
Dina berangkat kuliah bersama Toni. Kali ini Toni terang-terangan menunjukkan kalau Dina adalah pacarnya. Ia sengaja parkir di depan gedung kuliah Dina. Toni turun bersama Dina dan mereka berdua berjalan beriringan.
Kampus dalam kondisi ramai karena minggu terakhir sebelum mereka ujian akhir semester. Banyak mata yang memandang ke arah mereka.
Tak ada yang mengetahui jika Toni juga mahasiswa di sana, karena biasanya jadwal kuliah pasca sarjana cenderung sore atau bahkan malam.
"aku naik dulu, malu dilihatin teman-teman" ucap Dina lirih kemudian berjalan lebih cepat
"iya..." Toni menarik tangan Dina "sebentar..." Toni mengecup dahi Dina.
Toni ingin semua mata yang memperhatika mereka tahu jika Dina tak boleh diganggu oleh siapapun. Dina protes "malu Ton..."
"biar semua tahu, kamu itu calon istriku" Toni mengembangkan senyumnya
"itu lagi...sudah ah..." Dina cepat-cepat meninggalkan Toni yang tersemyum penuh kemenangan
Dina melewati Bimo yang sedang duduk di tangga lobi tanpa menyapa atau menatapnya. Dina mengacuhkan Bimo, ia tak mau terkena masalah lagi dengan Toni. Meskipun hukuman dari Toni tidaklah memberatkan dirinya namu karena pertemuannya dengan Bimo dan Dendy membuatnya tak bisa tidur di kosnya.
"cie....cie....sudah go public nih..." goda Caca menghampiri Dina
"apa sih kamu ini? Dari kemarin juga nggak ada yang aku tutup-tutupi" jawab Dina sambil menaiki tangga
"iya...tapi nggak pernah ada adegan cium kening di kampus" Berta terkekeh
"Din...kasihan Bimo, dari tadi keliatan sedih waktu melihat kamu berjalan bersama Toni" ucap Ratna
"terus aku harus bagaimana?" Dina tak tahu harus bagaimana
"sudah resikonya kak Bimo karena putus dari Dina...aku siap menerimanya jika ia mau" ucap Berta berangan-angan
"kalau mau sama dia kamu harus menunggu dua atau tiga tahun lagi Ta..." ucap Dina santai sambil berjalan memasuki ruang kuliahnya
"kenapa begitu Din?" Berta penasaran
"dia dapat bea siswa kuliah di luar negeri, kemungkinan paling cepet baru balik dua tahun lagi" jawab Dina sambil duduk di kursinya
"dari mana kamu tahu?" Caca akhirnya penasaran
"dari dia sendiri lah...." Dina mengeluarkan bukunya "gara-gara dia aku dapat hukuman dari Toni" ucap Dina kesal
Mereka tak lagi membicarakan Bimo, dosen yang mengajar mereka telah datang. Dina fokus dengan kuliahnya kembali. Setelah kuliah selesai Dina ke perpustakaan, ia hanya mengisi waktu karena jam kuliah berikutnya masih lama.
Kali ini Dina sendirian karena ia kuliah tidak bersama ketiga sahabatnya. Seperti biasa Dina memilih duduk di sudut perpustakaan dan menjauhi orang hilir mudik.
__ADS_1
Ponsel Dina bergetar, Dina mengambilnya dari tasnya. Ada sebuah pesan masuk ia pun membukanya.
📩sayang, aku sudah selesai kuliah, aku ke kantor sekarang, nanti kamu dijemput Ridwan ya, kabari jika sudah selesai
Dina pun membalasnya
📨 mungkin aku selesai kuliah jam 2, aku bareng teman-teman saja,
Tak lama Toni membalas pesannya
📩 kamu dimana?
📨 aku di perpustakaan
Toni tak lagi membalas pesan, Dina memasukkan ponselnya di tasnya ia pun melanjutkan membaca bukunya. Dina terkejut tiba-tiba ada yang memegang bahunya.
