
Dina tak bisa berkata-kata. Ini ucapan Toni paling panjang untuknya yang diucapkan di depan umum. Dina menatap Toni dengan tatapan yang sulit diartikan.
"beberapa kali kamu menolakku dan mengatakan kamu butuh waktu untuk melupakan semua hal yang menyakitkan di masa lalu, tapi aku tak menyerah untuk membuatmu membuka hatimu lagi untukku"
"Din...ini yang terakhir kalinya aku akan mengatakannya, maukah kamu memberikan kesempatan kedua untukku? Aku sangat menyayangimu"
"jika kamu mau ambilah bunga ini, jika kamu tidak mau ambilah dan buanglah bunga ini dan setelah itu aku tak akan mengejarmu atau mengganggumu"
Suasana yang tadi sempat riuh karena suara bisikan-bisikan yang ada di ruangan itu mendadak menjadi hening. Semua menunggu apa yang akan Dina lakukan.
Dina terdiam, ia begitu terharu dengan apa yang Toni lakukan, ia berpikir keras apakah memang sudah saatnya merelakan semuanya dan memulai lembaran baru.
Jantung Toni berdegup kencang ia gugup dan takut Dina akan menolaknya kembali, padahal sebelum ia melakukannya ia yakin Dina akan menerimanya. Melihat Dina yang terdiam dengan mata yang berkaca-kaca ia merasa harapannya tinggal angan-angan.
Dina melangkah ke depan sedikit mengikis jarak di antar mereka. Dina menatap Toni berusaha mencari adakah kebohongan di matanya, namun tak ia temukan.
Sorot mata Toni terlihat tulus dan penuh harap. Kemudian tatapan Dina tertuju pada bunga yang dipegang Toni. Dina meraih bunga yang dipegang Toni dan menatapnya.
Dengan perasaan cemas, Toni memberikan michropone yang ia pegang pada Ridwan yang ada di sebelahnya. Toni menatap Dina penuh harap.
Dina memegang bunga itu dengan tangan kanannya kemudian menurunkannya sambil menatap Toni. Dina masih berpikir apakah ia harus membuang bunga itu atau menerimanya.
Dina kembali menaikkan bunga itu tepat di depan dadanya dan tersenyum pada Toni. Namun Toni terlihat kebingungan dengan apa yang Dina lakukan.
"jadi?" tanya Toni dengan suara bergetar. Dina tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Senyum Toni mengembang, penantiannya selama ini berakhir.
"terima kasih...terima kasih..." Toni memeluk Dina matanya berkaca-kaca. "Aku berjanji tak akan mengecewakan kamu lagi"
Suasana di dalam ruangan riuh kembali, semua karyawan membicarakan apa yang baru saja terjadi, ada yang suka ada juga yang mencibirnya.
Sedangkan dari sudut ruangan, ada seseorang yang menatap mereka dengan pandangan tak suka. Dia begitu marah melihat Toni yang bersedia mempermalukan dirinya untuk seorang cewek yang tidak lebih cantik dari dirinya.
"bagaiman bisa Toni memilih cewek itu, kamu pasti tidak berusaha mendekatinya" ucap pak Herman bapaknya Andini
"aku sudah melakukan semuanya pa..."
"papa tidak mau tahu kamu harus bisa merebut Toni lagi"
Andini bertekat akan menghancurkan hubungan Toni dan Dina, ia begitu menginginkan Toni, ia tak mau orang lain merebutnya.
Toni masih memeluk Dina, ia benar-benar bahagia, baginya ini sebuah awal masa depan yang selama ini ia rencanakan. Dari arah belakang Dina, Tere berjalan membawa kue ulang tahun.
__ADS_1
Toni memberi aba-aba pada Ridwan untuk menyalakan lilinnya dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Dina terkejut ia melepaskan pelukan Toni dan berbalik arah menatap Tere yang berjalan ke arahnya membawa kue ulang tahun untuk Dina. Semua yang berada di ruangan itu kembali melihat ke arah belakang.
"kak Tere....!"
