
Acara telah selesai, Toni mengajak Dina buru-buru pulang ia malas meladeni pertanyaan-pertanyaan dari teman-temannya. Ia datang ke acara perpisahan juga karena menghargai teman-temannya yang selama ini membantunya.
Selain itu, ia juga ingin menunjukkan pada teman-temannya jika a memiliki orang yang selama ini berada di hatinya. Toni ingin menunjukkan pada orang-orang yang selama ini berusaha mendekatinya. Ia merasa risih cewek-cewek mendekatinya dengan berbagai cara yang menurutnya murahan.
Selama perjalanan Dina hanya diam, ia membuang mukanya ke arah samping. Toni gusar, hatinya tak tenang sejak ia menyanyikan lagu terakhir di acara penutupan Dina mendiamkannya.
Ia memang sengaja memilih lagu yang ada kenangannya bersama dengan Dina. Ia ingin menunjukkan pada Dina jika ia ingat semua hal tentang Dina. Semua hal saat mereka bersama.
Toni membelokkan mobilnya ke tempat yang selama ini ingin ia datangi. Sebuah bukit yang diceritakan oleh Ridwan yang menarik perhatiannya.
Toni memarkirkan mobilnya di tepi jalan. Dina tersentak, tersadar dari lamunannya.
"kita dimana ini?"
"ayo turun..." ucap Toni lembut sambil melepas sabuk pengamannya.
Mereka berdua berjalan mencari tempat yang bisa mereka duduki. Udara terasa dingin menusuk tulang. Dina terlihat kedinginan, Toni melepaskan jasnya dan memakaikannya pada Dina
"kamu nanti kedinginan" ucap Dina menatap Toni
"aku memakai lengan panjang, kamu tenang saja..." ucap Toni lembut
"pemandangan bagus...dari sini pemandangan kota J di malam hari bisa dilihat" Dina terkesima
"iya bagus....indah...cantik..." saat mengatakan cantik Toni menatap Dina
Dina menyadari apa yang Toni katakan, namun ia mengabaikannya dan berpura-pura tidak tahu.
"Din...aku benar-benar menyayangi kamu...aku butuh jawaban Din...selama ini aku selalu menyibukkan diriku agar aku tak ada waktu untuk mengingat dirimu, namun nyatanya aku tetap tak bisa melupakanmu" ucap Toni menatap Dina
"aku enggak bisa membohongi hatiku Ton...aku enggak mau memulai hubungan denganmu sementara hatiku masih untuk orang lain, aku pernah menjalaninya dan itu hanya membuat aku terpuruk" ucap Dina menerawang jauh
__ADS_1
"tidak adakah sedikit ruang di hatimu untukku Din?"
"dulu iya....sekarang...kamu sudah tahu jawabanku" ucap Dina masih tak menatap Toni.
"tatap aku Din...apakah sebenci itukah dirimu padaku? Sehingga kamu tak mau membuka hatimu lagi untukku"
Dina menatap Toni "kamu memang yang pertama untukku, bagaimanapun aku tak mungkin melupakanmu, namun masalah perasaan saat ini aku enggak bisa Ton..." Dina kembali menatap ke depan
"kita sudah membahas ini berulangkali, aku tak ingin kecewa dan juga mengecewakanmu, kemarin kamu berjanji akan berusaha membuat hatiku terbuka untukmu lagi entah sampai kapan, tapi hari ini kamu sudah bertanya lagi"
"saat aku melihat banyak cowok-cowok yang memperhatikanmu, aku tidak terima, aku ingin memberitahu semua orang jika kamu milikku, aku tak tahan menunggu sampai hatimu luluh Din...!" Toni terlihat frustasi
Dina hanya bisa menghela nafasnya, bukannya Dina tak memiliki secuil perasaan pada Toni. Dina mulai tersentuh dengan semua perlakuan, perhatian Toni padanya namun ia selalu mengingkari hatinya sendiri jika ia masih menunggu Dendy. Ia berkeyakinan jika Dendy masih menyayanginya juga.
