
Shila dan tim yang lain mulai menyisir area yang telah ditentukan untuk tim masing-masing.
Rendy dan Liana ikut bergabung dengan tim Shila.
"Shil, aku cari kearah sana ya," ucap Liana sembari menunjukkan jarinya kearah sebuah pohon besar.
"Kita kesana bersama, saya tidak bisa membiarkan anda pergi sendiri," sahut Shila.
"Kamu mengkhawatirkan saya terlalu berlebihan," ucap Liana sambil terus berjalan menuju pohon besar itu.
"Pak Rendy yang meminta saya untuk menjaga anda. Sebenarnya lebih ke menemani sih, soalnya saya tahu anda bukan wanita biasa yang bisanya cuma bergantung kepada orang lain," ucap Shila sambil terus mengekor dibelakang Liana.
Tim lain sedang menyisir semua tempat tanpa terkecuali sambil berteriak memanggil nama Kendra!
Setelah hampir setengah hari melakukan pencarian namun belum ada titik terang dimana Ken berada.
Dibalik semak-semak Ken tergeletak tak sadarkan diri denyut nadinya semakin melemah karena ia kehabisan banyak darah.
"Sepertinya Ken tidak ada disini, mungkin Ken disembunyikan ditempat lain," ucap Rendy yang mulai putus asa.
"Feeling saya pak Kendra ada disekitaran sini," ucap Shila.
"Tapi sudah beberapa jam kita mencarinya tidak ada yang menemukan Ken," ucap Rendy.
"Saya minta waktu dua puluh menit lagi jika dalam waktu dua puluh menit saya tidak menemukan pak Ken kita pergi dari tempat ini dan mencari ketempat lain," ucapan Shila.
Rendy mengangguk menyetujui permintaan Shila.
"Menyebar kearah sana!" ucap Shila kepada semua personel timnya.
Orang-orang yang bergabung dalam tim Shila langsung mengikuti arahan dari Shila.
"Pak Ken, jika kita berjodoh kita akan bertemu hari ini dan saat ini juga," ucap Shila didalam hatinya.
Shila mulai melangkahkan kakinya bergerak mencari tuan mudanya. Kali ini ia menuruti kata hatinya, Shila melangkah kearah semak-semak yang berada sekitar sepuluh meter dari tempat ia berdiri.
"Kami sudah mencari kesana," ucap salah satu timnya.
"Saya ingin mengecek satu kali lagi," ucap Shila.
Entah kenapa feelingnya begitu kuat kalau Ken berada disana.
Baru berjalan sekitar enam meter atau lebih, Shila mencium bau darah yang mulai mengering, Shila mengendus bau darah itu lalu mencari dari mana asal aroma bau itu.
Shila berbalik arah, kini ia tak lagi menuju arah semak-semak yang ingin ia tuju, Shila berjalan menuju pohon besar yang diselimuti semak belukar! aroma amis darah tercium begitu kuat saat Shila tiba tepat dibawah pohon besar itu.
Shila mencari-cari asal aroma amis itu dan alangkah terkejutnya ia saat melihat Ken yang tak sadarkan diri dengan luka tusukan dibagian perutnya.
__ADS_1
"Pak Ken," ucap Shila.
Shila berusaha tetap tenang hal seperti ini memang sering ia alami sejak ia menekuni pekerjaan sebagai seorang pengintai atau penyelidik rahasia.
Shila segera mengecek denyut nadi Ken apakah masih ada kehidupan dalam diri Ken.
Shila menghela nafas lega setelah tahu Ken masih hidup.
"Pak Rendy! ... saya menemukan pak Ken!" teriak Shila.
Rendy dan semua tim yang mendengar suara Shila segera bergegas kearah suara Shila berasal!
"Syukurlah!" ucap Rendy sembari terus berjalan menghampiri Shila.
Rendy berjalan dengan sedikit berlari sambil terus menggenggam tangan Liana!
"Shila! kamu dimana?" ucap Liana berteriak.
"Disini!" Shila berteriak lagi sambil melambai-lambaikan tangannya.
"Sebelah sana!" ucap salah satu bodyguard yang bergabung dengan tim Shila.
Rendy, Liana dan beberapa bodyguard berlari kearah Shila!
