
Hari kedua, Dina datang ke sekolah jam tujuh kurang sepuluh menit. Karena ia naik bis umum, ia turun di depan gerbang gedung utara. Gedung sebelah utara berisi ruang kelas dua dan ruang kelas tiga, tata usaha, dan ruang guru.
Sedangkan Dina kelas satu berada di geduny sebelah selatan. Geduny sebelah selatan berisi ruang kelas satu, aula serta laboratorium kimia dan biologi, serta di bawah ada lapangan. Dua gedung itu terpisah oleh jalan.
Dina menyusuri taman depan ruang kelas tiga. Dina hanya menunduk karena ia merasa malu. Dia siswi kelas satu, anak baru di sekolah itu. Merasa tidak percaya diri karena banyak pasang mata yang menatap ke arahnya.
Dina sampai di ruang kelasnya, teman-temannya banyak yang sudah datang tapi teman sebangkunya belum datang. Dina meletakkan tasnya di kursinya kemudian ia duduk menunggu bel masuk berbunyi.
"sendirian lagi Din...?" tanya Toni yang baru datang bersama Roy
"iya...ternyata Rani belum masuk" jawab Dina
"Roy...aku duduk dengan Dina ya..." ucap Toni meletakkan tasnya di sebelah Dina duduk
"iya...iya...yang sedang ja...." ucapan Roy terhenti ketika tiba-tiba mulutnya dibekap oleh Toni
"kalian ini ada apa?" Dina menautkan kedua keningnya
"tidak...tidak...Din...tidak ada apa-apa" ucap Toni nyengir kuda
Bel masuk telah berbunyi, semua siswa masuk ke kelas. Mereka menunggu guru yang akan mengajar datang.
"eh...dengar-dengar minggu depan kita mulai pelajaran sampai sore lho..." ucap Roy memberi tahu"
"oh ya...?" tanya Dina memiringkan badannya ke arah Roy yang duduk di belakangnya
"ya jelas Roy tahu dia kan ketua kelas kita" Toni mencibir
"terus...terus...Roy...kita masuk sampai jam berapa?" Dina antusias ingin tahu
"belum tahu, katanya masih dirapatkan oleh guru-guru" ucap Roy
"yang jelas sabtu minggu ini kita akan ada perkemaahan sebagai penyambutan anggota pramuka baru" ucap Roy bersemangat
"memangnya anggota barunya siapa saja?" tanya Dina polos
"ya kita lah Din..." Toni gemas dengan kepolosan Dina
"oh...jadi kita saja apa semua kelas satu?" tiba-tiba Dina berubah menjadi polos dan tidak tahu apa-apa
"ya semua anak kelas satu lah Din...aduh...kamu ini salah makan apa sih? Kenapa mendadak bisa telmi begini? " Roy akhirnya gemas denga tingkah laku Dina
Dina yang biasa pintar, cepat menangkap semua informasi mendadak berubah menjadi siswa yang polos tidak tahu apa-apa.
__ADS_1
"yah...aku kan tidak pernah tahu, ya kalian kan punya kakak yang pernah sekolah di sini jadi bisa tahu semua informasinya" jawab Dina polos dengan wajah tanpa dosanya
"memangnya kamu tidak punya kakak di sini?" tanya Roy
"ya ada...tapi kan sepupu, jarang ketemu, yang ada mamaku dulu sekolah di sini tapi itu dulu....kan beda sama jaman kita" ucap Dina masih dengan wajah tanpa dosanya
"aduh Din...kamu itu kalau anak kecil sudah aku cubit-cubit pipimu saking gemasnya" ucap Toni gemas
"cubit aja kalau berani" ucap Dina dengam senyum smirknya
Toni sudah mengangkat kedua tangannya hendak mencubit pipi Dina tapi ia urungkan.
"kenapa tidak jadi Ton...?" tanya Dina
"nanti kalau kamu menangis aku tidak punya permen" Toni terkekeh sedang Roy tergelak
"haishh...kalian ini" Dina mencebik
Toni tersenyum memperhatikan Dina. Semakin ia mengenal Dina semakin ia tahu Dina itu unik. Terkadang bisa menjadi sosok yang dewasa, kadan menggemakan seperti anak kecil, kadang menjadi sosok yang pintar semua bisa ia kerjakan.
