Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 14 Pertandingan Basket


__ADS_3

Karena Toni tak kunjung berdiri, Roy pun gemas. Ia menarik lengan Toni. Hingga Toni pun tersadar.


"apa-apan kamu Roy, main tarik sembarangan!" Toni kesal karena merasa Roy tiba-tiba menariknya


"kamu mau tidur di sekolah heh...?" Roy kesal


"ah...iya...sudah sepi ya..." Toni menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal


"tidak ada yang berubah dari Dina Ton. Hanya perasaanmu saja..." ucap Roy menghibur


Mereka pun berjalan keluar kelas. Toni hanya diam meskipun Roy sudah berkata demikian. Pikirannya tidak tenang, masih memikirkan penolakan-penolakan halus dari Dina.


"kalau suka ungkapkan, tapi kalau tidak biarkan aku yang mengungkapkan perasaanku" ucap Roy sambil menaiki motornya yang terparkir di halaman rumah Toni.


Ucapan Roy membuat Toni berpikir keras, ia tidak mau kalah dari Roy. Entah Roy serius atau tidak dengan ucapannya yang jelas ia tidak mau jika Roy mengambil Dina darinya.


.


Beberapa hari berlalu, Dina masih bersikap biasa saja, tidak mengacuhkan dan juga terlalu menanggapi perhatian Toni. Ia menganggap Toni sebatas teman sekelasnya.


Dina menjadi lebih dekat dengan Widi karena mereka sering bertemu di perpustakaan. Pembawaan Widi yang tenang dan tidak terlalu agresif membuat Dina nyaman saat bersama Widi.


Itu membuat Toni semakin panas hatinya. Toni tidak rela jika Dina dekat dengan orang lain. Tapi ia juga belum menyatakan perasaannya.


.


Pesta Kemerdekaan Republik Indonesia tinggal seminggu lagi. Semua siswa disibukkan dengan kegiatan-kegiatan untuk memeriahkan perayaan kemerdekaan.


Pihak sekolah mengadakan perlombaan antar kelas. Untuk kelas satu para guru mengadakan pertandingan basket antar kelas. Dina sangat antusias dengan pertandingan tersebut.


Semua siswa telah berkumpul di lapangan depan ruang kelas satu. Kebetulan pertandingan antara kelas Dina dan kelas 1 E yang menjadi pertandingan pembuka.


Dina duduk di barisan paling depan. Di kelasnya ada Roy dan Toni yang dari waktu SMP permainan mereka termasuk yang terbaik. Dina yakin kelasnya akan memenangkan pertandingan kali ini.


Pertandingan telah dimulai, ia memberikan semnagat untuk para pemain yang sedang bertanding. Padahal sebenarnya ia menyemangati Toni, hanya saja ia tidak mau terang-terangan menunjukkannya kepada Toni.

__ADS_1


Toni sesekali mencuri pandang kepada Dina. Ia melihat Dina juga menatapnya. Toni tersenyum, ini yang dia tunggu mendapatkan perhatian dari Dina.


Kini ia tahu Dina sangat menyukai basket. Toni menjadi semakin bersemangat, ia ingin menunjukkan permainan terbaiknya bukan untuk kemenangan kelasnya, tapi untuk memenangkan hati Dina.


Pertandingan telah usai, dan dimenangkan oleh kelas Dina. Dan pencetak angka terbanyak adalah Toni. Dalam hati Dina, ia bangga dan semakin menyukai Toni. Tapi ia harus menahan semuanya ia tidak ingin terlalu berharap yang nantinya akan membuatnya kecewa.


Toni keluar lapangan dan mengahampiri Dina, ia ingin sekali mengetahui reaksi Dina karena Toni telah memenangkan pertandingan kali ini.


"selamat Ton...permainan kamu bagus..." ucap Dina dengan senyum mengembang


"terima kasih Din...semua berkat kamu" ucap Toni dengan menahan debar di dadanya.


"eh...apa Ton..?" tanya Dina karena sedikit tidak jelas mendengar ucapan Toni.


"semua karena kerja sama tim Din..." Toni menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Toni kemudian duduk di sebelah Dina. Ia ingin mengambalikan kedekatan mereka seperti dulu.


