Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 225 Audit


__ADS_3

Dina larut dalam tumpukan kertas hingga ia melupakan jam makan siangnya. Pak Eko pun juga sama, mereka berdua bekerja sama mencari akar masalah hingga mengakibatkan hotel itu merugi.


Dina pun juga tidak tahu jika ada puluhan panggilan tak terjawab di ponselnya karena tasnya tertinggal di ruangan Johan tadi. Menjelang sore, mereka berdua mulai menemukan apa penyebab kerugian hotel tersebut. Pengeluaran yang tak masuk akal, serta pemasukan yang tak seimbany dengan jumlah pengunjung hotel.


.


Di kota K tepatnya di kantor pusat Wijaya Group, Toni uring-uringan karena dari pagi Dina tak bisa ia telepon. Satu pesan pun tak ada yang dibalas oleh Dina. Pak Eko pun juga sama, tak bisa dihubungi. Toni menelpon Jaya hotel menanyakan tentang Dina dan hanya mendapat informasi Dina berada di ruangan GM.


Toni kawatir, mengingat Dina pergi dengan siapa. Meskipun Pak Eko sudah berubah dan menjadi orang kepercayaan papanya namun ia tak bisa mengalihkan pikirannya begitu saja. Pak Eko yang mantan casanova bisa saja tertarik dengan Dina.


Toni semakin murka ketika jam makan siang, tak ada yang bisa memberikan kabar tentang Dina padanya. Toni menyambar jasnya dan kunci mobilnya.


"Rama...batalkan semua acaraku hari ini" ucap Toni dingin di depan meja Rama


"tapi bos...anda haruss...." ucapan Rama menggantung di udara ketika tiba-tiba Toni pergi meninggalkannya.


Toni mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia begitu kawatir dengan keadaan Dina, ia takut terjadi sesuatu pada Dina. Hanya satu jam ia telah sampai di hotel jaya.


Toni masuk ke lobi dengan wajah yang menyeramkan, semua tak ada yang berani menatapnya.


"Dimana Ibu Dina?!" tanya Toni menahan amarahnya


"di...di...ru..ang rapat Tuan...." jawab salah satu resepsionis. Toni langsung meninggalkan lobi dan berjalan menuju ruang rapat.


Di ruang rapat, Dina masih sibuk menggali lagi temuan-temuannya bersama Pak Eko di sampingnya yang melakukan hal yang sama. Di ruangaj itu tak hanya Dina dan Pak Eko, namun masih ada beberapa menejer yang laporan mereka masih diperiksa oleh Dina.


Mereka tak ada yang berani meninggalkan ruangan itu karena Dina hari ini tampak menyeramkan, mereka takut jika mereka dipecat gara-gara meninggalkan ruang rapat diam-diam.


Mata mereka pun semakin membulat, ketika anak pemilik perusahaan masuk ke ruangan itu dengan wajah yang tak kalah menyeramkan dengan Dina.

__ADS_1


Dina masih berusaha membaca lagi semua laporan-laporan, ia takut jika ada satu saja masalah yang terlewat. Dina masih tak menyadari seseorang berdiri di hadapannya menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"kamu sudah makan?" Toni membuka suaranya


"nanti....tanggung aku masih banyak kerjaan" jawab Dina tanpa mengangkat wajahnya


"ini sudah jam berapa?" ucap Toni lagi. Dina mengacuhkan ucapan Toni, ia masih belum menyadari jika Toni yang sedang mengajaknya berbicara. Sedangkan Pak Eko menatap Toni dan mendapat anggukan oleh Toni. Pak Eko pun meninggalkan Dina karena ia memang sudah menahan lapar dari tadi.


"jadi angka-angka itu lebih menarik daripada aku ya?" Toni mulai kesal. Dina pun mendongak menatap siapa yang ada di depannya.


"lhoh...sejak kapan kamu berada di sini?" Dina menegerutkan dahinya dan menatap sekitar masih ada beberapa orang yang menatap ke arahnya dengan wajah yang sulit diartikan.