"aduh...bikin kaget saja"
"kenapa nggak mau dijemput Ridwan? Hmm?"
"pelankan suaramu" Dina berbisik sambil menatap kesal pada Toni "Ridwan kan kerja, memangnya tugasnya itu antar jemput aku kuliah?" ucap Dina berbisik
"nanti dijemput Ridwan...titik" ucap Toni dengn nada perintah kemudian ia mengecup singkat kepala Dina dan meninggalkannya
Dina berjalan keluar perpustakaan, ia merasa lapar ia pun memutuskan untuk ke kantin di tangga perpustakaan ia bertemu dengan Dendy.
"kuliah Din?" tanya Dendy dengan sorot mata kesedihan
"iya...aku kuliah jam dua belas nanti" jawab Dina santai
"sekarang mau kemana?" tanya Dendy
"aku mau ke kantin, duluan ya..." Dina buru-buru meninggalkan Dendy. Meski dalam hati kecilnya masih mencintainya, namun Dina tak ingin menunjukkannya pada Dendy. Ia tak ingin terlihat menyedihkan di depan Dendy.
Meski begitu, rasa sakit ditinggalkan oleh Dendy kembali merasuki hatinya. Dina merasa ia masih belum siap untuk bertemu dengan Dendy. Sekian lama ia berusaha untuk tegar dan terlihat baik-baik saja namun nyatanya pertemuannya kali ini membuat ia membuka luka lama.
Dina berjalan ke kantin, baru kali ini ia pergi ke kantin seorang diri. Biasanya ia bersama-sama dengan teman-temannya. Dina memesan bakso kesukaannya dan juga es jeruk. Ia memilih duduk di sudut kantin.
Tapi tiba-tiba ada yang duduk di sebelahnya, awalnya Dina terkejut namun sedetik kemudian ia bersikap biasa saja.
"sendirian?"
"iya...seperti yang kakak lihat" ucap Dina sambil meneguk es jeruknya
__ADS_1
"sudah tahu kabar Bimo?" tanya orang itu
"mas Bimo sudah lulus kan tinggal nunggu wisuda? Itu aku tahu" ucap dina santai
"bukan itu"
"ooh...yang dia dapat beasiswa di luar negeri itu?"
"hmm...belum semuanya"
"lantas apalagi yang harus aku tahu, kakak tahu sendiri aku sudah lama putus dengannya"
"Bimo bukan mendapat beas siswa dengan jalur seperti yang kita biasa tahu, tapi dia dibantu teman mamanya dan sebagai gantinya ia harus mau dijodohkan dengan anaknya"
"ya bagus dong...bisa kuliah di luar negeri itu kan cita-citanya sejak dulu"
"begitu saja tanggapanmu?"
"aku harus bagaimana kak? Aku sudah tak ada hubungan dengannya lagi, apapun yang ia lakukan bukan urusanku" Dina merasa kehilangan nafsu makannya
"kamu yakin nggak peduli dengannya lagi?"
"maaf kak...aku dan dia sudah punya kehidupan masing-masing, aku hanya ikut bahagia karena apa yang ia inginkan selama ini bisa terwujud"
"apa gara-gara sekarang kamu pacaran dengan cowok MM itu Din? Andai aku mengenalmu lebih dulu" kemudian cowok itu meninggalkan Dina
Dina menjadi tak berselera makan, ia meletakkan sendok garpunya dan meneguk es jeruknya. Ada pesan masuk di ponselnya
📩makan aku nggak mau kamu sakit waktu aku tinggal besok
Dina memaksakan makan, karena Toni yang sudah begitu perhatian padanya. Meski beberapa hari terakhir, tingkah Toni begitu menyebalkan namun Dina semakin menyayangi Toni. Toni memperlakukannya beda dengan mantan-mantannya terdahulu.
Meski terkadang, mereka berselisih paham masalah kebiasaan mereka namun, Dina bersyukur karena Toni yang sekarang sudah berubah, bukan lagi Toni yang ia kenal waktu SMA.
.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1