
Dina mengikuti Dodi masuk ke dalam ruang rawat inap Dendy. Kali ini Dina gugup dan berjalan dengan sedikit menunduk tak seperti biasanya saat ia bertemu Dendy.
"siang tante..." ucap Dodi membuat Dina menegakkan wajahnya
"eh...Dod..." sapa tante Tari "kamu sama siapa?"
"Dina tante..."
"Dina..." ucap tante Tari ramah "hampir saja tante nggak mengenali kamu, sekarang kamu semakin cantik"
"siang tante, apa kabar?" ucap Dina menutupi kegugupannya
"baik....ayo sini..." tante Tari menarik tangan Dina untuk mendekat
"iya tante....hmmm.... Dendy sakit apa? Kondisinya bagaimana? Saya baru tahu tadi kalau Dendy di sini" ucap Dina tak berani menatap Dendy yang terbaring di atas brankar dan di sebelahnya ada seorang cewek yang Dina tak kenal.
"itu tipesnya kambuh, terus kecelakaan, ya...begitu itu..." jawab Mamanya Dendy yang masih ramah namun sikapnya tak sehangat dulu
Dina menatap Dendy yang sedang disuapi oleh cewek tadi. Ada rasa cemburu di hatinya, namun ia tepis. Dendy kini bukanlah siapa-siapa, dia hanya seorang teman meskipun ada rasa di hatinya.
"sehat-sehat ya Den, cepet sembuh, cepet pulih" ucap Dina menyunggingkan senyumnya
"iya makasih ya Din, sudah datang..." jawab Dendi dengan tatapan yang sulit diartikan namun ia terlihat mesra dengan cewek itu.
"kalau begitu aku pamit ya, ada janji sama dosen"
"iya hati-hati"
Dina berbalik arah, kemudiaj ia menghampiri mamanya Dendy "tante Dina pulang dulu ya..." ucap Dina sopan
"makasih ya Din....udah menyempatkan datang" ucap mamanya Dendy sambil mencium pipi kiri dan kanan Dina
"iya sama-sama, tante juga jaga kesehatan ya..."
"iya..."
Dina keluar dari ruang rawat inap Dendy diikuti Dodi. Dina merasakan sakit di hatinya namun ia berusaha tidak menunjukkan pada siapapun.
"sudah begitu saja Din?" ucap Dodi mensejajari langkah Dina
"memangnya harusnya bagaimana Dod?"
"aku kira akan ada adegan yang mengharu biru" Dodi terkekeh
__ADS_1
"Dendy udah bahagia Dod, nggak perlu dibahas lagi" Dina memaksakan senyumnya
Dodi kehabisan kata-kata, ia tak tahu bagaimana menanggapi ucapan Dina. Dina tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Dodi ingin sekali menjelaskan namun melihat sikap Dina yang terlihat tenang dan santai membuatnya mengurungkan niatnya.
Dodi dan Dina berboncengan kembali ke kampus. Dina menurunkan Dodi di depan kampus mereka, dan ia pun pulang ke kosnya.
Sesampainya di kos, Dina memikirkan Dendy, ia melihat ada tatapan penuh harap di mata Dendy namun sikapnya berbanding terbalik dengan tatapan matanya.
Dina terbayang sikap mamanya Dendy yang dulu bersikap baik dan hangat ketika ia datang namun hari ini, mereka seolah menjaga jarak dengannya.
Dina menyimpan semua yang ia alami hari ini hanya untuk dirinya saja. Ia tak ingin membaginya dengan siapapun, ia tak ingin ada orang yang salah paham.
Keesokan paginya, Dina ke kampus untuk ke perpustakaan menyelesaikan skripsinya sebelum ia ke kantor Toni. Dina ingin menyelesaikan skripsinya secepat mungkin.
Pukul sebelas siang, Dina ke kantor Toni, ia berjalan santai menyusuri ruangan-ruangan para staf kantor itu. Pintu ruangan Toni terbuka lebar, ia penasaran tumben pintu itu terbuka lebar.
