
Kegiatan jurit malam telah dimulai. Satu per satu kelompok telah berangkat untuk melaksanakan jurit malamnya. Kelompok Dina lebih dulu berangkat dibanding kelompoknya Toni.
Kali ini Dina merasa was-was, belum pernah ia jalan semalam itu. Meskipun masa kecilnya ia habiskan di daerah sekolahnya, tapi malam hari ia tidak pernah keluar.
Rumah lama mamanya dan rumah saudaranya berada di tepi jalan raya. Dan di seberangnya ada sungai besar. Kalau malam hari sudah pasti sepi jarang sekali ada orang lalu lalang.
Ini pengalaman pertamanya berkeliling malam hari di tempat-tempat yang dulu waktu kecil sering ia datangi ketika bermain. Tempat-tempat yang kata orang sekitar angker.
kelompok Dina berjumlah dua belas orang. Sebagai ketua regu di depan ada Santi dan yang menjadi wakil ketua regu berada di belakang sendiri yaitu Dewi.
Mereka berjalan menyusuri jalanan yang sepi. Suasana malam benar-benar menyeramkan. Daerah sekolah Dina masih banyak kebun kosong, area persawahan dan juga banyak pohon-pohon rindang yang membuat suasana semakin menyeramkan.
"ayo teman-teman mepet ya...jangan sampai renggang, tangannya pegangan pundak teman yang ada di depannya" ucap Dewi dari belakang
"dhuh...kenapa kalau malam menyeramkan begini ya..." ucap Rani
"sudah...ayo sambil jalan, sambil doa dalam hati, agar bebas dari gangguan makhluk-makhluk yang tidak kelihatan" ucap Dina yang berada di barisan tengah
"Din....makam depan itu katanya seram ya...?" ucap Santi
"siapa yang bilang, dulu waktu kecil aku sering main di situ aman-aman saja, lagian makamnya terang benderang banyak lampunya" terang Dina
"tetap saja Din...itu makam" ucap Rani bergidik ketakutan
"stststs....di depan ada senior, ayo renggangkan barisan lagi, dan kunci mulut kita" ucap Santi
Mereka memasuki area makam yang berada tak jauh dari rumah saudara Dina. Melewati batu-batu nisan yang berjajara rapi, wajah Rani pucat pasi. Mereka tidak berani menoleh ke kiri dan ke kanan, mereka sudah sepakat untuk hanya melihat ke arah bawah. Memperhatikan langkah kaki mereka.
Setelah keluar dari area makam, mereka semua bisa bernapas lega. Bagian yang menyeramkan sudah mereka lalui. Mereka bisa merapatkan barisan lagi agar kelompok mereka tidak terpisah.
Dari arah belakang, kelompok cowok kelas Dina sudah tepat berada di belakang mereka. Mereka sedikit lega, setidaknya mereka ada temannya, cowok pula jadi sedikit merasa aman.
"kalian datang dari mana? Kenapa tiba-tiba berada di belakang kami" ucap Dewi yang berada paling belakang
" kami tadi dilewatkan rute yang berbeda dengan kalian" ucap Roy yang menjadi ketua kelompok cowok
__ADS_1
"lalu kelompok cewek satunya kenapa aku tidak melihatnya dari tadi?" tanya Dewi
"entahlah...sepertinya para senior membuat beberapa rute agar rute tidak sama satu sama lain" ucap Roy
Mereka melanjutkan perjalanan mereka kembali. Dina sesekali melirik ke belakang. Ia yakin jika Toni berada di kelompoknya Roy. Toni yang dari tadi berada di barisan tengah memperhatikan Dina dari belakang.
Ia merasa pasti Dina sedang mencari keberadaannya. Dalam hatinya ia merasa bahagia, karena Dina dari tadi curi-curi pandang ke belakang.
"teman-teman di depan ada pos...kita harus bisa memecahkan soal dengan cepat agar kita juga bisa semakin cepat sampai di sekolah lagi" ucap Santi
Mereka berhenti di pos para senior. Mereka mengerjakan tugas dari senior mereka, mereka harus cepat menyelesaikannya agar bisa segera melanjutkan perjalanan mereka.
