Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 221 Parjo dan Sumi


__ADS_3

Toni terbakar rasa cemburunya, ia sangat cemburu melihat Dina ditatap oleh pria lain. Toni mengendarai mobilnya ugal-ugalan kembali ke kantornya. Sampai di kantor, sudah terlihat sepi karena sudah waktunya pulang kerja. Hanya tinggal sedikit karyawan yang berada di perusahaan itu.


Toni berjalan cepat menggandeng tangan Dina, hingga langkah Dina sedikit terseok-seok. "Bisa pelan sedikit tidak jalannya? Kakiku sakit jika harys berjalan cepat seperti ini" protes Dina.


Karena kantor sudah lengang, tanpa aba-aba Toni menggendong Dina ala bridal style. Ia menekan tombol lift, dan langsung terbuka. Dina melayangkan protesnya namun tak dihiraukan oleh Toni.


Hingga mereka sampai di lantai dimana hanya terdapat ruangan para petinggi perusahaan. Toni mendorong pintu ruangannya dengan kakinya kemudian ia menurunkan Dina di dekat meja kerjanya.


Dina yang berpikir jika memang tadi masih ada beberapa berkas yang belum ia rapikan di meja Toni ia pun menyusunnya dan merapikannya. Tak menyadari jika Toni mengunci ruangannya dan menutup tirai ruangannya.


Dengan sorot mata tajam, menahan rasa cemburunya Toni berjalan cepat ke arah Dina dan kemudian membalik tubu Dina. Dina tersentak, sebelum ia melayangkan protesnya, bibirnya telah dilahap oleh Toni.


Kemudian Toni membalik tubuh Dina kembali mendorongnya hingga memunggunginya. Toni langsung menyingkap bawahan Dina dan menurunkan segitiga berenda milik Dina.


Dina bingung dengan situasi ini, ia tidak tahu kenapa Toni tiba-tiba berbuat seperti itu. Dan tanpa aba-aba benda tumpul itu sudah menerobos milik Dina. Dina tersentak dan menjerit, belum juga ia menetralkan nafasnya Toni sudah mengobrak-abrik pertahanannya dari belakang.


Meskipun sedikit kasar, namun tak bisa dipungkiri Dina juga menikmatinya. Hingga dalam hitungan menit tubuh Dina menegang dan menjerit manja melepaskan gelombang dahsyat dalam tubuhnya.


Mendengar Dina menjerit manja Toni semakin bersemangat "saa....yaang....kaa...mu...kenapa?" ucap Dina yang tubuhnya berkali-kali tersentak karena dorongan yang kuat.


"aku tak suka milikku ditatap nakal oleh pria lain" Toni semakin membabi buta dan kemudian ia membalik tubuh Dina dan mendudukkannya di meja kerjanya. Kembali lagi Toni memasukkan benda tumpulnya itu dengan gerakan yang membuat Dina semakin meracau tak karuan.


"hanya aku yang bisa membuatmu seperti ini....hanya aku yang boleh menyentuhmu" ucap Toni sambil menghentak-hentakkan tubuhnya.


Dina sudah tak karuan, berkas-berkas yang telah ia susun rapi di meja berhamburan ke lantai. Bahkan semua barang-barang yang ada di meja Toni pun berhamburan.


prang....klotak....bughh........brakk....

__ADS_1


Semua terjatuh karena Dina mencari sesuatu yang bisa ia pegang karena ia tak kuasa menahan hentakan demi hentakan. Toni selalu menjadi pemenang, ia tak pernah bisa menang jika menghadapi Toni yang sudah tak bisa mengendalikan juniornya, meski begitu mau kasar mau lembut Dina selalu menikmati, tak pernah bosan bahkan selalu saja ingin mengulanginya lagi.


Toni menggendong Dina tanpa melepaskan benda tumpul itu dan mendudukannya di sofa. Kembali lagi Toni memnyerang Dina namun kali ini lebih lembut, dan itu semakin membuat Dina semakin kencang mengeluarkan suara-suara indahnya.


"saa...yaang...sudah....nanti ada yang datang...." ucap Dina sambil mengeluarkan suara indahnya


"tak kan ada....aku mematikan lift naik ke lantai ini" ucap Toni masih belum ingin menghentikan aksinya


"ayolah...saayaang....sudah....." Dina tampak kacau


"sudah? Heemm...? Tapi tubuhmu sepertinya ingin lebih ....." goda Toni yang tak mengenal lelah


Dina melirik ke arah jendela, tadi mereka sampai di kantor masih terlihat terang, namun kini sudah gelap, entah sudah jam berapa Dina tidak tahu dan mungkin tidak mau tahu karena serangan kenikmatan yang tak berujung.


