Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 55 Kejujuran Dina


__ADS_3

Setelah Ani selesai melakukan pembayaran mereka semua pulang. Ada beberapa yang langsung pulang. Sedangkan Dina harus ke rumah Ani dulu karena Roy yang mengantar Ani memakai motor milik Toni. Sedangkan Toni berboncengan dengan Dina naik motor milik Dina.


Sewaktu di tempat parkir Toni sengaja sedikit memperlambat jalannya, sengaja ingin berdua dengan Dina lebih lama.


"Din, kamu mau 'kan memaafkan aku?" Toni meraih tangan Dina yang berjalan di depannya


"aku sudah memafkan kamu Ton" ucap Dina melepaskan genggaman Toni perlahan.


"tolong beri aku kesempatam kedua Din, untuk memperbaiki hubungan kita" ucap Toni dengan nada sendu


"maksud kamu Ton?" Dina bingung maksud Toni itu apa


"maksud aku bisakah kita bersama-sama lagi seperti dulu?" ucap Toni dengan nada serius


"maaf Ton aku enggak bisa" Dina mempercepat jalannya ke arah motornya


"kenapa Din? Apa karena apa yang kamu dengar tempo hari?" ucap Toni mulai tidak bisa menahan perasaannya


"aku sudah punya pacar Ton" ucap Dina berterus terang


"dengan siapa Din?" suara Toni mulai meninggi membuat Ani dan Roy yang berada tak jauh dari tempat Dina dan Toni berdiri menoleh ke arah mereka


"kamu tidak perlu tahu dengan siapa aku berpacaran" ucap Dina datar


"apa jangan-jangan itu hanya alasanmu saja? " tanya Toni mulai melembut


"seiring berjalannya waktu kamu pasti akan tahu" ucap Dina sambil memakai helmnya


"aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu kembali Din" ucap Toni menahan emosinya.


"sayangnya, aku sudah menjadi milik orang lain" ucap Dina datar


"akan aku buktikan jika akulah yang terbaik untukmu" Toni memakai helmnya


"itu mereka kenapa Roy, sepertinya mereka sedang bertengkar" ucap Ani ke Roy penuh tanda tanya


"entah" Roy mengedikkan bahunya


"itu bukan urusan kita An, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka kita tidak perlu ikut campur" lanjutnya

__ADS_1


"tapi aku merasa tidak enak Roy, aku yang mengajak Dina dan membuat Dina harus berboncengan dengan Toni" ucap Ani dengan nada penyesalan


"sudah tidak apa-apa An, mereka memang butuh bicara, aku hanya ingin melihat Toni dan Dina bisa rukun kembali" ucap Roy


"Tapi nyatanya, sepertinya bukan rukun malah mereka ribut-ribut begitu" Ani mencebik


"sudah...sudah...ayo aku antar" Roy menyalakan motor milik Toni dan menyuruh Ani naik ke boncengannya. Mereka meninggalkan Dina dan Toni.


Melihat Ani dan Roy yang sudah pulang terlebih dahulu akhirnya Toni juga melajukan motor Dina. Tidak ada pembicaraan di antara mereka. Dina hanya diam karena merasa kesal dengan Toni, andaikan Toni tak membahas masalah mereka lagi, Dina pasti akan bersikap biasa saja.


Toni menahan rasa sesak di dadanya karena menerima kenyataan kalau Dina sudah punya pacar entah itu benar atau hanya alasan Dina semata yang jelas itu cukup melukai perasaannya. Tak terasa air mata menetes dari sudut matanya.


Toni merasa usahanya selama ini sia-sia. Andaikan dia bisa mengulang kembali waktu kebersamaannya dengan Dina pasti dia akan lakukan yang terbaik untuk hubungan mereka berdua, sayangnya semua tidak mungkin terjadi.


Dina yang tidak pernah menuntut macam-macam. Yang selalu sabar ketika Toni lebih sering menghabiskan waktunya bersama teman-temannya yang tidak pernah menghiraukan kebahagiaan Toni. Teman-teman yang hanya menjadi benalu bagi Toni dan celakanya dia menyadarinya setelah Dina perlahan menjauh dari hidupnya.


Dengan pikiran kalut Toni melajukan motor Dina dengan kecepatan rendah, antara dirinya ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan Dina dan terlalu banyak yang ia pikirkan dan ia sesali.