Ternyata kelompok Roy kalah cepat dengan kelompok Dina. Mereka tertinggal di pos karena masih belum bis memecahkan soal-soal yang diberikan oleh senior mereka
"San...apa tidak sebaiknya kita menunggu para cowok, ini kita di jalan sendiri lho" ucap Dewi di belakang
"kalau kita menunggu mereka, bisa- bisa kita kalah dari kelompok lain, sudah biarkan saja, kita seperti tadi sebelum bertemu dengan para cowok" ucap Dina
Mereka kembali merapatkan barisan, agar mereka bisa saling menjaga. Jalanan sudah begitu sunyi, meskipun mereka melewati taman kota, tapi keadaan taman sudah sepi tidak ada satu orang pun yang terlihat.
"hah...makam lagi?" tanya Rani panik
"iya...dan makan yang di depan itu lebih gelap dari yang tadi, pohon-pohonnya pun lebih rindang" ucap Santi
"sudah kita seperti tadi saja, kita berjalan melihat langkah kaki kita, janfan menengok kiri atau kanan, aku yakin senior-senior kita sudah menyiapkan sesuatu untuk menakut-nakuti kita" ucap Dina
"benar apa katamu Din..tadi waktu di makam aku sempat melihat sekilas ada kain putih-putih di d ekat pohon kamboja" ucap Dewi
Mereka 'pun memasuki area makam yang kedua. Mereka hanya melihat ke bawah ke kaki mereka sambil sesekali melihat ke depan, memastikan arah mereka.
Mereka bisa lolos dari makam tersebut, tanpa ada yang berteriak, menjerit atau apapun. Padahal sebelum mereka masuk tadi ada kelompok lain yang berteriak dan menjerit-jerit.
"akhirnya....keluar juga..." ucap Rani
"eh...tadi lihat tidak? Ada putih-putih yang bergelantungan di pohon yang paling besar" ucap salah satu teman Dina
__ADS_1
"benarkah?" tanya Rani antusias karena ia yang paling penakut
"benar....awalnya aku hampir saja berteriak, tapi sekilas melihat ada tali aku tidak jadi berteriak" jawab cewek itu sambil terkekeh.
"untung saja mengikuti saran Dina, coba kalau tidak pasti aku sudah pingsan" ucap Rani dengan wajah polosnya
Mereka melanjutkan perjalanan mereka yang masih kurang lebih satu kilometer lagi. Mereka mulai merasa lega karena sudah mendekati area sekolah mereka.
Mereka mulai bernyanyi-nyanyi untuk menghilangkan rasa takut, lelah dan kekesalan mereka. Meskipun tidak ada yang benar-benar pintar bernyanyi, tapi cukup untuk menghibur diri.
Mereka telah sampai di lapangan bawah, tempat tenda-tenda mereka berada.
"kenapa sepi ya...? Apa kita masih harus dikerjai lagi di sini?" tanya Santi yang berada paling depan
"paling mereka sudah tidur..." ucap Dewi asal
"sudah...sudah...lapor ke senior yang jaga dulu saja kalau kelompom kita sudah kembali" ucap Rani
Mereka berbaris di depan senior mereka yang berjaga di lapangan. Santu selaku ketua kelompok melapor kepada senior bahawa kelompok mereka sudah kembali.
Dan dari senior itulah, mereka tahu kalau ternyata kelompok Dina yang pertama kali sampai di sekolah. Dina dan kawan-kawan heran, mereka tadi berangkat bukan yang pertama tapi kenapa mereka bisa sampau yang pertama.
Karena lelah memikirkan segala kemungkinan, mereka memutuskan untuk beristirahat. Tidur di tenda tanpa berganti baju, karena mereka masih takut tiba-tiba disuruh berkumpul lagi sewaktu mereka sudah tidur dengan nyenyaknya.
.
.
B e r s a m b u n g
Jangan lupa pencet tombol favorit ya...
Ditunggu juga like, komen, dan votenya
Terima kasih sekebon bestie
__ADS_1