
Karena waktu yang semakin mepet, Kayla harus bekerja keras untuk segera menyelesaikan misi terakhirnya itu.
Kini Kayla sudah mengumpulkan orang-orang terdekat dari lima preman yang ia sekap. Untuk menjaga agar mereka tidak kecewa kepada para penjahat itu, Kayla tidak mempertemukan mereka, Kayla hanya merekam aktivitasnya bersama orang-orang yang ia temui itu.
Setelah merasa rencananya sudah sempurna, Kayla mulai melancarkan aksinya. Ia pergi ke gubug tua itu untuk memperlihatkan video yang ia punya kepada para preman itu.
Tak butuh waktu lama, Kayla sudah tiba di depan gubug itu, dia memarkirkan motornya lalu segera masuk untuk menemui mereka.
"Katakan, siapa yang menyuruh atau membayar kalian untuk menculik Shania?" ucap Kayla.
"Sudah kami bilang kalau tidak ada yang menyuruh kami."
"Kenapa kalian selalu menjawab dengan perkataan itu-itu saja?"
"Jawaban kami tidak akan berubah karena memang tidak ada yang menyuruh kami."
Kayla mendekat pada preman yang bernama Agus itu!
"Benarkah? Kau yakin?" ucap Kayla sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Agus.
"Benar dan aku sangat yakin."
Kayla berjalan lagi, kini ia mendekati Kamal!
"Apa kau ingin berkata jujur padaku?" ucap Kayla.
"Aku sudah berkata jujur. Apa lagi yang harus aku katakan?" ucap Kamal.
"Masih belum mau jujur juga."
Kayla mengambil ponselnya dari saku celananya lalu memutar satu video dan memperlihatkan video itu kepada preman-preman itu.
"Agus, kamu kenal sama gadis ini?"
Didalam video itu Agus melihat adiknya sedang berbincang dengan Kayla, tawa ceria terukir di bibir gadis itu.
Agus terus menatap layar ponsel itu, ia terus memperhatikan adik tercintanya. Betapa ia sangat merindukan adiknya itu.
"Jangan lukai dia," ucap Agus.
"Aku tidak akan melukai gadis manis itu, tapi kamu memberiku ide untuk melakukannya."
"Tidak. Jangan pernah sentuh adikku."
Agus berucap dengan raut wajahnya yang ketakutan.
Kayla tidak mengatakan sesuatu lagi kepada Agus, dia memutar video lainnya lalu memperlihatkan video itu kepada Karman.
"Lihatlah, siapa yang ada dalam video ini," ucap Kayla.
"Aku tidak mau melihatnya," ucap Karman.
Kayla tersenyum sinis lalu ia menatap Kamal yang duduk di sebelah Karman.
"Aku sudah tahu dan sudah mengenal mereka. Mereka orang yang kalian sayangi dan kalian cintai," ucap Kayla.
Kayla kembali berjalan ke tempat duduknya namun ia memilih tetap berdiri didepan para preman-preman itu!
"Katakan siapa orang yang telah menyuruh kalian?"
Kayla bertanya untuk kesekian kalinya kepada preman-preman itu.
"Tidak ada siapa pun yang menyuruh kami."
"Tetap tidak mau jujur juga. Aku tanya sekali lagi, siapa yang menyuruh kalian?"
"Kami sudah berkata jujur padamu."
"Baiklah, sepertinya aku harus menghabisi salah satu dari mereka."
__ADS_1
Kayla mengancam mereka karena mereka tidak berkata jujur juga.
Kayla mengambil senjata api yang ia selipkan di pinggangnya!
"Kalian tahu, mereka sedang berada dalam genggamanku."
"Jangan! Jangan lakukan apa pun terhadap mereka!"
Para preman itu memberontak ingin lepas dari tali yang mengikat tubuh mereka!
"Aku tidak akan melukai apalagi sampai membunuh mereka jika kalian bersedia jujur padaku," ucap Kayla dengan tatapan tajam.
Para preman itu terdiam tanpa suara dan pergerakan.
"Tidak mau bicara juga?"
Kayla melangkahkan kakinya beberapa langkah menuju pintu keluar ruangan itu!
"Tunggu!" ucap Kamal.
Kayla menghentikan langkahnya lalu membalikkan arah langkahnya.
"Ada pesan yang ingin kalian sampaikan kepada mereka?" tanya Kayla.
"Tolong jangan sakiti mereka. Mereka tidak bersalah," ucap Agus.
"Lalu aku harus apa, kalian saja tidak bisa diajak bekerjasama."
"Aku akan bicara jujur tapi tolong jangan lukai adikku," ucap Agus.
"Baiklah. Cepat katakan."
"Sebelum kami mengatakan yang sejujurnya, berjanjilah untuk melindungi mereka dari semua bahaya yang mengintai mereka. Aku tidak perduli lagi dengan keselamatan ku, anak dan istriku harus selamat," ucap Karman.
"Ada apa? Kenapa kamu begitu ketakutan, Karman?"
"Orang menyuruh kami adalah seorang pemuda bernama Jacky. Dia membayar kami dengan harga tinggi untuk menculik wanita yang bernama Shania tapi setelah kami berhasil menculik wanita itu, Jacky mengancam kami," jelas Kamal.
"Ya, Jacky." sahut Agus.
"Kenapa dia mengancam kalian?"
"Jika kami memberitahu orang lain tentang dirinya maka dia tidak segan akan menyiksa orang yang kami sayangi sampai terluka dan akhirnya mati perlahan," jelas Agus.
