Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 251 Twins


__ADS_3

Toni kembali ke IGD dan melihat Dina sudah siuman, Toni tersenyum melihat Dina sudah siuman. Kekawatirannya sedikit berkurang.


"kamu sudah sadar?" Toni mengecup kepala Dina


"kenapa aku di sini" Dina tampak sedih


"kamu pingsan sayang....aku kawatir jadi aku membawamu ke sini" ucap Toni lembut sambil mengusap rambut Dina


"oh...pasien sudah sadar, baiklah...saya ambil kursi roda dulu setelah itu saya akan mengantar Nona ke ruangan dokter Liem" perawat itu bergegas keluar mengambil kursi roda.


Dina terkejut, pasalnya dokter Liem adalah dokter kandungannya, selama ini ia berkonsultasi dengannya. "kenapa ke dokter Liem?" tanya Dina lirih


"hanya untuk berkonsultasi sayang..." ucap Toni yang melihat Dina sedikit gusar, ia berusaha menenangkan Dina, ia tak mau membuat Dina panik.


"mari Nona..." perawat itu telah kembali ke tempat Dina terbaring


Toni pun mengangkat tubuh Dina dan mendudukannya di kursi roda. Kemudian perawat itu pun mendorong kursi roda itu ke ruangan Dr. Liem. Sepanjang lorong rumah sakit itu, semua memperhatikan Toni dan Dina. Siapa yang tidak mengetahui mereka, pernikahan yang digelar mewah beberapa saat yang lalu, bahkan Toni tampak romantis di acara tersebut.


Perawat membawa Dina masuk ke dalam ruangan Dr. Liem diikuti Toni. Dr. Liem sedikit terkejut karena pasiennya yang selama ini selalu ceria sekarang terlihat pucat meskipun memaksakan senyumnya.


Perawat itu menyerahkan dokumen rekam medis Dina di IGD tadi kepada Dr. Liem. Dr. Liem tampak memmbaca kertas itu. Toni yang sedari tadi berdiri di sebelah Dina merasa cemas karena Dr. Liem hanya diam saja.


"kenapa Nona bisa pingsan? Biasanya juga ceria kenapa sekarang tampak lemas begini" ledek Dr. Liem. Toni sedikir tidak suka karena dokter itu sok akrab dengan istrinya apalagi umurnya masih terbilang muda dan juga tampan.


"dari kemarin saya terus saja muntah-muntah dok..."


"kemarin?" Dr. Liem mengankat alisnya


"lebih tepatnya sejak saya melakukan perjalan ke Eropa dok, saya sudah merasa mual namun masih dalam batas wajar, dan juga saat di Eropa saya mudah lelah dan mengantuk" ucap Dina


"hmm...kapan terakhir kali Nona datang bulan?"


"bulan ini saya belum kedatangan tamu bulanan dok" ucap Dina sambil mengingat-ingat kapan terakhir kali ia datang bulan


"berarti haid terakhir waktu Nona terakhir kontrol ya..." ucapan Dr. Liem membuat Toni terkejut, ia tak pernah tahu jika Dina sering mengunjungi dokter kandungan.


"mungkin...."


"baiklah...mari kita lihat..." ucap Dr Liem


Toni membantu Dina bangun dan merebahkannya di atas meja periksa. Perawat mulai menyelimuti tubuh bagian bawah Dina kemudian menaikkan pakaian Dina dan mengoleskan gel di atas perutnya.


Dr. Liem pun meraih gagang USG kemudian memutar-mutar di atas perut Dina. Toni bingung, ia tak tahu apa yang ia lihat.

__ADS_1


"istri saya kenapa dok?" Toni cemas


"hemm....sebentar..." Dr. Liem menekan tombol untuk memunculkan hasil USG di layar yang lebih besar


"tuan lihat titik-titik hitam itu?" Dr. Liem menunjuk ke arah dua titik hitam yang ada di layar


"iya dok, kenapa? Ada yang serius? Dina sakit apa dok?" Toni memberondong Dr. Liem dengan rasa cemas


Kemudian dokter itu memutar-mutar kembali tongkat yang ia pegang.


"nah...sekarang lebih jelas lagi...." ucap Dr. Liem yang membuat Toni semakin cemas, Dina pun juga sama, ia takut ia memiliki penyakit serius


"itu adalah kantong kehamilan, dan yang titik hitam itu adalah calon bayi anda tuan" ucap Dr. Liem tersenyum melihat raut wajah Toni yang terlihat bingung


"apa dok?" Toni masih belum mengerti


"istri anda hamil tuan...dan kalau dilihat dari ukurannya..ini berusia enam minggu" ucap Dr. Liem tersenyum melihat ekspresi Toni


"apa dok? Hamil?" wajah Toni berubah menjadi sumringah "sayang....kamu hamil....kamu hamil anak kita..." Toni bahagia ia menghujami Dina dengan ciuman bertubi-tubi


Dina berkaca-kaca melihat Toni yang begitu bahagia mendengar dirinya hamil. Ada rasa sedih dan bahagia di hatinya.