"Toni...kamu cowok tampan, di usia kamu yang masih muda kamu sudah mapan, jangan sia-siakan dirimu untuk mengejar sesuatu yang tidak pasti" ucap Dina tersenyum
Toni tak menjawab, ia merasa cewek-cewek yang ia kenal selama ini tak ada yang seperti Dina. Semakin Dina menolaknya ia semakin mencintainya, ia semakin yakin jika Dina adalah yang terbaik untuknya.
Toni menghela nafasnya, memang benar semakin ia memaksa Dina, Dina akan semakin mengabaikannya. Terkadang karena rasa cemburu Toni kehilangan akalnya, seperti malam ini, ia tak tahan untuk mendapatkan kepastian dari Dina hanya karena tatapan lapar dari teman-temannya pada Dina.
"memangnya mau ngobrolin apa? Ini sudah larut Din...kamu enggak dimarahi ibu kosmu?" Toni tersenyum
"di kos ku semua bawa kunci sendiri-sendiri, memang aturannya pulang jam sepuluh malam tapi kenyataannya ya...jam sebelas baru pulang" Dina terkekeh "ibu kos enggak masalah, yang jadi masalah itu depan kosku, tiap ada yang pulang malem dia yang ribut"
"ini sudah hampir jam dua belas Din..."
"berarti aku pulang pagi sekalian" Dina terkekeh
"kamu boleh menginap di rumahku lagi..."
"sekarang bagaimana rencana masa depanmu?" Dina mengalihkan pembicaraan
__ADS_1
"kamu yang nomor satu, belum terselesaikan" ucap Toni lirih
"seingatku bukan hanya itu Ton..." Dina mencoba untuk bersabar
"aku sedang bimbang, mengambil magister di universitasn B atau di kampusmu"
"memangnya kenapa? Bukankah tempo hari kamu sudah merencanakannya?"
"universitas B bagus, bergengsi, dosen-dosennya pun juga yang terbaik tapi di sana sebagian besar masih mahasiswa biasa atau kebanyakan pegawai biasa yang hanya mengejar gelar saja" terang Toni
"lalu di kampusku?"
"ada kamu" Toni tergelak
"kamu salah....satu gedung kamu di gedung paling depan sedangkan aku paling belakang, kalau itu alasanmu memilih kampus lebih baik enggak usah kuliah lagi" Dina kesal
Toni masih terkekeh melihat Dina yang tampak kesal "itu salah satu alasannya Din...alasan teknis nya, di kampusmu kebanyakan yang kuliah di tempatmu anak-anak pebisnis, minimal pemilik usaha meskipun kecil, dan banyak pebisnis muda juga di sana, namun dosen-dosennya kualitasnya masih di bawah universitas B" terang Toni
"kata siapa? Kami anak-anak universitas A, susah mendapat nilai, enggak seperti kampus lain, kami harus rela begadang, lupa makan lupa minum untuk mengejar nilai C, mungkin kampusku dosennya masih relatif muda namun kemampuan mereka tak kalah dengan kampus yang kamu banggakan itu" Dina tak terima
Toni terkekeh "ada yang enggak terima nih...?" goda Toni "iya aku sudah mendengar semuanya Din...aku sudah tahu itu aku bimbang antara mengejar gelar dari kampus bergengsi atau mencari ilmu yang tidak didapat saat kuliah"
"tujuan kamu ambil magister apa? Kalau kamu hanya ingin gelar saja, lebih baik kamu cari kampus pinggiran, bayar, enggak usah capek-capek kuliah pasti dapat ijasahnya, tapi kalau kamu ingin mencari ilmu untuk mengembangkan kemampuanmu, ya...cari kampus dimana kamu bisa mendapat ilmu baik secara teori maupun praktek"
Toni mendengarkan Dina, ia takjub Dina semakij dewasa pemikirannya, mampu memberinya saran di saat ia bimbang. Ia semakin jatuh cinta dan semakin yakin pada Dina.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g