Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 154 Luluh


__ADS_3

Toni mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedikit tinggi. Ia masih berusaha meredam emosinya, pikirannya pun masih kalut. Ia memikirkan dua peristiwa yang membuatnya emosi.


Malam ini ia bertemu orang yang ia hindari, yang ternyata keponakan Om Ferdi yang sudah ia anggap sebagai orangtua kedua baginya. Toni berusaha untuk diam karena ia menghargai om Ferdi.


Dan lagi, malam ini ia harus mendapati Dina bersama mantannya. Rasa cemburunya yang begitu besar muncul begitu saja. Lagi-lagi dia harus menahan emosinya, karena ia tak ingin mengingkari janjinya pada Dina.


"sayang...." ucap Dina lembut sambil membelai lengan Toni. Toni terhenyak, ia menoleh ke arah Dina "kenapa?"


"aku lapar....tadi belum jadi makan..." rengek Dina


Toni menghela nafasnya "jadi kamu belum makan?"


Dina menggelengkam kepalanya "aku baru saja duduk mau menikmati makanku, tapi keburu ada orang yang menggangguku" ucap Dina lirih


"apa yang dia lakukan padamu?!" Toni terpancing emosinya


"nggak ada...dia hanya duduk terus kamu datang..." ucap Dina mulai ketakutan melihat Toni yang mulai terlihat menahan emosi. Toni membelokkan mobilnya ke sebuah restoran mewah.


"kenapa makan di sini?" protes Dina


"baju kita seperti ini, mau makan di kaki lima?" ucap Toni kesal, Dina hanya bisa bersabar dan diam mengikuti apa mau Toni.


Dina mengikuti Toni masuk ke dalam restoran, mereka duduk di sudut yang terlihat agak sepi. Toni masih saja diam, ia tak mengucapkan sepatah katapun di depan Dina.


"kenapa diam saja?" tanya Dina lembut, Toni menatap Dina dengan tatapan yang sulit diartikan. Sampai makanan mereka habis, Toni masih mendiamkan Dina.


Toni mengantar Dina pulang ke kosnya. Dina bingung, tak biasanya Toni begitu, biasanya jika ada masalah ia harus menginap di rumah Toni.


"baiklah....kalau kamu masih marah, temui aku ketika emosimu sudah mereda..." ucap Dina kecewa kemudian membuka pintu mobilnya, namun Toni mencekal tangannya.


"ada apa?" Dina menatap Toni heran


"jangan turun" ucap Toni datar. Dina pun menutup kembali pintu mobilnya. Belum juga Dina jadi membuka mulutnya, Toni sudah melajukan mobilnya.


Toni membawa Dina ke vilanya yang terletak di sebelah restoran milik mereka. Dina masih berusaha bersabar menghadapi Toni.


Ia tahu Toni sekuat tenaga mengendalikan emosinya, terkadang ia merasa tak adil ketika dirinya marah Toni juga ikut marah padanya, namun ketika Toni yang marah ia juga yang harus meredam kemarahan Toni.


Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Toni masuk ke dalam kamarnya, Dina mengikutinya ia menahan kesalnya karena Toni terus mendiamkannya. Tanpa melepas bajunya Toni merebahkan dirinya di tempat tidur dan memejamkan matanya.

__ADS_1


Dina pun membersihkan dirinya dan ingin mengganti pakaiannya dengan baju yang yang ada di lemari yang sudah Toni siapkan untuknya, namun baju yang ada di lemari hanya ada dua macam, baju tidur terbuka dan dress.


Dina keluar dari kamar mandi dengan perasaan sedikit kesal, tak ada pilihan lain selain ia mengenakan pakaian tidur kurang bahan yang ada di lemari.


Namun ia berusaha untuk menahannya, jika protes ia takut hanya akan memperkeruh keadaan. Dina naik ke atas tempat tidur dan mendapati Toni sudaj tertidur.


Ia pun melepas kaos kaki yang dipakai Toni kemudian memakaikan selimut karena udaranya begitu dingin. Ia pun merebahkan dirinya di sebelah Toni.


