
"kamu harusnya mengerti dengan kesibukanku..."
"bagian mana yang tidak aku mengerti? Aku menunggu kamu membalas pesanku, menunggu kamu menelepon balik aku, sampai aku mau tidur tak ada balasan dari kamu, apa aku protes? Tidak Ton...!"
Toni menyadari ia memang melupakan Dina, ia membalas pesan Dina hanya jika ia ingat. Sebenarnya ia sering memegang ponselnya, dan pesan Dina pun ia baca, namun untuk membalas ia berpikir nanti saja, setiap hari ia berpikiran begitu, sampai Ridwan mengingatkan untuk membalas pesannya barulah ia membalasnya.
"aku tidak masalah, kita berjauhan, bagiku yang terpenting adalah komunikasi di antara kita" ucap Dina
"maaf....maafkan aku...." ucap Toni lirih
"atau...kamu di sana bersama cewek lain?"
"kenapa kamu berpikiran seperti itu?" Toni mendelik
"kamu saja berpikiran macam-macam padaku, padahal aku hanya membahas tugas bersama temanku, jadi aku juga boleh berpikiran yang sama seperti kamu"
"aku di sana benar-benar bekerja Din....kalau tidak percaya kamu tanya Ridwan..." Toni menyeret Dina turun ke ruang keluarga
"kenapa bawa-bawa Ridwan...?" Dina kesal
"Wan....tolong jelaskan kalau aku di sana nggak dekat dengan cewek manapun!" Toni seperti kebakaran jenggot
"apa bos...eh mas..?" Ridwan terkejut dengan suara Toni yang tiba-tiba menggelegar
"jelaskan ke Dina, aku di sana benar-benar bekerja" Toni berdiri di seberang Ridwan duduk
Ridwan tersenyum miring, ini saatnya ia mengerjai Toni karena selama ini ia kesal karena banyak waktunya tersita untuk mengurusi masalah Andini.
"iya mbak....mas Toni di sana bekerja....tapi....selalu ditemani cewek" Ridwan melirik Toni
"hmmm...benarkah Wan....?" Dina duduk di sebelah Ridwan, sedangkan Toni menatap Ridwan dengan tatapan seolah-olah ingin memakannya hidup-hidup
"benar...mbak...saya tidak bohong...."
"bohong...!! Aku enggak bersama cewek di sana!!"
Dina menatap Toni yang tampak kebingungan, Ridwan ingin tahu bagaimana Toni menyelesaikan permasalahannya dengan Dina.
Selama Toni di kota K, Ridwan kerap mengingatkannya untuk menghubungi Dina, namun sering diabaikan oleh Toni.
__ADS_1
"benarkah itu?" Dina tampak santai, ia melirik Ridwan yang tampak tersenyum ketika melihat Toni kebingungan
"Wan...ayolah....jangan berbohong....!" Toni duduk di seberang Ridwan
"mana berani saya berbohong mas....memang kenyataannya seperti itu" Ridwan berusaha menahan tawanya.
"cewek mana yang sering pergi denganku?!" Toni emosi namun ia juga tak bisa marah
"itu....sekretaris bos besar....setiap hari mengikuti mas Toni, sering melayani mas Toni" Ridwan semakin keras menahan tawanya
"itu sekretaris papa...wajar....itu memang pekerjaanya...." Toni tampak frustasi
"itu di kantor.....selebihnya saya tidak tahu, mungkin mengikuti mas Toni sampai ke mana saya juga tidak tahu....saya kan bolak-balik kesana kemari"
Dina hanya menyimak perdebatan dua orang sahabat sekaligus atasana dan bawahan. Dina terlihat begitu tenang, tak sedikitpun terlihat terpengaruh dengan perdebatan Toni dan Ridwan.
