Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 30 Kebusukan Bian


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, Dina disibukkan dengan tugas-tugas sekolah dan kegiatan OSIS. Di kelas dua Dina memutuskan untuk mendaftar menjadi pengurua OSIS kembali.


Dina ingin menyibukkan dirinya agar tidak memikirkan Toni lagi. Dina ingin mengubur dalam-dalam perasaannya pada Toni. Ia trauma, meski ada cowok yang mendekatinya, Dina enggan menanggapinya.


Karena menjadi pengurus OSIS juga, Dina semakin dekat dengan Widi. Dari awal kelas dua Dina mulai terlibat dalam proyek pemancar radio di sekolahnya.


Itu membuat dirinya semakin tenggelam dalam kesibukan. Tak ada lagi waktu untuk memikirkan Toni atau cowok yang lain. Meski Dina menyadari Widi menyukainya, tapi Dina tetap menganggap Widi teman baiknya sama seperti Roy.


Widi jugalah yang sebenarnya membantu Dina untuk bisa pulih. Dialah yang sudah meminta kepada pak Har agar Dina bergabung di tim proyeknya. Pak Har menyetujuinya, karena ia menganggap Dina siswa yang cerdas dan cekatan, selain itu Dina juga dekat dengan beliau.


Pak Har tahu kemampuan Dina dalam mengelola keuangan. Karena hal itulah Dina dipercayakan untuk mengelola keuangan dalam proyek itu. Widi tahu betul jika Dina semakin sibuk maka dengan mudah Dina bisa melupakan Toni.


Widi memang egois, bukan tanpa maksud dirinya ingin Dina melupakan Toni. Widi ingin Dina hanya dekat dengannya. Tapi sayangnya sejak ia menyukai Dina waktu di awal perkenalan mereka, Widi sama sekali belum pernah menyatakan pedasaannya.


Dina tidak mau dianggap terlalu percaya diri bahwa Widi menyukai dirinya meski ia menyadari semua perhatian Widi untuknya. Dina memilih untuk bersikap biasa saja.


Toni pun juga semakin menjauh dari Dina. Meski tatapannya pada Dina tak lagi sesinis dulu, tapi Toni masih belum menyadari apa kesalahannya. Tapi hubungan Toni dan Roy semakin membaik.


"Roy...kabar Dina bagaimana?" tanya Toni datar


"seperti biasa Dina selalu sibuk entah apa saja yang ia kerjakan" Roy terkekeh


"apa dia masih sering membicarakan aku?" tanya Toni


"sejak kejadian di resto S, Dina tak lagi menyebut namamu, meski kalau ia melihatmu dari jauh raut wajah sedih masih terlihat" ucap Roy


"sebaiknya kamu dekati dia lagi Ton...minta maaflah padanya, yang ia butuhkan hanya itu" ucap Roy


"kenapa kamu menyuruh aku yang meminta maaf? Jelas-jelas dia yang meminta putus" jawab Toni kesal


"lagi pula dia sudah ada Widi, jadi tidak perlu kamu memberitahu aku apa yang harus aku lakukan, Dina sudah ada yang melindungi" ucap Toni datar

__ADS_1


"Widi hanya membantunya melupakan dirimu,bukan yang lain Ton..." terang Roy


"Widi pernah memperingatiku untuk tidak meyakiti Dina lagi" raut wajah Toni mendadak berubah, terlihat kilatan amarah dalam matanya


"yang aku tahu, Widi hanya memberi Dina kegiatan yang bisa membantunya melupakan dirimu" Roy meninggalkan Toni


Roy tak habis pikir dengan Toni, sudah sekian lama tapi Toni masih belum menyadari kesalahannya. Toni masih saja keras hati, tidak mau mendengarkan ucapan teman-teman baiknya.


Toni memang mengawasi Dina dari jauh, di dalam hatinya ia masih begitu menyayangi Dina. Tapi ia gengsi untuk mengakui jika ia masih mengharapkan Dina kembali.


Dia masih dekat dengan Bian dan kawan-kawan meski tak sedekat dulu. Tapi pengaruh Bian yang begitu sering meremehkan dan menganggap rendah orang lain masih begitu kuat.