"minggu ini jam sore ditiadakan, nanti pulang aku antar ya..." ucap Toni penuh harap


"aku bawa motor sendiri Ton..." ucap Dina tersenyum


"lihat besok, kalau motornya nganggur aku bawa, tapi kalau tidak aku naik bis seperti biasa" ucap Dina yang sebenarnya menolak Toni secara halus, padahal motor itu memang milik Dina, hanya saja karena ia belum punya Surat Ijin Mengemudi masih belum diijinkan untuk sering-sering membawa motor sendiri.


Harapan Toni pupus, ia ingin berdua dengan Dina, tapi Dina menolaknya lagi. Toni diam duduk di sebelah Dina. Dina menyadari itu, sebenarnya ia tidak tega tapi mau bagaimana lagi. Tidak ada kejelasan dari Toni lebih baik ia menghindar darinya.


Keesokan harinya, kebetulan hari jumat Dina naik motornya lagi. Jadwal pertandingan hari ini, bukan jadwal pertandingan kelas Dina. Dina dari pagi sudah merasa tidak enak badan, badannya sedikit demam, tapi ia paksakan masuk sekolah.


Sepanjang hari ia hanya duduk di kelas, pelajaran pun ia tidak bisa konsentrasi. Rani yang duduk sebangku dengan Dina menjadi kawatir.


"Din...kamu tidak apa-apa?" tanya Rani cemas


"tidak apa-apa, paling radang tenggorokanku kambuh lagi" ucap Dina lesu


Toni yang duduk di belakang Dina, mendengar pembicaraan antara Rani dan Dina.

__ADS_1


"Ran...Dina kenapa?" tanya Toni sedikit cemas


"Dina demam Ton..." jawab Rani singkat.


"kamu sakit Din?" tanya Toni cemas


"aku tidak apa-apa Ton" jawab Dina yang tidak mau merepotkan siapapun


Mendapat jawaban seperti itu, Toni hanya bisa diam. Ia sebenarnya kawatir, tapi Dina sudah menjawab seperti itu berarti Dina tidak ingin dia tahu apa yang dirasakan Dina.


Bel pulang pun telah berbunyi. Dina masih duduk di tempat duduknya. Ia menunggu semua pulang terlebih dulu. Ia malas kalau harus berdesak-desakan mengambil motornya, apalagi hari jumat, hari yang pendek, semua siswa berlomba-lomba pulang cepat.


Dina ditemani Rani, sedangkan Toni masih berada di kelas menunggu Dina pulang. Di dalam kelas ada Roy, dan ada beberapa teman cowok yang dekat juga dengan Toni.


Toni berpindah duduknya, ia duduk di meja sebelah meja Dina. Melihat Dina yang tampak pucat, dan sepertinya badannya lemas. Toni kawatir ingin sekali ia mengantar Dina pulang. Tapi Dina membawa motor sendiri.


Akhirnya Toni beranjak dari duduknya dan ia keluar ke UKS, meminta obat penurun demam kepada petugas UKS yang sudah akan pulang. Dengan cepat ia berjalan kembali ke kelas. Ia memberikan obat itu kepada Dina, dan sebotol air mineral yang selalu ia bawa di tasnya.


"minum dulu, habis itu pulang istirahat" ucap Toni lembut tapi penuh nada kekawatiran.


Rani memperhatikan Toni yang begitu perhatian kepada Dina. Sebenarnya ia merasa sedikit iri dengan perhatian Toni kepada Dina.


"terima kasih Ton..." ucap Dina menerima obat dan minum yang diberikan oleh Toni.


Dina meminum obat itu. Kemudian ia meletakkan kepalanya di meja. Ia beristirahat sejenak menunggu obatnya bereaksi.


Karena banyak kegiatan sebelum perayaan hari kemerdekaan, sekolah masih ramai dengan para siswa. Ada yang mebersihkan kelas, ada yang memasang hiasan-hiasan untuk memeriahkan hari kemerdekaan.


Di kelas Dina, semua hiasan sudah terpasang sejak awal pertandingan antar kelas. Tidak semua siswa ikut dalam perlombaan itu jadi mereka yang tidak ikut memasang hiasan-hiasan untuk memeriahkan acara tujuh belasan.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


.


Dukung terus karya ini ya bestie...please like vote dan komennya ya...terima kasih sekebon bestie


__ADS_2