"Ridwan....kamu mau saya pindahkan ke kantor cabang papa di kota S? Hah?!" Toni mulai terlihat kesal
"saya hanya berbicara sesuai fakta yang saya lihat...saya jujur mbak....buat apa saya berbohong" Ridwan bersandiwara
"Wan.... Wan...sandiwaramu terlihat begitu meyakinkan" batin Dina menahan senyumnya
"sayang....kenapa kamu lebih percaya Ridwan daripada aku?!" protes Toni
"karena Ridwan yang sering menanyakan kabarku, bahkan ketika aku sakit Raya yang susah-susah memasak bubur untukku" Dina terkekeh
Ridwan terkejut, ia tidak mengira jika Dina tahu jika ia mengerjai Toni. "aduh....mati aku....kenapa mbak Dina malah membuat semakin panas" batin Ridwan
"hah....! kamu sakit, sakit apa sayang? Kapan?" Toni panik
"sudah lama....sudah sembuh juga" Dina menahan tawanya
"kenapa kamu tidak memberitahu aku kalau Dina sakit?!" Toni menatap Ridwan seolah-olah ingin mencabik-cabiknya
"aku sudah bilang....mungkin mas Toni nggak dengar" kilah Ridwan yang berpikir sudah terlanjur basah sekalian saja tenggelam
"kamu balik ke kantor saja sana....!" ucap Toni dingin yang merasa marah dengan Ridwan
"baik mas..." Ridwan buru-buru meninggalkan Toni dan Dina, ia tak mau terkena masalah karena bosnya itu bertengkar dengan pacarnya
__ADS_1
Sedetik kemudian Toni sudah duduk di sebelah Dina, ia meraih kedua tangan Dina "sayang....maafkan aku meninggalkan kamu begitu lama....kamu pasti kesepian nggak ada aku" ucap Toni dengan tatapan memohon
"nggak tuh....siapa bilang aku kesepian" Dina membuang wajahnya
Toni kehabisan kata-kata, ia bingung bagaimana harus merayu Dina. Tubuhnya sebenarnya sangat lelah, namun mendapati Dina bersama dengan cowok lain membuatnya terbakar emosi dan api cemburu.
"mau kan maafin aku?" rengek Toni. Dina hanya diam membuang wajahnya ke samping
"sayang....ngomong dong....jangan diam saja...." bujuk Toni
"kamu sudah mempermalukan aku di depan temanku...untung saja kampus sepi....kalau ramai mau ditaruh dimana wajahku?" Dina mengerucutkan bibirnya
"iya...iya...maaf...aku tidak akan mengulanginya lagi...." rengek Toni. Dina masih kesal, selama ini ia sering diabaikan Toni dan hari ini ia diseret dari kampus. Dina kesal, memiliki pacar yang kadang tempramennya sulit untuk dikendalikan.
"tapi aku benar-benar tidak bersama cewek di sana, kamu percaya aku kan?" rengek Toni. Dina masih diam, ia ingin melihat apa pembelaan Toni selanjutnya
"aku cemburu Din....lama aku tak bisa menghabiskan waktu denganmu, kamu malah bersama cowok lain"
"dari dulu cemburumu itu keterlaluan....Perbaiki tempramnmu itu....enggak semua bisa diselesaikan dengan marah dan adu fisik"
"iya...iya...tapi kamu maafin aku kan?"
"siapa bilang aku maafin kamu...!" Dina membuang wajahnya "aku mau pulang....!" Dina beranjak dari duduknya
Seketika Toni memeluk tubuh Dina "malam ini kamu tidur di sini ya..." rayu Toni
"nggak mau....aku masih kesal..." Dina menyambar kunci motornya yang Ridwan letakkan di atas meja.
Ia bergegas pulang ke kosnya, ia ingin memberi pelajaran pada Toni, untuk tidak berbuat seenaknya sendiri. Entah kenapa Dina merasa akhir-akhir ini tempramen Toni sering berubah-ubah. Ia kembali mudah marah, mudah tersinggung dan juga mudah curiga.
Dina hanya ingin Toni memperbaik dirinya. Ia ingin Toni bisa bersikap lebih dewasa lagi. Karena jika Toni seperti ini terus, ia akan mudah sekali rerpengaruh dan bisa berakibat buruk pada hubungan mereka dan pekerjaan Toni.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1