"baru datang?" Bagas mengejutkan Dina
"iya...ada urusan yang harus aku selesaikan dulu tadi" jawab Dina datar
"ayo kita keluar saja, di ruangan si bos ada calon istrinya" ucap Bagas yang masih belum tahu siapa Dina
"hah...calon istrinya?"
"oh...begitu, aku ke ruangan si bos dulu ada surat-surat yang perlu ia periksa segera" Dina menyambar map yang ada di mejanya kemudian ia bergegas ke ruangan Toni
Dina berjalan santai memasuki ruangan Toni, namun Toni tak ada di sana, hanya Lea yang duduk di sofa dengan raut wajah marah.
"oh...sekarang kamu kerja di sini?" ucap Lea sinis
"apa urusan kamu? Toni dimana?" ucap Dina ketus
"ia tadi keluar ruangan, setelah kami....kamu sendiri pasti tahu..." ucap Lea menarik satu sudut bibirnya ke atas
"oh...begitu ya..." ucap Dina santai sambil meletakkan map yang ia bawa di meja Toni kemudian ia duduk di kursi kerja Toni.
Dina mengambil ponsel dari sakunya kemudian ia mengetikkan pesan singkat dan meletakkan ponselnya di meja. Dina membuka agenda yang terletak di dalam laci meja kerja Toni, ia tersenyum karena sejak pagi Toni ada jadwal bertemu kliennya dan baru akan kembali saat jam makan siang.
"jam berapa kamu datang ke sini?" ucap Dina sambil duduk menyandarkan punggungnya di kursi Toni.
"sekitar dua jam yang lalu" Lea menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya
"oh...begitu, setahuku Toni belum ke kantor pagi ini" ucap Dina tersenyum penuh kemenangan
__ADS_1
Wajah Lea merah padam mendengar ucapan Dina "jadi kamu menganggapku berbohong?!" Lea bangkit berdiri berjalan cepat menghampiri Dina yang tersenyum jumawa.
"mau apa kamu?!" Toni menarik Lea hingga ia terjatuh
"Toni...!" teriak Lea
Dina hanya tersenyum menatap Lea yang terjatuh tepat di kaki Toni. Toni dengan cepat menghampiri Dina "kamu nggak apa-apa kan sayang?"
Dina tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Toni kembali menghampiri Lea, kemudian ia menari tangannya "sebaiknya kamu keluar dari sini" Toni menarik tangan Lea keluar dari ruangannya, kemudian ia menutup pintu ruangnya dan menguncinya.
Lea menggedor-gedor pintu ruangan Toni namun tak dihiraukan oleh Toni. Ia menulikan telinganya, kemudian ia menelpon satpam dan menyuruh membawa Lea keluar dari kantornya
Jam makan siang kantor cenderung sepi, semua karyawan keluar untuk istirahat. Di lantai dua hanya beberapa ruangan termasuk ruangan Toni, terasa lebih sepi dari di lantai satu.
Toni menghampiri Dina yang duduk di kursinya "mau menggantikan aku ceritanya...hemmm?" Toni mengukung Dina yang terlihat duduk santai di kursinya
Dina tersenyum, "aku hanya mengamankan apa yang jadi milikku dari para ulat bulu di sekitarmu"
"kamu baik-baik saja kan?"
"aku baik-baik saja..."
"katanya kamu ke kampus, kenapa sudah berada di sini?" Toni menatap tajam Dina
"iya....udah selesai bimbingannya jadi aku ke sini"
"jadi...kapan kamu lulus?"
"tinggal sedikit lagi, skripsiku selesai, kamu bagaimana?"
"thesisku juga sudah hampir selesai, kita besok wisuda bareng ya...."
"iya..." ucap Dina mengembangkan senyumnya
"aku lapar....aku belum makan dari pagi" ucap Toni "tapi aku merindukan kamu" Toni semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Dina
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1