Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
bab 48


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 19:25 wib.


Rendy baru tiba dirumahnya.


"Baru pulang, mas?" tanya Liana yang sudah menunggu suaminya sejak beberapa jam lalu.


"Kamu kangen?" Rendy balik bertanya kepada Liana.


"Ish." Liana mengerucutkan bibirnya beberapa centi.


"Tadi aku ada urusan sebentar sama Ken makannya aku telat pulang," ucap Rendy.


"Kenapa gak kasih kabar? aku khawatir sama kamu," ucap Liana.


"Udah sayang ya? takut kehilangan aku ya? gak bisa jauh dari aku ya?" cerocos Rendy.


"Aih pedenya kebanyakan," ucap Liana.


"Aku capek, peluk dong kali aja capeknya ilang," ucap Rendy sembari merentangkan kedua tangannya.


"Nanti setelah kamu mandi," ucap Liana lalu ia pergi ke kamar Rendy yang kini telah menjadi kamarnya juga.


Rendy mengekor dibelakang Liana sambil terus menggoda istrinya itu.


Setelah sampai di kamar. Rendy mengedarkan pandangannya kesetiap sudut ruangan.


"Kamu udah selesai mindahin barang-barang kamu?" tanya Rendy setelah melihat kamarnya berubah tampilannya.


"Udah," saut Liana singkat.


"Untung kamarku luas, jadi bisa nampung pakaian dan barang-barang kamu yang banyaknya seperti di pusat perbelanjaan," ucap Rendy.


Liana tersenyum, "Kalau boleh aku mintak ruangan khusus untuk menyimpan semua ini."


"Buat kamu apa sih yang gak boleh," ucap Rendy.


"Serius?"


"Ya," ucap Rendy singkat.


"Makasih!" Liana berhamburan memeluk Rendy.


"Katanya peluknya nanti setelah aku mandi malah kamu nyosor duluan," ucap Rendy dengan tawa kecilnya.


Liana melepaskan tangannya yang melingkar ditubuh Rendy!


"Terlalu bahagia," ucap Liana, wajahnya mulai berubah kemerahan karena malu.


"Gapapa, aku suka dipeluk sama kamu," ucap Rendy sembari mencolek dagu Liana.


Rendy segera pergi memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.


Lima belas menit sudah berlalu Rendy sudah selesai dengan ritual mandinya.


Rendy melangkahkan kakinya menghampiri istrinya yang sedang duduk dibibir ranjang sambil memainkan ponselnya.


"Peluk," ucap Rendy.


Liana menatap sang suami.


"Pakai dulu bajumu," ucap Liana karena Rendy hanya mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya.


"Begini lebih nikmat," ucap Rendy dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Ish kamu ini."


"Ayo dong sayang."


"Nggak."

__ADS_1


"Ayolah sayang." Rendy mendekati Liana.


"Mas."


Rendy terus mendekati istrinya hingga jarak diantara keduanya hanya tersisa sepersekian centi saja.


"M-mas." Liana mundur beberapa centi untuk memberi sedikit jarak diantara mereka namun Rendy tak mau mengalah ia terus mengikuti pergerakan Liana.


Liana terus bergerak mundur hingga ia tak bisa bergerak lagi karena punggungnya sudah menempel di kepala ranjang.


"Mau kemana lagi?" ucap Rendy sembari menaik turunkan alisnya.


Rendy menarik Liana kedalam pelukannya!


Jantung Liana berdegup lebih kencang kala wajahnya menempel di dada sang suamisuami tanpa adanya penghalang sedikitpun.


Rendy memeluk Liana erat dalam waktu yang cukup lama.


"Mas," ucap Liana sembari memberanikan diri untuk balas memeluk Rendy.


"Ya," saut Rendy.


"Janji ya, jangan melakukannya sekarang. Kita sudah sepakat untuk menunggu sampai dua minggu kedepan," ucap Liana.


"Iya aku janji." Rendy terus memeluk tubuh Liana.


Liana juga tak melepaskan pelukannya seakan ia menemukan kenyamanan disitu.


Keduanya sama-sama menikmati pelukan hangat yang mereka rasakan untuk yang pertama kalinya.


Tok! tok! tok!


Seseorang mengetuk pintu kamar mereka.


"Ganggu aja," ucap Rendy sembari melepaskan pelukannya.


Liana membuka pintu kamarnya dan nampak sosok asisten rumah tangganya.


Liana mengangguk paham. Asisten rumah tangganya pun kembali ke lantai utama untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Makan yuk," ucap Liana.


"Boleh, aku juga sudah laper," ucap Rendy.


