Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 62


__ADS_3

"Gue gak setuju lo balik lagi sama Jenny. Liana akan tersakiti," ucap Ken.


"Liana akan tersakiti jika dia tahu tentang ini. Lo harus jaga rahasia ini baik-baik," ucap Rendy memohon.


"Selama ini gue selalu mendukung lo, gue selalu jadi orang pertama yang berada di samping lo, gue siap pasang badan buat ngelindungin lo, tapi untuk hal ini. Sorry gue gak bisa," ucap Ken.


"Segitu gak terimanya lo, gue duain Liana. Lo sayang sama Liana?" ucap Rendy mulai emosi.


"Ya, gue sayang sama Liana sayang sebagai sahabat." Ken meninggikan nada bicaranya.


Tok! tok! tok! suara ketukan pintu dari luar terdengar oleh Rendy dan Kendra.


"Masuk!" ucap Rendy.


Ken dan Rendy sama-sama tak membuka suara sampai seseorang masuk kedalam ruangan itu.


"Diana! ada apa?" ucap Ken.


"Ada orang yang ingin bertemu dengan Pak Rendy," sahutnya.


"Siapa?" ucap Rendy.


"Direktur utama dari perusahaan Ridwan Group," jelas Diana.


"Itu salah satu perusahaan besar. Untuk apa mereka kesini? kita tidak sedang bekerjasama dengan mereka?" ucap Rendy penuh tanya.


"Saya tidak tahu, Pak. Mereka ingin bertemu dengan anda sekarang," ucap Diana.


"Suruh mereka menunggu. Saya sedang bicara dengan Ken," ucap Rendy.


"Suruh mereka masuk! pembicaraan kami sudah selesai," ucap Ken pada Diana.


Setelah Diana keluar Ken juga keluar dari ruangan Rendy.


Saat Ken akan masuk kedalam ruangannya ia berpapasan dengan laki-laki yang usianya sudah tidak muda lagi, berjalan kearah ruangan Rendy!


"Mungkin dia direktur dari perusahaan Ridwan group," gumam Ken lalu segera melanjutkan langkahnya.


"Anda?" ucap Rendy penuh tanya.


"Saya datang sebagai kakeknya Liana," ucap Ridwan.


"Saya tahu. Ada perlu apa sehingga anda datang kesini?" ucap Rendy dengan raut wajah datar.


"Saya ingin bertemu dengan cucu saya," sahut Ridwan tanpa basa-basi.


"Tidak. Saya tidak akan mengizinkan anda menemui istri saya," ucap Rendy tegas.


"Sekali saja," ucap Ridwan memohon.


"Jika anda bertemu dengan Liana hanya untuk mengambilnya dari saya. Sekali pun saya tidak akan mengizinkannya," ucap Rendy dengan nada bicara sinis.


Ridwan terdiam tanpa sepatah kata pun.


Saat Ridwan terdiam, Rendy segera meraih ponselnya lalu mengetik sebuah pesan.

__ADS_1


📩 "Ken, tolong kasih tahu Liana, dia jangan ke kantor sekarang."


📩 "Direktur utama Ridwan group adalah kakeknya Liana."


Rendy segera mengirim pesan yang ia ketik kepada Kendra.


Ken yang sedang fokus pada layar laptopnya segera mengecek siapa yang mengiriminya pesan setelah mendengar notifikasi pesan masuk pada handphonenya.


Setelah Kendra membaca pesan dari Rendy ia segera membalas pesan itu.


📩 "Serius lo?"


📩 "Laki-laki tua itu kakeknya Liana?"


Tanpa menunggu Rendy membalas pesannya, Kendra segera menelpon Liana untuk memberitahukan bahwa ada kakeknya di kantor.


📞 "Halo," ucap Liana dari sebrang telepon.


📞 "Halo, Liana. Kamu dimana?" ucap Ken setelah terdengar suara Liana.


📞 "Di rumah," sahut Liana.


📞 "Kamu jangan ke kantor sekarang. Kata Rendy ada kakek kamu disini," jelas Ken.


📞 "Apa! kakek?" ucap Liana mengulang perkataan Kendra.


📞 "Iya. untuk lebih pastinya nanti aku kirim video CCTV ya karena takutnya Rendy salah orang," ucap Ken.


📞 "Oke," ucap Liana singkat lalu memutuskan sambungan teleponnya.


Ken segera mengcopy rekaman CCTV lalu mengirim rekaman itu kepada Liana.


📩 "Benar, itu kakekku."


📩 "Mau apa dia bertemu dengan Rendy?"


Di ruangan Rendy.


