
Shania sudah lemah tak berdaya, sudah dua hari ia disekap oleh para preman itu sudah dua hari pula ia tidak diberi makan dan diberi minum.
Share duduk di kursi dalam keadaan tubuh yang diikat pada kursi yang ia duduki. Tubuhnya tidak lagi bergerak dan ia juga tidak lagi berteriak meminta tolong, matanya tertutup, wajahnya terlihat pucat tapi ia masih memiliki kesadaran penuh hanya saja karena tidak mendapatkan asupan makanan, ia menjadi tidak memiliki tenaga lagi.
"Wanita itu sudah tidak berdaya. Kalau dia mati gimana?" ucap salah satu preman itu.
"Kalau dia mati, kita dapat bayaran lebih dari Bos Jacky," sahut preman yang satunya lagi.
"Kenapa kita gak bunuh saja perempuan ini."
"Jangan, biarkan dia tersiksa seperti itu," ucap ketua preman itu.
"Air, air," lirih Shania.
Suaranya sangat lemah sehingga sulit untuk didengar.
"Apa? Lo bilang apa?" ucap preman itu sembari mendekatkan telinganya ke wajah Shania.
"Air," lirih Shania.
Preman itu tertawa terbahak-bahak setelah mendengar suara Shania yang meminta air.
Shania sangat merasa kehausan dan kelaparan karena sudah dua hari tidak makan dan minum.
Seorang preman menyiram kepala Shania dengan satu botol air mineral sambil terus menertawakan Shania yang berusaha meminum sedikit demi sedikit air yang mengalir di pipinya.
...****************...
Di rumah sakit.
"Ma, apa sudah ada kabar dari Elvan?" tanya Leon dengan suara lemah.
"Mereka masih berusaha untuk menyelamatkan Shania. Kamu harus berjuang untuk sembuh, biar kamu bisa cepat ketemu lagi sama Shania."
"Aku udah sembuh, Ma, aku baik-baik saja."
Liana menangis sembari mengelus-elus rambut Leon.
"Mama tahu kamu pasti sembuh, sayang."
Air mata Liana menetes membasahi tangan Leon.
"Mama jangan nangis, aku baik-baik saja," ucapan Leon."
...****************...
"Bi, makan siang bareng sama aku. Mau gak?" ucap Rio.
"Eumm, sebenarnya aku ada keperluan lain tapi boleh deh. Anggap saja sebagai tanda terimakasih aku ke kamu karena kamu sudah menolong aku, waktu itu," sahut Biani.
"Nggak-nggak kalau kamu lagi sibuk, lain kali saja kita makan siangnya aku gak mau mengganggu aktivitas kamu."
"Gak apa-apa, lagian gak terlalu penting juga. Mumpung kita ketemu pas waktu makan siang kan."
"Oke deh, kita makan di mana?"
"Terserah kamu saja yang penting aku gak disuruh bayar."
__ADS_1
Biani tertawa kecil sambil menatap Rio.
Rio ikut tertawa, "kamu bisa saja."
"Silahkan, kita pakai mobil aku saja."
Rio mempersilahkan Biani untuk berjalan lebih dahulu untuk tiba ke mobilnya.
"Tapi aku bawa motor."
"Gak apa-apa, motor kamu tinggalkan saja di sini. Tenang saja di sini aman kok."
Biani tersenyum lalu berjalan lebih dahulu!
Mereka berdua pun pergi untuk makan siang bersama!
Sepanjang perjalanan Rio dan Biani sama-sama terdiam, Rio terus fokus berkendara sedangkan Biani asyik dengan apa yang ada dalam pikirannya.
"Siapa yang melakukan tabrak lari sama Leon? Setahu aku selama ini Leon dan keluarganya tidak memiliki musuh," ucap Biani didalam hatinya.
Biani terus bertanya-tanya kepada dirinya sendiri tentang apa yang terjadi kepada Leon.
"Leon kamu di mana, aku sangat mengkhawatirkan kamu. Aku ingin bertemu denganmu meski hanya sebentar saja."
Biani terus berbicara didalam hatinya.
Setelah hampir sepuluh menit, mereka tiba di salah satu restoran. Rio memarkirkan mobilnya lalu mengajak Biani turun dari mobilnya!
