Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 60


__ADS_3

Kayla berjalan menyusuri perkampungan, mendatangi satu-persatu rumah preman-preman yang sedang dalam genggamannya.


"Tidak mungkin, aku tidak bisa menemukan pelaku utamanya," gumam Kayla.


Kayla menghentikan langkahnya, ia memejamkan matanya lalu menarik nafasnya panjang dan membuangnya perlahan lewat mulut.


"Bisa, kamu pasti bisa, Kayla," gumam Kayla dengan mata yang masih tertutup.


"Selamat siang," ucap seseorang saat Kayla membuka matanya.


Kedatangan orang tak dikenal itu membuat Kayla terkejut.


"Siapa kamu?" ucap Kayla.


"Saya orang yang menguasai kawasan ini dan Saya juga yang bertanggungjawab atas keamanan kampung ini dan keselamatan warga kampung sini," ucap laki-laki itu.


Kayla tersenyum tipis. "Anda kepala desa di sini?"


"Anda tidak perlu tahu karena Anda tidak berhak untuk tahu. Siapa Anda dan ada urusan apa datang ke wilayah saya?" tanya laki-laki itu.


"Saya ke sini untuk mencari seseorang, saya harap Anda tidak menghalangi jalan saya."


"Siapa yang sedang Anda cari?"


"Orang ini!"


Kayla memperlihatkan sebuah kartu tanda penduduk kepada laki-laki itu.


Laki-laki itu memperhatikan kartu tanda penduduk itu lalu menatap wajah Kayla dengan seksama.


"Dia tidak ada di sini." laki-laki yang berpenampilan seperti seorang preman itu mengatakan bahwa orang yang Kayla cari tidak ada di tempat itu.


"Saya ingin bertemu dengan keluarganya."

__ADS_1


"Katakan dulu, ada perlu apa Anda ingin bertemu dengan mereka. Saya sebagai orang yang bertanggungjawab di wilayah ini harus memastikan bahwa Anda tidak berbahaya."


"Saya ingin bertemu dengan mereka untuk menanyakan kemana orang ini pergi. Saya ada urusan pekerjaan dengan orang ini," ucap Kayla.


Laki-laki itu terlihat berpikir sejenak lalu sedetik kemudian mengantarkan Kayla ke tempat tujuan Kayla.


"Saya harus memastikan, Anda tidak akan mencelakai mereka."


"Anda boleh ikut dengan saya."


Karena laki-laki itu lebih tahu tempat itu, ia berjalan lebih dahulu sedangkan Kayla berjalan membuntuti laki-laki itu!


...****************...


Shania meringis kesakitan, tiba-tiba ia merasakan sakit di bagian kepalanya.


"Awh," lirih Shania sembari memegangi kepalanya.


"Shania, kamu kenapa?" ucap Leon panik.


"Kepalaku sakit," lirih Shania.


"Kamu harus istirahat!"


Tanpa berkata apa pun, Leon memangku tubuh Shania lalu membawanya ke dalam kamar!


"Leon," lirih Shania.


"Kamu kecapekan. Istirahat dulu di kamar ya!"


Leon membaringkan tubuh Shania di atas tempat tidur! lalu ia segera meninggalkan Shalat di dalam kamar sendirinya.


Shania menatap punggung Leon hingga laki-laki itu tak terlihat lagi.

__ADS_1


"Dasar laki-laki aneh, gak peka banget. Masa dia gak tahu kalau aku pengen dekat-dekat dengannya," ucap Shania didalam hatinya.


Leon terus berjalan ke ruang keluarga untuk melanjutkan nonton televisi nya.


Leon duduk di kursi yang semula ia duduki bersama Shania.


"Leon!" teriak Shania.


Leon yang baru duduk langsung berlari menghampiri Shania! Ia tidak ingin terjadi sesuatu kepada istrinya itu.


"Iya, Shania ada apa?" ucap Leon setelah tiba di dalam kamar Shania.


"Sini," ucap Shania.


Leon yang masih berdiri di ambang pintu berjalan menghampiri Shania lalu duduk di sebelah Shania.


"Ada apa, hmmm?" ucap Leon.


"Jangan pergi, di sini saja temani aku," ucap Shania dengan suara yang hampir tidak terdengar.


Shania sebenarnya malu untuk mengatakan bahwa ia tidak ingin jauh dari Leon, namun karena ia tidak tahan akhirnya ia meminta agar Leon tetap bersamanya.


"Baiklah, rupanya ada yang sedang ingin dimanja-manja."


"Bukan aku ya, tapi anak kamu yang mau dekat terus sama kamu."


"Kalaupun kamu, juga gak apa-apa, kamu berhak kok atas diriku."


Leon tersenyum sembari membelai lembut pipi Shania.


Shania tidak berucap lagi, sebenarnya memang ia juga menginginkan kebersamaan bersama Leon lebih lama lagi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2