Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
bab 46


__ADS_3

"Jujur, gue udah sayang sama dia," ucap Rendy.


Ken tersenyum bahagia saat mendengar pengakuan Rendy.


"Gue ada sesuatu yang harus elo lihat." Ken mengeluarkan beberapa foto untuk diperlihatkan kepada Rendy.


"Apa itu?" tanya Rendy penasaran.


"Lo lihat aja sendiri." Ken berucap dengan santainya.


Rendy mengambil foto itu lalu melihatnya satu persatu.


Rendy terkejut saat melihat gambar siapa yang ada di foto itu.


"Dari mana lo dapetin ini?" Rendy menatap foto itu dengan amarah yang mulai menguasai dirinya.


"Nanti gue kasih tahu. Sekarang lo lihat juga video ini." Ken memutar video yang sudah ia simpan sejak lama.


Amarah Rendy semakin memuncak saat melihat Jenny dan Bram sedang bercumbu mesra didalam video yang ia lihat.


Tangan Rendy terkepal tak terasa ia menghantam meja kerja Ken hingga meja itu rusak.


"Lo cemburu?" ucap Ken.


Ken membiarkan Rendy meluapkan emosinya dengan terus menghantam barang-barang yang ada di ruang kerjanya.


"Selama ini gue selalu setia sama dia, tapi apa balasannya?"


"Sekarang lo udah punya Liana kenapa harus marah?" Ken tetap tenang dalam berucap.


"Dari mana lo mendapatkan ini semua?" tanya Rendy yang tak menghiraukan darah yang mengalir di tangannya.


"Gue nyuruh orang buat mencari bukti kejahatan yang Jenny lakukan dan itu hasilnya. Jenny dibantu oleh sahabat yang selama ini lo bangga-banggakan," jelas Ken.


"Sebenarnya bukti ini sudah gue dapatkan sejak lama ... ."


"Kenapa lo gak kasih tahu gue dari dilu?" Rendy mulai menurunkan nada bicaranya.


"Karena gue tahu lo gak bakal percaya kalau lo masih cinta sama Jenny," ucap Ken.


"Lo udah selesai ngerusak barang-barang disini?" ucap Ken yang melihat ruangannya berantakan seperti kapal pecah.


Rendy terdiam sambil duduk di lantai.


"Jangan dipikirin. Sekarang lo udah punya Liana kan."


Ken menghampiri Rendy lalu menepuk-nepuk bahu kakaknya itu.


"Apa perlu laporin mereka ke polisi?" tanya Ken.


"Tidak. Aku tidak bisa melihat Jenny menderita," lirih Rendy.

__ADS_1


Ken menarik nafas panjang lalu membuangnya kasar, ia tak mengerti dengan pola pikirnya Rendy, sudah disakiti dan dikhianati tapi masih tetap tak tega kepada wanita itu.


"Lo nyewa orang bayaran buat mencari semua bukti ini?" Rendy mulai penasaran.


"Iya," saut Ken singkat.


"Boleh gue bertemu dengan orang itu?" tanya Rendy, ia ingin memastikan apakah bukti-bukti yang Ken berikan padanya adalah benar adanya.


"Boleh banget, tapi gak sekarang. Sekarang lo harus obatin dulu luka di tangan lo," ucap Ken sembari meraih tangan Rendy lalu membersihkan darah yang mengalir ditangan Rendy dengan tisu.


"Kenapa lo nyari bukti tentang Jenny?" tanya Rendy.


"Karena gue peduli sama lo. Sebagai adik gue gak mau lo terus dibohongin sama orang yang lo cinta," jelas Ken.


Rendy menatap Ken.


"Ken hanya adik angkat tapi dia begitu peduli denganku," ucap Rendy namun kata-kata itu hanya tersimpan di hatinya.


Rendy masih menyimpan perasaan kepada Jenny, entah kenapa ia begitu sulit untuk melupakan Jenny meski tak ia pungkiri kalau sekarang ia sudah mencintai Liana.


Ken terus membersihkan darah dari tangan Rendy lalu mengobati luka itu dengan obat merah.


"Lo bisa bahagiain Liana kan?" tanya Ken setelah selesai mengobati luka Rendy.


Rendy menatap adiknya itu lalu tersenyum tipis.


"Lo tenang aja gue gak bakal biarin gadis itu meneteskan air matanya," ucap Rendy dengan mantap.


