
Tangisan Jenny semakin tidak bisa dihentikan setelah mendengar pernyataan dari polisi itu.
"Tidak mungkin, Pak. Tidak mungkin."
Jenny menyusupkan wajahnya di dada Jacky!
"Mama tenang dulu. Kita belum tahu detail kasusnya."
Jacky merangkul Jenny dengan sebelah tangannya.
Tak lama Rendy dan Leon tiba di kantor polisi itu. Mereka berjalan menghampiri seorang polisi yang sedang berbicara dengan dua orang yang duduk di depan meja kerjanya.
"Selamat sore, Pak!" ucap Rendy kepada polisi itu.
Jenny yang merasa tidak asing dengan suara itu menoleh kebelakang untuk melihat pemilik suara itu.
"Rendy," gumam Jenny dengan suara parau.
"Pak Rendy, kami sudah melakukan penangkapan terhadap saudari Biani. Untuk memastikan kami tidak salah orang, silahkan temui tersangka."
Polisi itu mengarahkan tangannya ke arah ruang tahanan tempat Biani ditahan.
Leon berdiri mematung ditempat pertama ia menginjakkan kakinya.
Leon tidak percaya kalau Papanya melaporkan Biani ke polisi.
Rendy berjalan menuju ruang tahanan!
"Leon tolong cabut laporan kamu, Tante mohon," ucap Jenny.
Leon tidak menghiraukan Jenny yang berbicara padanya, pandangannya tertuju pada Biani yang sedang menangis dibalik jeruji besi.
"Lo pasti memberikan laporan palsu kan? Gak mungkin Biani melakukan kejahatan seperti itu," ucap Jacky.
Leon menggelengkan kepalanya. "Bukan aku yang melaporkan Biani."
Leon merasa kasihan melihat Biani, ia tidak tega melihat kekasihnya harus tidur dalam dinginnya sel tahanan.
Leon berjalan menghampiri Biani yang sedang menangis!
Rendy sudah memastikan bahwa polisi tidak salah menangkap orang, dia kembali untuk berbicara dengan polisi.
"Papa yang melaporkan Biani," ucap Rendy saat berpapasan dengan Leon.
Leon terus berjalan mendekati Biani!
"Leon, maafkan aku, aku menyesal. Tolong bebaskan aku dari sini," ucap Biani disela tangisnya.
Leon menggenggam tangan Biani yang sedang memegangi pagar besi yang memisahkan mereka.
"Bukan aku yang melaporkan kamu, Bi tapi Papa," ucap Leon.
Dalam tatapan Leon masih ada cinta untuk Biani yang membuatnya terlihat sangat terpukul melihat kekasihnya harus dipenjara.
Jacky menghampiri Leon untuk meminta Leon agar membebaskan Biani dari penjara!
"Leon, gue mohon lepaskan Biani, gue akan menggantikan posisi Biani didalam penjara jika memang Biani bersalah," ucap Jacky.
Di tempat yang agak jauh dari mereka, Jenny dan Rendy sedang berbicara.
"Rendy, tolong jangan penjarakan Biani, aku mohon."
Jenny menyatukan kedua tangannya memohon kepada Rendy.
"Tidak bisa, Jenny. Aku tidak ingin putrimu melukai menantuku lagi."
Rendy berucap tanpa menatap Jenny.
"Aku mohon Rendy. Biani melakukan itu karena dia mencintai Leon."
"Aku tidak menyetujui hubungan Leon dengan Biani karena Biani adalah anakmu Jenny. Aku takut Biani akan melakukan seperti yang kamu lakukan padaku dan ternyata ketakutan ku itu benar. Biani melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan meski dia harus membunuh seseorang, sama seperti dirimu."
"Biani tidak seperti itu, anakku tidak seperti itu. Rendy aku tahu dulu aku sudah banyak berbuat salah padamu, maafkan aku atas kesalahan yang pernah aku perbuat. Tolong jangan samakan Biani dengan aku yang dulu."
"Tapi memang kenyataannya begitu Jenny!"
Leon dan Jacky berdiri dibelakang mereka.
Leon dan Jacky mendengar dengan jelas percakapan diantara orang tuanya itu.
"Jadi itu alasannya, Papa tidak merestui aku dengan Biani," ucap Leon.
Rendy dan Jenny berbalik badan! Kini mereka menghadap Leon dan Jacky.
__ADS_1
Bersambung