Rendy langsung duduk disamping Ken yang sudah berada dipangkuan Shila.
"Cepat bawa Ken ke rumah sakit! dia harus selamat," ucap Rendy kepada bodyguardnya.
Beberes bodyguard menggotong tubuh Ken membawanya keluar dari hutan itu untuk segera dibawa ke rumah sakit.
"Lewat sini," ucap Shila memandu jalan pulang.
"Ken, kamu harus bertahan demi aku, demi mama," ucap Rendy yang sudah tak memperdulikan tubuhnya yang terluka karena goresan ranting dan semak-semak liar.
Setengah jam berlalu akhirnya mereka berhasil keluar dari hutan itu!
Mereka berjalan menghampiri mobil masing-masing!
"Biar sayang yang bawa Ken," ucapan Rendy sembari membuka pintu belakang mobilnya.
Tanpa menjawab ucapan Rendy tiga bodyguard itu langsung memasukkan tubuh Ken kedalam mobil Rendy!
"Shil, kamu temani Ken dibelakang," ucap Liana sembari bergegas masuk kedalam mobil suaminya.
Shila mengangguk lalu segera masuk kedalam mobil Rendy!
"Instruksikan semua tim untuk pulang karena pak Kendra sudah ditemukan," ucap Shila kepada salah satu bodyguard yang bergabung dengan timnya.
__ADS_1
Rendy segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan diatas rata-rata!
"Mas, hati-hati." Liana berucap sambil mengelus lengan atas sang suami.
"Ken harus cepat dibawa ke rumah sakit, aku tidak ingin dia kenapa-napa," ucap Rendy sembari terus berkendara dengan kecepatan tinggi.
Liana tak berucap lagi, ia mengerti dengan perasaan suaminya saat ini. Liana menoleh kebelakang menatap sahabatnya yang tengah berada diantara hidup dan mati.
"Ken, bertahan ya," ucap Liana sembari menatap Ken penuh kesedihan.
"Pak Kendra pasti selamat," ucap Shila yang sedang memangku kepala Ken sembari terus mengelusnya penuh kekhawatiran.
Diam-diam Shila mengecek denyut nadi Ken lagi, sebenarnya ia sudah tahu bahwa denyut nadi Ken semakin melemah dan sangat kecil kemungkinannya untuk Ken bisa selamat dari maut tapi ia mencoba untuk meyakinkan dirinya bahwasanya tian mudanya itu akan selamat.
Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam akhirnya mereka tiba di rumah sakit.
Ken segera dibawa ke ruang IGD untuk mendapatkan penanganan dokter sementara Rendy dengan yang lainnya menunggu di ruang tunggu yang tersedia di rumah sakit itu.
Tak lama Elma datang dengan tangis dan rasa kekhawatiran yang begitu besar terhadap putranya.
"Gimana keadaan Ken?" ucap Elma disela tangisnya.
"Kita belum tahu. Dokter masih menangani Ken," jelas Rendy.
Rendy memeluk Erat mamanya lalu mengusap-usap punggungnya.
"Mama jangan sedih, Ken pasti selamat," ucap Rendy.
Elma tak bisa berkata-kata lagi, ia menangis sesenggukan dipelukan putra pertamanya.
Seorang dokter keluar dari ruang IGD!
"Dokter bagaimana keadaannya?" tanya Shila kepada dokter yang menangani Ken.
"Anda keluarganya?" dokter itu bertanya balik.
"Kami keluarganya, Dok. Bagaimana keadaan putra saya?" ucap Elma.
"Pasien harus segera mendapatkan transfusi darah karena pasien kehabisan banyak darah tapi stok golongan darah yang cocok dengan pasien sudah habis jadi kami membutuhkan relawan untuk mendonorkan darahnya kepada pasien," jelas dokter itu.
Elma tak kuasa menahan tangisnya ia sangat takut kehilangan putranya.
"Cek darah saya saja dulu, kalau cocok saya bersedia mendonorkan darah saya," ucap Shila.
"Baiklah, mari ikut saya!" Dokter itu berjalan memasuki sebuah ruangan dengan diikuti oleh Shila dibelakangnya.
Bersambung
__ADS_1