Ia semakin kagum dengan Dina. Dina bukan cewek yang membosankan. Sewaktu Roy menceritakan tentang Dina, ia membayangkan Dina itu cewek yang lama-lama pasti akan membosankan tapi ternyata tidak.
Kadang ada sisi Dina yang lucu yang membuatnya bisa tersenyum. Candaan mereka terhenti ketika guru kimia mereka masuk kelas. Mereka semua memperhatikan penjelasan guru mereka.
Bel istirahat pertama telah berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar kelas untuk beristirahat.
"kantin sebelah sekolah ini kantin beneran atau 'kantin' rumah Toni?" tanya Dina sambil terkekeh
"kantin...Din...kantin..." ucap Roy kesal
"oh...kantin...aku kira mau cari gratisan di rumah Toni, aku kan juga mau...eh.." Dina menyadari ia salah ucap karena mendadak Toni terkejut dan menatap Dina
""ayo...kalau kamu mau makam di rumahku...tapi kamu yang masak ya..." ucap Toni menggoda Dina
"kalau aku yang memasak waktunya habis buat memasak nanti" Dina terkekeh
"ya...sudah kapan-kapan kamu memasak di rumahku ya.." ucap Toni mendadak serius. Yang mengetahui maksud Toni yang sebenarnya hanya Roy
"sudah...sudah...ayo jadi makan atau tidak, keburu masuk lagi..." Roy beranjak dari duduknya
"iya...tapi kamu yang traktir ya..." Dina nyengir kuda
"ah...iya...iya ayo cepat...aku lapar..." Roy berjalan mendahuli Toni dan Dina.
__ADS_1
Toni dan Dina mengikuti Roy dari belakang, sebenarnya mereka berdua belum lapar tapi karena Roy sedang berbaik hati mentraktir mereka jadi mereka mau saja makan.
"sudah aku pesankan..." ucap Roy menghampiri Toni dan Dina duduk bersebelahan
"terima kasih Roy...sering-sering ya..." Dina terkekeh
Tiga mangkok soto dan tiga gelas es teh sudah tersaji di meja mereka. Dina mulai dengan ritualnya, mencicipi kuah sotonya kemudian memasukkan seujung sendok sambal, memeras jeruk nipis dan menambahkan sedikit garam ke mangkoknya kemudian ia mengaaduknya.
Toni hanya memperhatikan apa yang dilakukan oleh Dina.
"kamu kalau makan soto harus seperti itu ya?" tanya Toni sambil mengambil sambal
"iya...memangnya ada apa?" tanya Dina heran
"tidak...tidak apa-apa...hanya tanya saja..." Toni nyengir kuda
"sudah.....sudah..ayo makan, atau kalian mau bayar sendiri-sendiri!" ancam Roy
Mereka bertiga makan dengan cepat, takut keburu bel masuk. Setelah selesai makan Roy membayar makanan mereka.
"dalam rangka apa Roy mentraktir kita? Setahuku ulang tahunnya masih lama" ucap Dina sambil berbisik agar Roy tidak mendengarnya
"syukuran jadi ketua kelas" jawab Toni juga berbisik
"cuma jadi ketua kelas saja syukuran?" Dina membelalakkan matanya
"sssttt...jangan kencang-kencang Din...aku juga tidak tahu, asal tebak saja " Toni tergelak
"haishh....kalian ini tidak lucu" Dina mencebik kemudian ia bangkit berdiri dan berjalan kembali ke kelas
"Dina kenapa?" tanya Roy yang heran tiba-tiba Dina meninggalkan mereka
"entah...sakit perut mungkin" Toni mengedikkan bahunya
Toni dan Roy juga kembali ke kelasnya. Sesmpainya di depan pintu kelasnya, ia mendapati Dina yang sedang asyik bercanda dengan Widi. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan Dina dan Widi. Tapi Toni telanjur cemburu.
.
.
B e r s a m b u n g
Yang belum pencet tombol favorit, pencet dulu ya bestie...
__ADS_1
Jangan lupa ritualnya, like, komen dan votenya ya...
Terima kasih bestie