Lama Dina berusaha memejamkan matanya namun tak kunjung tertidur, ia berusaha mengganti posisinya berkali-kali namun tetap tak bisa tertidur.


Ia masih memikirkan Toni yang marah padanya. Ia merasa tak seharusnya Toni semarah itu padanya, semua di luar kendalinya, ia juga tak ingin bertemu dengan orang yang selama ini ia hindari.


Toni merasa terusik dengan pergerakan Dina, ia pun membuka matanya dan menoleh ke sampingnya melihat Dina memunggunginya.


Toni memeluk Dina dari belakang "kenapa belum tidur?" ucap Toni


Dina membalik badannya "kenapa terbangun?"


Toni diam tak menjawab, ia menegeratkan pelukannya pada Dina. "Sayang...mau sampai kapan kamu diam begini?" ucap Dina lembut sambil menatap wajah Toni


Toni masih tak menjawab, Dina sudah kehabisan akal. Ia kesal Toni masih tak mau berbicara padanya. Akhirnya ia pun mencium bibir Toni dengan lembut, semakin lama semakin dalam.


Setelah semua kancing terlepas, Dina melepaskan ciumannya. Ia duduk di atas tubuh Toni dan menatap Toni dengan tatapan kesal.


"kenapa berhenti?" ucap Toni dengan mata yang berkabut


"kenapa kamu mendiamkan aku?" Dina turun dari tubuh Toni kemudian merebahkan tubuhnya di sebelah Toni.


"Dina...!" Toni kesal


"dari tadi di pesta kamu mendiamkan aku, kamu membawaku ke sini pun kamu masih mendiamkan aku, dan giliran aku menggodamu kamu membuka mulutmu" Dina kesal kemudian ia memunggungi Toni kembali.


Kini ia bisa memejamkan matanya karena berhasip meluapkan kekesalannya pada Toni. Toni yang memintanya jika ada masalah jangan mendiamkannya, kini Toni sendiri yang mendiamkan Dina.


"Dina....ayolah...kamu berhasil membangunkan aku, kenapa kamu malah tidur" Toni menggoyang-goyangkan tubuh Dina


"aku mau tidur Ton..." ucap Dina acuh


"baiklah....aku marah...aku cemburu kalau kamu mau tahu kenapa...? Karena kamu asyik bernostalgia dengan mantanmu!"

__ADS_1


"sudahlah Ton...kamu sendiri tahu kejadiannya jangan mencari alasan" ucap Dina masih sambil memejamkan matanya


"tapi aku tetap nggak rela kamu bertemu dengannya..." Toni meraih tubuh Dina hingga terlentang.


"sayang....aku mau tidur...aku ngantuk..." Dina kembali lagi membalik tubuhnya


Toni menarik lagi tubuh Dina, kemudian mengukungnya. "Apa lagi sih...?"


"aku tadi juga bertemu Lea..."


Dina membuka matanya "Lea siapa?"


"dia yang membuatmu cemburu"


"bagus dong..."


"kamu nggak marah?" Toni mengerutkan keningnya


"marah? Iya aku marah...tapi kamu sedang merajuk...jadi kamu nggak tahu kalau aku marah..." ucap Dina kesal


"dia itu ternyata keponakannya om Ferdi"


"bagus dong....mamamu pintar mencarikan jodoh buat kamu" Dina mengerucutkan bibirnya


"sayang....mau dia anak presiden pun...aku tetap memilih kamu..." ucap Toni lembut sambil membelai pipi Dina


Dina hanya diam, ia menatap mata Toni dalam-dalam. Sudah lama ia mengabaikan Toni, namu dari sorot matanya ia masih bisa melihat cinta Toni tak berubah untuknya.


Tatapan dan cara Toni berbicara masih sama, selalu membuatnya luluh. Selalu tahu dimana letak kelemahan Dina. Dina selalu luluh ketika Toni menatapnya dengan tatapan teduh penuh cinta. Ia tak akan bisa menolak apa yang Toni minta jika sudah seperti itu.


.


.


.


B e r s a m b u n g


Segera meluncur bab baru ya bestie, jangan lupa boom likenya ya..

__ADS_1


__ADS_2