Keduanya memasuki restoran itu dengan berjalan beriringan!
"Silahkan," ucapnya.
Rio dan Biani memilih makanan yang akan mereka pesan.
...****************...
Di perkampungan Shila, Kayla dan Elvan sedang menuju tempat penyekapan Shania! Mereka berpenampilan biasa saja agar tidak menimbulkan kecurigaan pada para preman itu.
"Yakin tempatnya di sini?" ucap Elvan sembari terus menyetir.
"Yakin, seratus persen," sahut Kayla.
"Kamu jangan banyak tanya, Van. Mama sama Kayla sudah menyelidiki tempat itu sebelum memutuskan untuk menyergap mereka," ucap Shila.
"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi. Perempuan memang selalu ingin menang sendiri."
Kayla tertawa hambar, bisa-bisanya calon suaminya itu menyalahkan perempuan.
"Kemana nih, kanan atau kiri?" ucap Elvan setelah menghentikan laju mobilnya.
Terpaksa Elvan bertanya karena Shila dan Mamanya tidak memberi arah jalan kepadanya.
"Kanan," sahut Kayla.
Elvan kembali melajukan mobilnya ke arah yang diberitahukan oleh Kayla.
"Perjalanan kita masih lama, Van kamu kuat kan jalan kaki sejauh satu atau dua kilo meter?" tanya Shila.
__ADS_1
"Untuk menyelamatkan Shania dan calon keponakan aku, aku pasti kuat," sahut Elvan.
"Shania hamil?" tanya Kayla.
"Iya. Dia sedang hamil," ucap Elvan.
"Awas saja, aku gak akan mengampuni orang yang sudah menyakiti wanita hamil. Preman itu akan berurusan denganku," ucap Kayla.
Kayla sangat membenci orang yang menyakiti orang hamil karena ia pernah menolong ibu hamil yang melahirkan sebelum waktunya karena terlalu sering disiksa oleh suaminya. Sejak saat itulah Kayla sangat membenci siapa pun yang menyakiti wanita hamil.
...****************...
"Rio, kamu di sini juga," ucap Mamanya Rio yang kebetulan sedang mengunjungi restoran itu juga.
"Mama? Kok Mama di sini?" ucap Rio.
Biani tersenyum ramah kepada Mamanya Rio lalu mencium punggung tangannya!
"Kamu?"
Mamanya Rio menatap Biani sembari mengingat-ingat wajah Biani.
"Dia Biani, Ma yang waktu itu menginap di rumah kita," ucap Rio yang seolah tahu apa yang sedang Mamanya pikiran.
"Oh, iya pantas saja Mama merasa pernah bertemu dengannya."
"Iya tante. Terimakasih tante sudah berbaik hati mengizinkan aku menginap di rumah tante dan maaf karena sudah merepotkan tante," ucap Biani.
"Enggak, Nak sama sekali tidak merepotkan, malah tante senang karena Rio jadi bisa dekat dengan perempuan lagi setelah lama tidak pernah memiliki kekasih."
"Mama, apa sih," ucap Rio kepada Mamanya.
"Bi, jangan dengerin perkataan Mamaku ya," ucap Rio kepada Biani.
Biani tersenyum tanpa sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya.
"Mama sama siapa ke sini?" tanya Rio mengalihkan pembicaraan.
"Sendiri. Mama baru saja selesai arisan bersama teman-teman Mama."
Rio tidak berucap lagi karena seorang pelayan restoran datang untuk mengantarkan makanan yang mereka pesan.
"Tante mau makan bareng sama aku dan Rio?" ucap Biani.
"Tidak terimakasih, tante baru saja habis makan bersama teman-teman tante."
Rio menatap Mamanya mengisyaratkan agar Mamanya itu segera pergi dari tempat itu karena ia ingin mengobrol berdua dengan Biani.
"Gak enak dong, tante aku sama Rio makan sementara tante tidak."
"Tante mau pulang. Kalian lanjutkan saja makan siangnya."
"Kalau sudah cocok, cepat jadikan Biani menantu Mama," ucap Mamanya Rio kepada Rio sebelum pergi meninggalkan mereka berdua.
Rio menjadi salah tingkah setelah mendengar perkataan Mamanya.
Bersambung
__ADS_1