Mereka masih tergabung dalam tim basket sekolah, walaupun sudah jarang mengikuti pertandingan antar sekolah. Tak bisa dipungkiri jika Toni juga semakin terkenal di antar adik-adik kelas. Tapi Toni lebih sering menarik diri ketika namanya dielu-elukan.


Ia tidak menyukai hal-hal yang terlalu berlebihan, ia ikut tim basket sekolahnya karena ia menyukai olah raga itu bukan untuk mencari popularitas.


"kenapa kamu tidak bersemangat berlatih Ton?" tanya Bian


"tidak apa-apa Bi...." kilah Toni


"apa yang kamu pikirkan? Aku tahu kamu sedang memikirkan sesuatu pasti itu hal yang penting!" tanya Bian


Toni menghela nafasnya "aku hanya teringat Dina....apa aku sudah keterlaluan padanya?" ucap Toni menerawang jauh


"cewek tidak hanya Dina Ton...! Masih banyak cewek di luar sana! Apalagi kita sekarang menjadi semakin terkenal, mudah mencari cewek sebanyak yang kamu mau!" ucap Bian


"mau kamu apakan saja cewek-cewek itu pasti mau, kita terkenal...punya nama, dan mereka juga tahu kita anak-anak siapa" Bian mulai menyombongkan diri.


Toni terperangah mendengar ucapan Bian, ia tidak pernah menyangka Bian berkata seperti itu. Selama ini ia tidak pernah menyadari jika sejatinya Bian adalah cowok yang hanya bisa berlindung dibawah nama besar orang tuanya.


Meskipun papa mama Toni juga termasuk orang-orang terkenal di kotanya, tapi ia tak pernah menyombongkan diri. Tak pernah Toni menunjukkan dia anak siapa. Hanya teman-teman yang mengenalnya yang tahu benar-benar siapa Toni.

__ADS_1


"ada adikku, dia sudah lama tertarik padamu! Besok minggu dia berulang tahun yang ke lima lima belas kamu harus datang!" ucap Bian penuh penekanan.


"aku usahakan datang, tapi maslah hati aku tidak bisa Bi!" pertama kalinya Toni berbicara tegas pada Bian


"apa kurangnya adikku Ton?! Dia cantik, keluarga kita pun setara!"


"aku tidak bisa menjelaskan apa kurangnya adikmu, hanya saja masalah hati tidak bisa dipaksakan!" Toni mulai kesal


"cewek-cewek di luar sana paling hanya melihat siapa kamu Ton....bukan hatimu! Itu keuntungan buat kita-kita ini, kalau bosan tinggalkan ganti dengan yang lain" ucap Bian menarik salah satu sudut bibirnya


"Dina bukan tipe seperti itu Bi....!!" Toni mulai tersulut emosinya, sudah lama ia bisa mengontrol emosinya seperti saat bersama Dina. Tapi kali ini ia sudah tidak bisa menahannya lagi.


Bian telah meremehkan Dina, menganggap Dina mau dengannya hanya karena materi. Menghina Dina, jik Dina itu cewek yang mudah dipermainkan.


Toni kembali mengingat masa-masa kebersamaannya dengan Dina yang tergolong singkat. Dina tak pernah sekalipun memanfaatkan dirinya. Bahkan ketika merka pergi berdua, Dina lebih memilih membonceng motor.


Dina akan menolak jika Toni membawa mobilnya, dengan alasan jika naik motor bisa lebih mesra. Dina juga cewek yang mandiri, Dina lebih sering menolak ia antar pulang atau menjemputnya.


Dia tidak mau memanfaatkan status sosial orang tua Toni. Dina tahu betul siapa orang tua Toni. Mamanya Dina sudah mengenal betul siapa orang tua Toni.


Semakin Toni teringat, terbesit rasa bersalah di hatinya. Tapi kata-kata Bian yang mengatakan jika Dina sudah berselingkuh darinya juga masih ia ingat betul.


.


.


.


B e r s a m b u n g


.

__ADS_1


Jangan lupa ritualnya ya bestie...


Terima kasih sekebon bestie...


__ADS_2