Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 76 Meminta bantuan


__ADS_3

Toni benar-benar menjaga jarak dengan Andini, ia mulai mencari rumah yang akan ia tempati nantinya di kota J. Ia mencari sendiri di komplek perumahan baru maupun lama. Mencari rumah yang sesuai dengan keinginannya dan juga sesuai dengan kemampuannya.


Ketika di kantor seolah-olah ia diteror oleh Andini, ketika Andini datang ia pura-pura sibuk dan kadang ia meninggalkan Andini dengan alasan bertemu klien. Meskipun Andini marah, ia tak menghiraukannya. Andini membuatnya tak bisa leluasa bekerja.


Kadang ketika kantornya sedang sepi, Andini sengaja menggodanya, tapi diacuhkan oleh Toni. Ia tak mau terjebak untuk yang kedua kalinya. Ia tak mau terjerumus dalam hubungan yang tidak sehat, karena baginya Andini hanyalah pelariannya.


"kamu sengaja menghindariku Ton...!!" teriak Andini


"menghindar bagaimana An...?"


"beberapa hari terakhir kamu mengacuhkan aku!"


"kamu tahu sendiri aku sedang sibuk mempersiapkan kerja sama penting dan juga kepindahan kantor ini!"


"itu hanya alasan kamu saja!"


"memang kenyataannya begitu"


Toni beranjak berdiri meninggalkan Andini di ruangannya. Ia keluar kantor tanpa pamit pada siapapun, ia tak ingin orang-orang di kantornya mengetahui urusan pribadinya.


Ia mengendarai mobilnya pergi ke kos kakaknya. Ia bingung bagaimana harus menghadapi Andini, ia butuh saran dari kakak perempuannya.


Sepuluh menit berkendara, Toni telah sampai di kos kakaknya. Ia turun dari mobilnya kemudian ia masuk dan mengetuk pintu kamar kakaknya.


"kak..."


Tak ada jawaban dari kakaknya, Toni kembali mengetuk pintu kamar kakaknya. "Kak...buka...atau aku dobrak...!" teriak Toni


Tak lama, pintu dibuka terlihat Vanya kakak Toni terlihat seperti baru bangun tidur. "Jam segini baru bangun?!" Toni memaksa masuk ke dalam kamar kakaknya


"eehhh....." Vanya panik


"kenapa ada cowok di sini?"


"dia pacarku Ton..."


"kakak ini, kalau sampai mama papa tahu bisa-bisa nama kakak dicoret dari kartu keluarga" ucap Toni kesal


"kakak sedang malas berdebat, nanti kamu juga pasti seperti kakak kalau sudah tahu rasanya" Vanya terkekeh


"aku tidak seperti kakak, yang suka gonta-ganti pacar!" kesal Toni

__ADS_1


"sekarang kamu kenapa pagi-pagi ada di sini?" ucap Vanya sambil membangunkan pacarnya dan menyuruhnya pulang


Tanpa memperkenalkan dirinya, pacar Vanya keluar begitu saja dari kamar Vanya. "tidak sopan!" ucap Toni ketus


"kak...bagaimana cara memutuskan pacar?" ucap Toni tanpa basa-basi


"kamu sudah punya pacar? Berarti sudah pernah donk...." goda Vanya


"kakak ini....pikirannya langsung ke situ" Toni emngerucutkan bibirnya "justru karena itu aku ingin memutuskan dia"


"kenapa? Servisnya kurang memuaskan?" Vanya tergelak


"kakak....!aku serius!" Toni semakin kesal


"terus kenapa? Eh...pacar kamu itu anak om Herman?"


"kakak tahu dari mana?" Toni menyelidik


"enggak penting tahu dari mana? Jawab pertanyaan kakak dengan jujur" Vanya duduk di atas kasurnya


"iya anak om Herman, aku kira ia benar-benar pemalu dan pendiam ternyata dia lebih parah dari kakak, baru juga sehari jadian, keliatan aslinya dan keliatan dia sudah biasa bercinta enggak punya malu sama sekali" Tonu kesal


"tapi enak kan....?" goda Vanya


"terus kenapa kamu mau mutusin dia?"


"ya itu tadi baru sehari jadian dia datang ke kontrakan kakak tahulah ngapain, habis itu dia minta dibeliin ini itu....minta diantar jemput seperti tuan putri...pokoknya jauh banget dari Dina"


"Dina lagi....Dina lagi....kayak enggak ada cewek lain" Vanya mencibir


"kakak kalau kenal dia pasti deh seneng....pasti bilang calon ipar idaman"


Toni kembali lagi mengingat semua kenangan dirinya dengan Dina. Menceritakan semua tentang Dina pada Vanya, meski ia sudah pernah menceritakan semua tentang Dina.


"jadi itu anak om Herman hanya kamu jadikan pelarian?" vanya tak habis pikir pada adiknya itu


"awalnya memang begitu, siapa tahu cocok dan aku bisa jatuh cinta padanya, ternyata....aku salah"


"terus bagaimana? Kamu mau mutusin dia?"


"iya kak ...daripada aku semakin terjerumus pada hal yang enak-enak" Toni tergelak

__ADS_1


"kamu bicara baik-baik padanya mungkin dia bisa mengerti" Vanya memberi saran seperti yang selama ini ia lakukan


"susah kak .... Aku minta tolong bisa kak?"


"apa? asal jangan minta duit saja"


"sementara waktu, kakak gantiin aku mengawasi kantor ya....aku mau ngurus kuliah dulu sudah dua minggu aku enggak ke kampus gara-gara masalah kantor dan masalah ini"


"berani bayar berapa?" ucap Vanya sambil menengadahkan tangan kanannya pada Toni


"uang sakuku sebulan ya kak...." rayu Toni


"aku kira kamu kaya ternyata miskin" cibir Vanya


"gajiku dipotong buat cicilan rumah kak....aku mampunya segitu mau nolong aku apa enggak?"


"iya deh...iya...eh kamu dapag rumah di mana?"


"itu belakang kampus dua Universitas A"


"berarti kapan-kapan aku boleh dong numpang tidur"


"boleh asal jangan bawa pacar" ucap Toni kesal


"beres....aku jagain kantormu dari para ulat bulu, kalau perlu aku basmi sekalian"Vanya tergelak


"tapi kamu harus memutuskan anak om Herman secepatnya, takutnya kantormu itu tiba-tiba diambil alih oleb bapaknya"


Toni tidak berpikir sampau sejauh itu. Meski kadang Vanya itu nyleneh, tapi pemikiran dia kadang-kadang diluar nalar dan itu sangat membantunya.


Ia tidak pernah berpikir Andini dimanfaatkan oleh bapaknya untuk mengambil keuntungan dari hubungan mereka. Toni menjadi semakin mantap untuk memutuskan Andini.


Ia tak mau, hubungannya denga Andini membawa dampak buruk bagi usaha yang ia kembangkan. Apalagi sampai mempengaruhu usaha induk yang dibangun papanya.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


Nona Mengucapkan Selamat hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin bagi para readers tercinta 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


__ADS_2