Mereka berdua berjalan berdampingan menuju ruang makan!


Dikediaman Elma.


Shila sedang mengelilingi halaman rumah Elma untuk memastikan rumah majikannya sudah aman dari segala ancaman.


Elma menghampiri Shila yang sedang berdiri sambil mengedarkan pandangannya ke semua arah.


"Shil, besok Ken ngajak kamu makan siang," ucap Elma kepada Shila.


"Makan siang?" Shila berpura-pura seolah dirinya tidak tahu.


"Iya. Kamu mau kan nemenin Ken makan siang?" Elma bertanya lagi.


"Jika anda mengizinkan, saya bersedia untuk makan siang bersama tuan muda," ucap Shila.


"Kamu boleh pergi sebanyak dan selama yang kamu mau," ucap Elma.


"Terimakasih," ucap Shila.


"Shila, cepat istirahat biarkan mereka yang bertugas dimalam hari," ucap Elma sembari menunjuk beberapa bodyguardnya dan beberapa satpam.


"Baik, Bu."


Setelah mendengar ucapan Shila, Elma segera bergegas pergi meninggalkan Shila ditempat itu.

__ADS_1


Setelah memastikan Elma sudah tidak berada didekatnya, Shila mengirim pesan kepada Ke.


📩 "Besok saya pergi sendiri atau ada yang jemput saya kesini?" send.


📩 "Saya akan suruh orang untuk menjemput kamu." Send. Ken langsung membalas chat dari Shila.


📩 "Oke. Saya tunggu." (Shila)


📩 "Oke." (Ken)


Shila tak membalas lagi chat dari tuan mudanya, ia berjalan santai menuju kamarnya.


Sebuah senyuman ramah terukir dibibir Shila saat Shila melewati beberapa bodyguard.


"Aku duluan ya," ucap Shila dengan senyum ramahnya.


"Silakan," saut salah satu bodyguard itu.


Di kamar Shila.


Shila merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan perlahan ia pergi ke alam mimpi.


Di rumah Rendy.


Rendy dan Liana sudah selesai makan malam, Rendy pergi ke sebuah taman kecil yang ada di belakang rumahnya sedangkan Liana memilih langsung masuk kamar untuk beristirahat.


Setelah seharian memindahkan barang-barangnya, Liana merasa Lelah sehingga ia tidak bisa menemani suaminya di taman.


Setelah Liana berada di kamar, ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur, sesekali ia menatap kearah pintu berharap suaminya datang dan menemaninya tidur.


Namun setelah lima belas menit menunggu, Rendy tak kunjung datang dan akhirnya Liana tertidur pulas.


Setelah dua jam Rendy duduk dikursi taman sambil memandangi cerahnya langit dimalam itu. Rendy mulai merasa ngantuk, ia beranjak dari duduknya lalu mulai melangkahkan kakinya menyusul sang istri ke kamar.


Perlahan Rendy membuka pintu kamar karena ia tidak mau mengganggu tidur Liana.


Rendy menatap wajah Liana sekilas lalu membaringkan tubuhnya disamping Liana.


Rendy terus memandangi wajah sang istri hingga akhirnya ia menyusul sang istri ke alam mimpi.


Pagi telah tiba.


Liana sudah selesai menyiapkan sarapan untuk suaminya. Ia segera memanggil Rendy untuk segera saran.


"Sayang, kamu gak ikut ke kantor hari ini?" tanya Rendy saat melihat istrinya masih mengenakan pakaian santai.


"Tidak. Aku lelah mas, abis pindahan kemarin," saut Liana.


"Emang seharusnya kamu gak usah ikut ke kantor hari ini," ucap Rendy, namun Kata-kata itu hanya terucap didalam hatinya.


Hari ini Rendy akan bertemu dengan Shila untuk menanyakan tentang Jenny dan Bram, akan lebih baik jika Liana tidak mengetahui hal ini.


"Yakin?" ucap Rendy.


"Iya mas, aku yakin," saut Liana.


Rendy tersenyum tipis, "ayo kita sarapan."


Liana tak menjawab ucapan suaminya, ia berjalan menuju ruang makan lebih dahulu.


Setelah selesai sarapan, Rendy berpamitan kepada Liana kali ini Rendy tidak meminta cium ataupun pelukan.


Setelah Liana mencium punggung tangannya, Rendy segera berangkat ke kantor.


Bersambung.


Terimakasih sudah mampir disini.


Sambil nunggu Tiba-tiba menikah up lagi, mampir yuk ke karya temanku dijamin ceritanya seru.

__ADS_1




__ADS_2