
Toni membawa Dina ke sebuah restoran yang berada di pinggir kota. Restoran bernuansa alam, terdapat gubug-gubug kecil di atas sebuah kolam besar. Terdapat jembatan bambu yang menghubungakan satu gubug ke gubug lainnya.
Toni sengaja membawa Dina ke sana dan memilih tempat di ujung karena ia ingin menyelesaikan masalah mereka berdua. Dina hanya diam, ia mengikuti apa yang Toni lakukan.
Dina sudah lelah menghadapi Toni. Ia telah menuruti apa mau Toni bahkan mengorbankan keinginan demi menuruti apa yang Toni mau namun lagi-lagi Toni masih meragukan pengorbanan Dina.
Dina duduk dalam diam, ia tidak merasa melakukan kesalahan apapun jadi ia tak harus memberikan penjelasan apapun pada Toni. Sebaliknya ia ingin Toni yang memberikan penjelasan pada dirinya mengapa akhir-akhir ini hubungan mereka semakin jauh setelah tanggal pernikahan mereka ditentukan.
"kenapa kamu diam saja?" tanya Toni dingin
"memangnya aku harus bicara apa lagi?" jawab Dina tak kalah dinginnya.
"jelaskan padaku kenapa akhir-akhir ini kamu susah dihubungi?"
"harus aku jelaskan bagaimana lagi? kamu yang tak pernah menghubungi aku kenapa sekarang jadi aku yang bersalah" Dina kesal sekali ini saja ia ingin egois ingin meluapkan emosinya pada Toni
"kamu bilang aku tak pernah menghubungi kamu, terus yang telepon kamu di jam makan siang itu siapa? Orang lain? Aku telepon kamu tapi tidak kamu jawab"
"aku sedang meeting, sedang bertemu klien, apakah aku harus mengangkat teleponmu? Tidak sopan Ton...aku berusaha sebaik mungkin tidak melakukan kesalahan dalam pekerjaanku"
"itu hanya alasan kamu saja" Toni masih meragukan Dina
"terserah kamu mau percaya atau tidak, aku tidak pernah membohongi dirimu" Dina sungguh sudah lelah menghadapi sifat Toni yang seperti itu.
"apa kamu mau sedikit saja mengerti apa yang aku inginkan? Hem...? Banyak hal yang sudah aku korbankan untuk menuruti apa keinginanmu, tapi apa yang aku dapat? Kamu masih tidak mempercayai aku!" Dina mulai mengeluarkan apa yang selama ini ia pendam sendirian, bahkan matanya sudah berair, ia benar-benar sudah berada di titik jenuh
__ADS_1
"katakan padaku aku harus bagaimana lagi Ton? Hah...? Aku sudah lelah selalu saja seperti ini...sebaiknya kita batalkan saja pernikahan kita..." air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya lolos juga, Dina sudah tak kuasa membendung air matanya. Dina sebenarnya tidak mau dikasihani karena ia menangis, namun kali ini ia menangis karena ia sudah benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi.
Toni diam, ia bergeming dengan semua yang diucapkan oleh Dina. Rasa cemburunya dan keraguannya telah menutupi mata hatinya. Namun Toni terkesiap saat Dina mengatakan ingin membatalkan pernikahan mereka. Ia bingung tentang apa yang ia rasakan saat ini.
Ada rasa sedih di hatinya namun, sejenak otaknya berpikir saat ia melihat Dina tertawa bersama pria lain. "Apa....?! Kamu ingin membatalkan pernikahan kita?!" Toni menghirup nafas dalam-dalam berusaha tak mengatakan hal kasar pada Dina
"apa gara-gara pria tadi kamu jadi seperti ini?" Toni tidak terima
"pria yang mana? Kamu jangan melemparkan kesalahan kamu pada orang lain!" Dina tak kalah teriak. Untung mereka berada di gubug paling ujung, paling sepi di restoran itu
"jelas-jelas kamu tadi bersama pria itu, pasti dia sudah meracuni pikiran kamu" ucap Toni sinis
"jangan melibatkan orang lain dalam masalah kita! Aku sudah pernah bilang...jika kamu tidak berubah aku akan pergi darimu" Dina menghirup nafasnya dalam-dalam mencoba menenangkan dirinya "aku akan bicara pada Papa Yanuar tentang pembatalan pernikahan kita" nada bicara Dina berubah menjadi dingin.
"batal kamu bilang?! Jangan pernah berharap aku mau melepaskan kamu!"
Dina mengambil tasnya, kemudian beranjak meninggalkan Toni. Ia pikir perdebatan ini tak akan pernah selesai, lebih baik Dina mengakhiri semua sekarang.
"Dina tunggu..!" teriak Toni
Sedangkan Dina berlari meninggalkan Toni yang masih ditahan pelayan karena ia berlari dan belum membayar makanan mereka. Dina menghentikan taksi, dan menyuruh sopir taksi untuk pergi ke alamat rumah Toni.
Dina telah sampai di depan rumah papanya Toni. Ia menatap rumah dua lantai yang akhir-akhir ini sering ia kunjungi. Dina mulai melangkahkan kakinya, meski ada sedikit keraguan dalam hatinya, namun lebih baik sekarang ia mengatakannya pada papanya Toni.
Dina tak pernah meminta apapun pada Toni, ia hanya ingin dicintai dan percaya padanya. Hanya dua itu sudah cukup bagi Dina. Namun sepertinya Toni masih sering meragukan dirinya.
__ADS_1
Dina berjalan masuk ke dalam rumah, di jam segitu papanya Toni baru saja pulang dari kantor. Dina sudah hafal dengan kebiasaan calon mertuanya itu.
"Non Dina...bapak ada di ruang kerjanya Non..." ucap mbok Nah
"terima kasih mbok..." Dina pun berjalan ke arah ruang kerja calon mertuanya itu.
Dina mengetuk pintu terlebih dahulu kemudian membuka pintu perlahan.
"eh...kamu Din...apa ada berkas yang harus saya tanda tangani?" tanya papanya Toni
"enggak pa..." ucap Dina berdiri di depan meja kerja "ada yang ingin saya bicarakan pada papa"
Papanya Toni mengerutkan dahinya "bicara apa? Ayo duduk dulu..." papanya Toni beranjak dari duduknya kemudian duduk di sofa di ruangan itu.
Dina pun mengikutinya dan duduk bersebelahan dengan calon mertuanya itu. "sekarang bicaralah..." papanya Toni memperhatikan Dina yang matanya terlihat sembab
"sebelumnya Dina minta maaf pa" Dina tertunduk, papanya Toni mengangkat satu alisnya "mungkin Dina bukan calon istri yang tepat untuk Toni" Dina menahan sesak di dadanya.
Ia berat mengucapkannya, papanya Toni sudah terlalu baik padanya. Ia tak tega menyakiti hati orang tua itu. Namun ia harus mengatakannya pada papanya Toni. Dina sudah cukup lelah harus menghadapi Toni yang tiba-tiba meragukan cintanya.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca ya bestie. .