"tapi dok...enam minggu? Padahal saya masih meminum pil dari dokter apa tidak ada masalah?" Dina kawatir


"apa nona pernah melewatkan meminumnya?"


"anda hamil anak kembar Nona...dan coba dengarkan" Dr. Liem menekan tombol lagi "ini detak jantung bayi anda...terdengar kuat" Dr. Liem tersenyum


"bayi kami sehat dok? Lalu kapan kami bisa tahu jenis kelaminnya?" Toni tak bisa membendung rasa bahagianya.


"dari pemeriksaan ini sehat, untuk jenis kelamin bisa dilihat empat atau lima bulan lagi" ucap dokter itu. Kemudian ia menjelaskan apa yang harus dilakulan dan tak boleh dilakukan selama kehamilan. Kemudian ia meresepkan vitamin untuk Dina juga obat untuk mengurangi mualnya.


"hemm...itu dok...apakah masih boleh berhubungan badan?" tanya Toni polos sedangkan Dina merasa malu


"boleh saja, asal hati-hati" jawab dokter itu tersenyum "kerena Nona masih lemah, jadi sebaiknya nona dirawat disini dulu sampai pulih" ucap dokter itu.


Perawat pun mendorong kursi roda Dina ke dalam ruang perawatan yang akan ditempati Dina. Sepanjang lorong menuju ruang rawat Dina, senyum Toni tak pernah surut.


Setelah memastikan Dina berbaring dengan nyaman, perawat itu pun undur diri. Dan kini tinggalah Toni dan Dina.


"terima kasih sayang...terima kasih...kamu memberikan aku kebahagiaan, dobel pula...tidak sia-sia siang malam aku menggempurmu dan hasilnya di luar dugaan" ucap Toni berapi-api


Dina mencubit pinggang Toni , ia pun merasa bahagia melihat Toni begitu bahagia, baru kali ini ia melihat Toni benar-benar bahagia.

__ADS_1


"sejak di Maldives daddy sudah tahu...kalau kamu tumbuh di sini boy" Toni membelai perut rata Dina


"di Maldives?" Dina mengerutkan dahinya


"kamu pikir aku tidak menghitungnya, aku sudah tahu sayang perubahan tubuh kamu, tingkah lakumu yang tidak biasanya aku tahu, tapi aku tak berani mengatakan padamu" Toni masih membelai perut Dina.


Ceklek....


Dina dan Toni menoleh ke arah pintu, dan papanya bersama Vanya datang dengan wajah panik "menantu papa sakit apa? Mbok Nah menelpon papa dengan nada panik secepat mungkin papa menyelesaikan meeting dan langsung kemari, apa yang sakit sayang..." tuan Yanuar panik lalu memperhatikan tubuh Dina yang terlihat pucat


"Dina sehat pa..." ucap Dina tersenyum


"Dina hamil pa....Dina hamil anak kembar...papa akan jadi kakek" Toni menghambur memeluk papanya meluapkan kebagiaannya "aku akan jadi ayah pa...akhirnya Dina hamil pa..." Toni menangis dipelukan papanya


"selamat ya....papa hanya bisa mendoakan semoga kalian sehat semua dan cucu-cucuku lahir tanpa kurang suatu apapun"


Dina terharu melihat kebahagiaan Toni dan papanya, ia tak menyangka kehamilannya akan membawa kebahagiaan yang begitu besar.


"Din...kamu sakit apa...? " mamanya Dina berlari memeluk Dina yang terbaring di brankar diikuti papanya yang berdiri tak jauh dari mamanya Dina


"kita akan jadi kakek dan nenek Ver..." ucap papanya Toni. Mamanya Dina menoleh ke arah papanya Toni


"benarkah itu Din?" Dina mengangguk air matanya luruh, ada perasaan bersalah pada kedua orang tuanya karena ia hamil sebelum menikah dengan Toni. Namun melihat raut wajah papanya yang terlihat tersenyum Dina sedikit lega.


"aku tak sabar melihat mereka lahir" ucap Vanya mendekati brankar Dina


"kapan kakak nyusul?"


"kapan-kapan" dan semua pun tergelak


"pa...sepertinya aku harus cuti lebih lama lagi" ucap Toni


"kenapa?"


"Dina tak bisa jauh dari aku, dia akan muntah-muntah kalau aku tak di sampingnya" ucap Toni dengan senyum bahagianya


"benarkah itu Din?"


"benar pa" jawab Dina malu-malu


"baiklah....berarti papa harus kembali ke perusahaan demi cucu-cucu papa"


"ambilah cuti selama yang kalian mau, apapun yang kalian minta akan papa berikan" ucap Tuan Yanuar bersemangat.

__ADS_1


Akhirnyaa keluarga itu merasakan kebahagiaan yang bertubi-tubi. Terutama Tuan Yanuar dan Toni. Sudah sejak lama mereka berdua menginginkan seorang anak yang lahir dari rahim Dina. Dan akhirnya penantian panjanh Toni terwujud, bahkan mendapat dua sekaligus.


...----------------THE END----------------...


__ADS_2