"aku enggak salah kan mengajak kamu ke acara ulang tahun temanku" Tere terkekeh
"kakak jahat..." rengek Dina sambil menitikkan air mata
"kenapa aku jahat...aku kan enggak salah Din..." protes Tere
Toni mengambil kue yang dipegang oleh Tere "sekarang ucapkan keinginanmu dalam hati, terus tiup lilinnya"
Dina pun memejamkan matanya sebentar kemudian ia meniup lilinnya. Suara tepuk tangan menggema di ruangan itu dan band yang disewa Ridwan pun menyanyikan lagu-lagu kembali untuk menghibur mereka semua.
"selamat ulang tahun ya Din...jangan marah padaku, marahlah pada pacarmu itu" Tere terkekeh
"tetap saja kalian bersekongkol membuatku malu" Dina kesal
"malu...malu kenapa?"
"ya ini...mengerjaiku di depan banyak orang..." Dina mengerucutkan bibirnya
"jadi kamu malu, pacaran denganku?" Toni membuka suaranya
"sudah...sudah...kalian ini baru saja jadian udah berantem" ucap Tere
"princess...selamat ulang tahun ya...ini untukmu..." Toni memberikan kotak kecil kepada Dina. "bukalah..."
Dina membuka kotak itu, dan ia pun tersenyum "tak perlu memberi kado yang mewah untukku" Dina mengembalikan kotak yang ia buka
"ini tidak mewah Din...ayo aku pakaikan" Toni membuka kotak dan mengambil kalung emas yang ia persiapkan jauh-jauh hari untuk Dina kemudian memakaikannya di leher Dina.
"terima kasih Ton..." ucap Dina tersenyum
"ehem...ehemmm....ini kita enggak dikasih makan begitu?" celetuk Tere
"mari kak...kita ambil makan" ucap Raya yang dari tadi berdiri di belakang Tere
"ah...iya...kita tinggalkan pasangan baru menetas ini" Tere meninggalkan Dina dan Toni berdua
"terima kasih Din...kamu mau menerimaku lagi, aku bahagia setelah sekian lama aku menunggumu akhirnya hari ini kita bisa bersama lagi" ucap Toni menggandeng Dina untuk duduk di kursi bagian belakang
__ADS_1
Dina tersenyum "tapi aku malu Ton..." bisik Dina
"kenapa?"
"ini semua karyawan di perusahaanmu?" bisik Dina
"iya....memangnya ada apa?"
"ya aku malu, semua orang menatap ke arahku, seolah-olah aku membuatmu menderita" Dina mengerucutkan bibirnya
"biar mereka semua tahu, kalau hatiku sudah ada pemiliknya, aku capek, aku di kantor itu jadi bahan rebutan, mungkin karena aku tampan ya..."
"idih...kamu itu.... percaya dirimu tinggi sekali" Dina semakin kesal
Toni terkekeh, "tapi kamu suka kan...? Hayo ngaku..."
Dina semakin kesal "iya...iya...." Toni tergelak, semua orang menatap Toni, ini kali pertama mereka melihat direktur mereka tertawa, biasanya mereka hanya melihat wajah datar tanpa ekspresi.
"maafkan aku Ton yang terlambat menyadari perasaannku" ucap Dina
Toni tersenyum "sejak kamu sakit itu aku sudah tahu dalam hatimu kamu mulai bisa menerimaku lagi" ucap Toni lembut
"tahu dari mana?"
"aku tahu kamu Din, kalau kamu memang membenciku, kamu pasti akan nekat pulang ke kosmu meski kamu sakit"
Dina menghela nafasnya, apa yang Toni katakan memang benar. Ia dengan mudah menyetujui untuk sementara tinggal di rumah Toni. Padahal ia sudah berprinsip tak akan mau menginap di kos cowok apalagi rumah.
Dina tak mau mendapat masalah karena ia menginap di rumah cowok, namun tanpa ia sadari ia telah melanggarnya. Ia ingin dekat dengan Toni, ia nyaman bersama Toni. Bahkan ketika ia bertemu Andini ia masih saja berdiri di samping Toni. Padahal kalau ia tak memiliki perasaan, ia enggan berurusan dengan masalah yang melibatkan cowok.
.
.
.
B e r s a m b u n g
Nulis part ini, nona senyum-senyum sendiri, akhirnya sampai di bab ini.
Yuk bestie yang belum like, tolong boom likenya ya, jangan luoa komen komennya
__ADS_1
Terima kasih sekebon bestie