"Gue pegang janji lo," ucap Ken lalu ia beranjak untuk membereskan berkas yang ada di mejanya.


"Hari ini gue kerja di ruangan lo karena ruangan gue akan diperbaiki," ucap Ken sembari berjalan keluar dari ruangannya.


Dikediaman Rendy.


Liana sedang sibuk memindahkan semua bara-barang miliknya ke kamar Rendy, ia juga dibantu oleh beberapa asisten rumah tangganya.


"Nyonya ini mau ditaruh dimana?" Tanya Bik Ida.


"Dilemari yang itu aja," ucap Liana. Jari telunjuknya mengarah ke sebuah lemari berwarna putih itu.


"Nyonya, sebaiknya anda istirahat saja biar kami yang mengerjakan pekerjaan ini," ucap salah satu asisten rumah tangganya.


Para asisten rumah tangga itu merasa tidak enak karena majikannya ikut mengerjakan tugas mereka dan mereka juga merasa tidak nyaman bekerja dengan ditemani majikan mereka.


"Tidak apa, saya suka melakukan ini semua," saut Liana.


"Tapi, Nyonya nanti tuan marah kalau nyonya kecapekan," ucap salah satu asisten rumah tangganya.


Liana tersenyum ramah, "Dia tidak akan marah," ucap Liana.


Mereka pun melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


Dikediaman Herdiawan.


"Yah, gimana kabar anak kita ya?" Ratih yang sedang duduk di ruang keluarga merasa rindu kepada putri satu-satunya.


"Liana pasti baik-baik saja Bu. Ibu tidak usah khawatir," ucap Herdiawan.


"Ibu kangen sama Liana, Yah."


"Ayah juga, Bu."


Sejak Liana menikah ia memang jarang pulang ke rumah orang tuanya. Bukan karena ia tak rindu dan tak sayang kepada orang tuanya tapi keadaan yang memaksanya untuk tidak menemui orang tuanya.


"Semua ini gara-gara, papa yang selalu memaksa Liana untuk ikut dengannya," ucap Ratih.


Tak terasa air mata Ratih luruh begitu saja saat mengingat putrinya yang dipaksa menikah dengan orang pilihan papanya.


Herdiawan baru ngeh kalau orang-orang suruhan Ridwan sudah lama tidak datang ke rumahnya untuk mencari Liana.


Tiba-tiba ia merasa khawatir kepada putrinya.


"Apa, papa sudah menemukan Liana dan sudah membawanya ke luar negeri," ucap Herdiawan didalam hatinya.


Herdiawan memilih tidak mengutarakan perasaannya kepada istrinya karena ia tidak mau membuat istrinya bersedih.


"Sebaiknya aku pergi ke rumah Rendy besok," ucap Herdiawan namun ia hanya berucap didalam hatinya.


"Ibu khawatir sama Liana, Yah. Jangan-jangan, papa sudah membawa Liana ke luar negeri untuk menikah dengan orang pilihannya," ucap Ratih dengan air mata yang terus mengalir.


"Ibu tidak usah khawatir, Liat bisa jaga diri dan Rendy juga tidak akan membiarkan Liana pergi bersama, papa." Herdiawan mencoba menenangkan istrinya walau sebenarnya ia juga berpikir seperti yang dipikirkan oleh istrinya itu.


Di kantor Rendy.


Ken sedang memeriksa berkas-berkas yang berada di meja kerjanya Rendy.


Sebenarnya itu bukan tugasnya tapi karena saat ini pikiran Rendy sedang kacau ia berbaik hati untuk mengerjakan pekerjaan kakaknya itu.


Rendy duduk di kursi yang ada didepan meja kerjanya.


"Ken, kapan aku bisa bertemu dengan orang yang sudah kamu bayar untuk mencari semua bukti-bukti itu?" Rendy tidak sabar untuk bertemu dengan orang yang sudah bekerja untuk Ken.


"Secepatnya," saut Ken singkat.


"Dimana kita bisa bertemu dengannya?" tanya Rendy penasaran.


"Di rumah, mama."


Bersambung.


Terimakasih sudah mampir di sini.


Mampir juga ya ke karya author yang baru jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara.

__ADS_1


Like, komen, hadiah, atau vote nya ya.



__ADS_2