"Mereka akan baik-baik saja selama masih ada aku. Bisa minta kerja samanya? Tolong katakan siapa dan dimana Jacky tinggal dan kenapa dia menyuruh kalian menculik Shania."
Para preman itu mulai menceritakan tentang tujuan Jacky menculik Shania dan menceritakan tentang perjanjian yang mereka buat dan mereka setujui.
Setelah kurang lebih sepuluh menit mereka menceritakan tentang Jacky, akhirnya Kayla menyudahi wawancaranya karena merasa sudah cukup bukti yang ia dapatkan.
"Hanya itu yang kami tahu. Kami tidak tahu tempat tinggal dia karena kami baru kenal beberapa bulan lalu dengannya saat dia menyuruh kami mengeroyok laki-laki bernama Leon," jelas Karman si ketua preman itu.
Kayla terdiam, ia mengingat-ingat rentetan setiap musibah yang menimpa Leon dan Shania.
"Apa kalian kenal dengan Irwan?" tanya Kayla.
Para preman itu saling bertatapan lalu kembali menatap Kayla.
"Tidak," ucap mereka bersamaan.
"Tentang rencana pengrusakan pada rem mobil milik Leon. Apa kalian tahu?"
"Tidak," ucap Kamal.
"Baiklah. Meski kalian sudah berkata jujur padaku tapi jangan harap aku akan melepaskan kalian," ucap Kayla.
"Kenapa? Kamu tidak bisa berbuat tidak adil kepada kami," ucap Karman.
"Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatan yang sudah kalian lakukan. Aku akan membawa kalian kepada pihak yang berwajib."
__ADS_1
Kayla meninggalkan para preman itu didi dalam ruangan itu! Seperti biasa ia tak pernah lupa mengunci lagi pintu ruangan itu.
...****************...
Ueek!
Uuek!
Shania mulai merasa mual lagi. Dia segera berlari ke dalam kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya!
"Shania," ucap Leon.
Leon menghampiri Shania ke dalam kamar mandi!
"Kamu mual lagi ya," ucap Leon sembari memijit punggung Shania perlahan.
"Leon, aku juga pusing," lirih Shania.
Leon membersihkan sisa muntah yang masih tersisa pada bibir Shania dengan air lalu memapah Shania untuk kembali ke tempat tidur!
Setelah Shania duduk, Leon memberinya minum air hangat. Karena sudah pasti Shania muntah dimalam hari, Leon sengaja membawa termos kecil agar ia tidak perlu bolak-balik ke dapur untuk mengambil air hangat.
"Leon, aku mau es kelapa pakai bakso," ucap Shania dengan nada lirih.
"Apa, es kelapa dan bakso?" ucap Leon.
"Iya."
"Bakso banyak banyak kalau es kelapa siapa yang mau jual dimalam hari kayak gini," ucap Leon.
"Aku maunya es kelapa pakai bakso. Bukan hanya bakso, Leon."
"Dasar aneh, dimana ada orang jual es kelapa pakai bakso?"
"Gak tahu, pokoknya aku mau itu. Sekarang kamu cari apa yang aku mau!"
Shania memukul Leon dengan bantal sembari terus merajuk kepada sang suami!
"Iya-iya, aku beliin."
Leon turun dari tempat tidur lalu berjalan ke luar kamarnya!
"Beli es kelapa dimana, malam-malam gini," gumam Leon.
Leon terus berjalan menuruni anak tangga! Dilihatnya jam ditangannya menunjukkan pukul 00:10 waktu setempat.
"Tengah malam gini pengen yang aneh-aneh, dasar wanita hamil memang aneh," gumam Leon lagi.
Leon masuk kedalam mobilnya lalu mulai melajukan mobilnya mencari sesuatu yang tak mungkin ia dapatkan ditengah malam seperti saat itu.
Leon terus berkendara tanpa arah tujuan, ia tak tahu harus ke mana karena ia sendiri tidak tahu dimana orang yang menjual es kelapa di malam hari.
Leon sudah mendatangi beberapa penjual es kelapa namun mereka semua sudah tutup karena memang sudah bukan jamnya berjualan.
"Kemana lagi aku cari es kelapa?" gumam Leon.
Leon terus melajukan mobilnya tanpa arah dan tujuan, hingga setelah hampir satu jam mencari ia melihat ada banyak buah kelapa muda didepan rumah salah satu warga.
Leon segera menghentikan mobilnya lalu bergegas turun dari mobilnya! Dengan berat hati, ia mengetuk pintu rumah itu, sebenarnya ia merasa tidak enak karena bertamu dimalam hari tapi ia harus mendapatkan apa yang Shania mau agar nanti bayinya tidak ileran.
Setelah sepuluh menit akhirnya Leon mendapatkan es kelapa yang Shania mau kebetulan pemilik rumah itu biasa berjualan es kelapa.
"Bu, terimakasih ya sudah mau membantu saya. Maaf sudah merepotkan," ucap Leon.
Ibu itu tersenyum ramah kepada Leon, jika bukan untuk orang hamil sebenarnya ia tidak ingin membuat es kelapa dimalam hari yang seharusnya ia gunakan untuk beristirahat.
"Tidak apa-apa, Mas," sahut Ibu itu.
Wanita paruh baya itu memaklumi permintaan Leon karena memang orang hamil selalu tiba-tiba ingin sesuatu yang aneh-aneh.
__ADS_1
Leon segera pergi dari rumah ibu itu karena ia harus membeli bakso seperti yang Shania inginkan!
Bersambung