Sejak pertengkaran terakhir mereka, mereka seperti orang yang sedang kelaparan, seperti orang yang sudah bertahun-tahun tak bertemu. Dalam sehari Toni bisa berkali-kali melakukannya setiap ada kesempatan.


Bahkan deringan ponsell mereka berdua tak mengganggu aktivitas mereka. Mereka berdua masih bersemangat memacu adrenalin mereka. Bukan apa, mereka masih di kantor dan di jam setelah karyawan pulang OB dan bagiam kebersihan datang membersihkan ruangan-ruangan. Apalagi satpam beberapa jam sekali berkeliling memeriksa ruangan demi ruangan.


Dan kebetulan ada satpam yang mulai berkeliling sampai di lantai itu. Satpam berusia sekitar lima puluh tahun itu pun menghampiri pekerja kebersihan yang bernama Sumi.


"kenapa masih di sini?" tanya satpam yang bernama Parjo


"engg....aku mau ke atas namun sepertinya liftnya rusak, dari tadi aku tekan-tekan tapi tak bisa terbuka" ucap Sumi sedikit gelagapan sambil menggigit bibir bawahnya melihat Pak Parjo meskipun sudah berumur namun badannya masih tegap dan terlihat gagah.


"sebentar. ...." Pak Parjo pun menekan-nekan tombol namun tak bisa juga. Kemudian ia mengambil alat komunikasinya dan menghubungi bagian ruang pengendali yang mengendalikan baik listrik, air serta lift di kantor itu.


tingg....

__ADS_1


Lift pun terbuka "nah kan sudah...." ucap Parjo kemudian ia membantu mendorong alat kebersihan masuk ke dalam lift. Setelah menekan tombol naik mereka pun sampai di lantai yang mereka tuju.


"kamu kerjakan tugasmu, aku akan berkeliling memastikan semua ruangan aman" ucap Parjo dan dijawab anggukan oleh Sumi.


Sumi pun mulaia membersihakan ruangan demi ruangan, dan mendekati ruangan milik Toni ia seperti mendengar suara-suara. Sumi pun mendekati "ada apa?" Parjo penasaran karena Sumi berjalan pelan-pelan.


"sstt...." Sumi menempelkan jari telunjuknya di bibirnya. Mereka berdua pun mengendap-endap karena mendengar suara-suara yang tak biasanya. Semakin mendekati ruangan Toni suara itu semakin kencang.


Parjo yang seorang duda pun badannya menegang, ia tahu suara-suara apa itu. Perlahan tapi pasti senjata yang sudah lama ia museumkan itu berontak. Sumi pun juga terkejut, tubuhnya terpaku, suara bosnya benar-benar membuat bulu kuduknya merinding.


Mereka berdua semakin penasaran, meskipun tirai ruangan itu sudah tertutup namun masih ada sedikir celah untuk mengintip. Parjo dan Sumi pun sama-sama mengintip, senjata Parjo yang tadi mulai berontak pun kini semakin ngamuk.


"ternyata Tuan Toni ganas juga ya...Non Dina sampai tak berhenti menjerit begitu" ucap Sumi sambil memegang bagian bawah tubuhnya


"hemm....iya..." Parjo dengan suara beratnya, Sumi pun melihat ke arah belakang tubuhnya dan terkejut karena mata Parjo sepertinya sudah berkabut.


Pucuk dicinta ulam pun tiba, Sumi yang tak tahan mendengar suara-suara dari dalam ruangan bosnya langsung menghambur ke Parjo. Dan Parjo pun menyambutnya dengan tak kalah beringas. Ia tahu di lantai itu ada satu ruangan yang dipakai gudang barang-barang dan kebetulan ia membawa kuncinya.


Parjo menarik Sumi masuk ke gudang itu. Dan terjadilah seperti yang dilakukan bos mereka itu. Bahkan senjata laras panjang parjo pun mengamuk membabi buta membuat Sumi juga kewalahan.


Entah berapa lama mereka berada di gudang itu, hingga Sumi kakinya lemas dan keluar dari gudang namun lantai itu telah sepi. Bahkan beberapa lampu telah dimatikan membuat suasana sedikit menakutkan.


"sudah sepi ternyata..." ucap Sumi


"kita lanjutkan lagi saja yuk....mumpung sudah tidak ada orang" ucap Parjo. Dan mereka pun kembali ke gudang itu mengulangi apa yang tadi mereka lakukan .


.

__ADS_1


.


B e r s a m b u n g


__ADS_2