Menyesali setiap perbuatan yang pernah ia lakukan, menyesali perlakuannya terhadap Dina. Semarah-marahnya Dina ia tak pernah benar-benar mengabaikannya, tapi kini tak ada lagi perhatian untuknya lagi.


Tak terasa mereka berdua sudah sampai di rumah Ani. Di sana Ani dan Roy sudah menunggu mereka.


"lihatlah wajah Toni An...." bisik Roy


"iya....tampak kacau begitu, dan matanya seperti habis menangis" bisik Ani


Setelah menurunkan Toni dan mengucapkan terima kasih ke Ani, Dina bergegas pulang karena sudah sore dan dia juga sudah lelah.


Hari sabtu yang seharusnya dia lalui dengan keceriaan, terpaksa dia lalui dengan kekesalan. Sepanjang perjalanan pulang dia masih terngiang-ngiang akan ucapan Toni.


'Toni, bukan aku tidak mau memberikan kamu kesempatan kedua, hanya saja aku butuh waktu menyembuhkan luka ini. Kalau memang Tuhan mengijinkan suatu saat kita akan bisa bersama-sama lagi' batin Dina


"ada apa denganmu Ton?" Roy menepuk bahunya


"Dina sudah punya pacar" ucap Toni terduduk di depan pagar pintu rumah Ani


"apa kubilang....aku sudah curiga dari kemarin..." ucap Ani berdiri menghadap Toni yang tertunduk


"sepertinya tak ada lagi kesempatan untukku..." ucap Toni lirih

__ADS_1


"Dina masih menyayangimu Ton..." Ani mencoba menghibur


"itu katamu An...tidak usah menghiburku" Toni menengadahkan wajahnya menatap Ani


"percayalah padaku, yang dia butuhkan hanya waktu" ucap Ani yakin


"entahlah An...aku tak berani berharap lagi, sepertinya Dina sangat membenciku"


"aku mengenal Dina Ton..... Dia tak akan pernah membencimu, kamu ingat mantan Dina mas Bimo?" tanya Ani


"mereka masih berhubungan baik sampai sekarang, padahal Dia juga telah menyakiti perasaan Dina" terang Ani


"tapi kan dia sudah lulus An" Roy mengerutkan dahinya


"beberapa kali Dina membaca surat dari mas Bimo di depanku, dan Dina masih mau membalas surat itu"


"jadi dia juga masih berhubungan dengan mantannya? kesempatanku semakin sedikit...." ucap Toni dengan nada sendu


"Dina itu selalu baik dengan semua orang Ton...tapi tidak semua orang ia sayangi, kamu lihat aku, bertahun-tahun aku menunggunya, tapi dia memilih kamu atau Bimo" ucap Roy


"sampai sekarang kamu masih menunggu Dina?!" Toni mulai tersulit emosinya


"apa salahnya aku menunggunya? dia cinta pertamaku Ton...tapi aku sadar perasaan tak mungkin bisa dipaksakan, Dina memang menyayangiku tapi hanya sebagai sahabat tidak lebih, justru sainganmu itu adalah Widi, Dina lebih sering menghabiskan waktu dengannya, bahkan papanya Dina pun memyukai kehadiaran Widi" terang Roy


"kalian tidak usah berantem! Biarkan Dina yang memilih, cinta itu tak bisa dipaksakan Ton!" Ani mulai kesal karena dua temannya itu mulai bicara dengan raut wajah yang sulit diartikan


Beberapa hari berlalu sejak kejadian itu, semua kembali seperti biasa. Dina dengan kesibukannya belajar untuk persiapan ujian akhir dan juga sedang harap-harap cemas menanti kabar penerimaan program siswa unggulan di kampus 'B'.


Toni juga sedikit menjauh dari Dina, dia tidak lagi terlihat mengejar-ngejar Dina. Toni mulai menjalankan rencananya membalas Bian. Toni mulai membuka diri dengan Bian, ia tak lagi acuh terhadap Bian.


Ia ingin perlahan mengembalikan hubungannya dengan Bian hingga akrab seperti dulu. Kemudian Toni akan berusaha lebih dekat dengan adiknya Bian. Tapi ia hanya akan mempermainkan perasaannua saja.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2