"Nak, kakek hanya ingin meminta maaf pada Liana. Kakek ingin menebus semua kesalahan yang sudah kakek perbuat terhadap Liana dan orang tuanya," ucap Ridwan.


Ridwan memang sudah menyadari kesalahannya, ia sudah membatalkan perjodohan antara Liana dengan putra dari partner bisnisnya.


Ridwan tak ingin mengulangi kesalahan yang sama, ia ingin semua kebahagiaan yang hilang dimasa lalu tak terulang lagi.


"Saya tidak percaya. Bisa saja ini hanya siasat anda saja," ucap Rendy yang tak ingin gegabah dalam mengambil keputusan.


"Saya berani bersumpah, saya sedang tidak berbohong saat ini," ucap Ridwan dengan nada lirih.


"Tidak. Saya tidak bisa mengizinkan anda bertemu dengan Liana saya tidak bisa percaya begitu saja kepada anda," ucap Rendy sedikit menaikan nada bicaranya.


"Saya mohon." Ridwan memohon kepada Rendy hanya untuk bertemu dengan cucunya.


Seorang Ridwan tidak pernah menerima penolakan dan kekalahan apalagi menerima perintah.


Tapi saat ini ia memohon dihadapan orang yang lebih muda darinya hanya karena ingin meminta maaf pada Liana.

__ADS_1


"Apa yang bisa membuat saya yakin kalau saat ini anda sedang tidak bersandiwara?" ucap Rendy.


"Besok pada saat jam makan siang kita bertemu di kafe xxx saya akan membawa bukti kalau saya memang sudah membatalkan perjodohan antara Liana dengan orang pilihan saya," jelas Ridwan.


"Baiklah. Besok saya akan bawa Liana," ucap Rendy.


Rendy sudah memikirkan semua resikonya, untuk itu ia sudah mengatur rencana untuk mengadakan penjagaan ekstra untuk melindungi istrinya.


Ridwan tersenyum bahagia saat mendengar ucapan Rendy.


"Terimakasih, Nak," ucap Ridwan.


Rendy menanggapi ucapan Ridwan dengan senyuman saja.


Ridwan langsung berpamitan setelah Rendy mengatakan kalau dia akan mengajak Liana besok.


Setelah memastikan Ridwan benar-benar sudah pergi jauh dari kantornya. Rendy beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kakinya menuju ruangan Ken.


"Ken, besok sediakan penjagaan yang sangat ketat di kafe xxx," ucap Rendy yang nyelonong masuk ke ruangan orang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Ada acara apa?" ucap Ken tanpa menatap wajah sang kakak.


"Kakek Ridwan ingin bertemu dengan Liana," ucap Rendy jujur.


Ken menghentikan pergerakan tangannya yang sedang mengetik sebuah pesan untuk kliennya.


"Lo yang benar saja jadi suami. Lo tahukan kalau kakeknya Liana sangat menginginkan Liana menikah dengan orang pilihannya?" ucap Ken.


"Iya tahu, makannya gue nyuruh lo buat ngadain penjagaan disana untuk berjaga-jaga kalau kakek Ridwan ingin menculik Liana," jelas Rendy.


"Oke, untuk hal ini gue siap membantu. Jam berapa lo besok mau bertemu dengan kakeknya Liana?" ucap Ken.


"Saat jam makan siang," sahut Rendy.


"Oke. Sekarang gue lagi sibuk, tolong lo keluar dari ruangan gue," ucap Ken yang tak ingin berlama-lama berbicara dengan Rendy karena ia masih kesal terhadap Rendy yang memilih balikan sama Jenny.


Tak ingin berdebat, Rendy menuruti permintaan Kendra.


Rendy segera keluar dari ruangan Ken lalu melangkahkan kakinya menuju ruangannya karena ia juga sedang banyak pekerjaan.


Di ruangan Kendra.


Ken sedang mengotak-atik ponselnya mencari nomor ponsel Shila yang masih ia beri nama Markonah di kontaknya.


Setelah menemukan nomor ponsel Shila, Ken segera menelpon Shila.


Tanpa menunggu lama Shila sudah mengangkat teleponnya.


📞 "Halo, Shil." (Ken)


📞 "Ada apa, Pak?" sahut Shila dari sebrang telepon.


📞 "Besok temani saya makan siang," ucap Ken.


📞 "Tapi,Pak."

__ADS_1


📞 "Saya tidak ingin ada penolakan, ini penting. Soal mama, nanti saya yang bicara dengannya," ucap Ken lalu mematikan sambungan telepon secara sepihak.


Bersambung.


__ADS_2