"kamu belum makan kan? Ayo...." Toni menarik tangan Dina di depan para karyawan nereka.


"kalian juga istirahatlah dulu...." ucap Toni datar


Para menejer dan GM yang tersisa pun sontak mengelus dada mereka karena merasa terselamatkan oleh Toni. Entah kenapa, kini Dina lebih tampak menakutkan dari pada Toni.


"kenapa susah dihubungi? Hem...?" tanya Toni lembut


"seperti yang tadi kamu lihat, aku sedang sibuk, bahkan aku lupa meletakkam dimana tasku" Dina mengerucutkan bibirnya


"kamu tidak tahu, aku takut setengah mati jika sampai terjadi sesuatu pada kamu, mengingat..." Toni melirik ke arah Pak Eko yang duduk tak jauh dari mereka berdua


"aku baik-baik saja sayang...." Dina membelai tangan Toni "terus yang menggantikan pertemuan dengan perusahaan XXX siapa?


"aku batalkan" ucap Toni ketus. Dina menghela nafasnya, tingkah Toni mulai lagi posesifnya.


"maaf Nona...ini tasnya" ucap sekretaris GM, ia baru berani mendekat ke Dina karena melihat Dina sudah lebih santai tidak seperti tadi.

__ADS_1


"terima kasih...oh iya...sampaikan ke GM kamu, lima belas menit lagi kita lanjutkan rapatnya" ucap Dina tersenyum tipis


"baik Nona..." ucap sekretaris itu


"tolong siapkan kamat presidential suit buat tunangan saya" ucap Dina dingin pada sekretaris yang dari tadi mencoba untuk menggoda melalui tatapan matanya


"baik tuan...." sekretaris itu pun meninggalkan mereka berdua untuk menikmati istirahat makan siang mereka.


"sayang kamu makanlah dulu... Ingat tanggal pernikahan kita tinggal sebentar lagi" ucap Toni lembut


"baiklah...." ucap Dina. Dina pun makan dengan lahap, ia memang sudah lapar sejak tadi namun karena emosinya, ia mengabaikan jam makan siangnya. Sesekali Toni menyuapi Dina, semua karyawan yang tak semgaja melewati restoran itu terkesima, seorang Toni Wijaya yang terlihat dingin dan angkuh bisa terlihat manis di depan tunangannya.


Dina dan Toni sudah selesai makan, Toni pun berdiri menghampiri Pak Eko yang duduk tak jauh dari mereka. "Bapak pulang saja, biar Dina saya yang menemani, saya juga minta tolong bapak bisa menggantikan saya bertemu dengan perwakilan perusahaan XXX" ucap Toni sopan


"baik Mas....nanti saya hubungi pihak perusahaan XXX untuk mengatur ulang pertemuannya" ucap Pak Eko


"barang-barang saya tolong titipkan saja pada resepsionis ya pak, maaf merepotkan" ucap Dina tak enak hati


"tenang saja....saya menemani Non Dina atas perintah tuan Yanuar, beliau berpesan agar saya menjaga dan membantu nona" ucap Pak Eko "kalau begitu saya permisi"


Dina dan Toni pun kembali ke ruang rapat. Toni lebih santai daripada Dina, raut wajah Dina masih sama seperti tadi, terlihat menakutkan. Toni di sini menemani Dina, bukan sebagai CEO karena ia sudah melimpahkan tugas audit di hotel Jaya kepada Dina.


Toni duduk tenang, memperhatikan Dina yang sibuk dengan angka-angka, yang semakin ia kejar semakin mendapatkan temuan-temuan baru.


Dina merasa benar-benar lelah, baru kali ini ia melakukan audit yang benar-benar menyita waktu dan pikirannya. Meskipun banyak angka yang janggal, namun ia belum bisa menemukan siapa-siapa yang sedang bermain dengan uang perusahaan.


.


.

__ADS_1


.


B e r s a m b u n g


__ADS_2