
Belum pukul tujuh malam, Toni sudah sampai di rumah Andini. Dengan sejuta rasa yang berkecamuk di dadanya Toni melangkah masuk ke dalam pagar rumah Andini.
Di teras terlihat Andini sudah menunggunya, dengan senyum memgembang ia berdiri menyambut kedatangan Toni.
"aku kira kamu akan terlambat" ucap Andini
"kamu sudah siap?" tanya Toni memaksakan senyumnya
"iya sudah dari tadi, kita berangkat sekarang?"
"enggak pamit dulu ke om Herman?" ucap Toni merasa tak enak hati
"aku sudah bilang ke papa tadi" Andini berjalan mendekat ke Toni
Malam itu, Andini berdandan tak seperti biasa, Toni melihat seperti bukan Andini yang ia kenal, yang selalu sederhana dan cenderung pendiam.
"ya sudah kalau begitu...ayo kita berangkat keburu malam" ucap Toni
Toni berbalik, berjalan ke arah mobilnya yang terparkir di luar pagar rumah Andini. Andini mengekori Toni dengan senyum yang tak hilang sedikitpun.
Toni membawa Andini ke taman kota yang terletak tak jauh dari kantor papanya. Toni memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah makan, yang terletak di seberang taman.
Toni mengajak Andini untuk masuk ke rumah makan tersebut. Mereka berdua memesan makanan yang tak lama kemudian makanan sudah tersaji di meja mereka.
Mereka berdua makan dalam diam, tak ada satupun dari mereka yang mencoba untuk bicara lebih dahulu. Toni sedang berusaha menahan semua perasaannya.
Bagi Toni, ini kali pertama ia mencoba melupakan kenangan dan menghapus perasaannya pada Dina. Ia masih saja berpikir, apakah ini keputusan yang tepat, ataukah langkah salah yang harus ia tempuh.
Ia belum terlalu mengenal Andini, baru beberpa bulan mereka dekat, ia masih takut memulai hubungan yang baru, tapi harus ia lakukan.
Setelah mereka menyelesaikan makan mereka, Toni mengajak Andini untuk pergi ke taman, dan duduk di salah satu sudut lapangan itu.
"tumben kamu mengajak aku ke taman, biasanya tiap akhir minggu kamu lebih suka berdiam di kantor papamu" ucap Andini memecah keheningan
"ingin suasana yang berbeda saja An..." Toni menyembunyikan gugupnya
"mana bisa kamu membaca berkas-berkas di tempat seperti ini" Andini melihat sekelilingnya
"hari ini aku ingin istirahat sejenak, bosan lihat tulisan dan angka-angka terus" Toni terkekeh
__ADS_1
"kamu sehat kan Ton?" Andini mengerutkan dahinya
"sehat...memangnya kenapa?"
"awal aku kenal kamu, kamu ingin belajar bahkan untuk minum saja kamu sampai lupa"
Toni tergelak "sesekali istirahat boleh kan?" pertama kalinya Andini melihat Toni tertawa lepas
Mereka berdua kembali terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Toni sibuk memikirkan bagaimana caranya mengatakan apa yang ia inginkan. Sedangkan Andini menunggu Toni mengatakan hal yang ia inginkan selama ini.
"An..." Toni membuka suara dulu
"iya Ton..." Andini menatap Toni dengan perasaan cemas
"hmm....kamu sudah punya pacar belum?" Toni memberanikan diri berbicara pada Andini
"belum Ton...." Andini menyembunyikan perasaan bahagianya selama ini kata-kata seperti ini yang ia tunggu
"hmm...belum ya...kalau kamu jadi pacar aku, mau enggak?" Toni menahan perasaannya sekuat tenaga
"apa Ton? Maksudnya bagaimana?" Andini pura-pura tidak tahu
"hmmm....aku mau..." Andini tertunduk
Toni sempat terkejut, ia tidak menyangka Andini dengan mudah menerimanya. Ia membandingkan dengan Dina, dulu ia harus mengejar-ngejar dan meyakinkan Dina tentang perasaanya, itu pun butuh waktu sedikit lebih lama.
Dengan Andini, semua terasa lebih mudah. Toni bingung kenapa Andini bisa semudah itu memberinya jawaban sedangkan Dina tidak.
Toni dengan cepat merubah ekspresi keterkejutannya menjadi senyuman. Ia tak yakin Andini bisa sebaik Dina, lebih baik jalani dulu pikirnya.
"terima kasih" ucap Toni lembut tapi ia tak sebahagia ketika Dina menerima cintanya
"buat apa berterim kasih? Sudah lama aku menyukaimu" ucap Andini dengan senyum mengembang
Kata-kata Andini menambah satu lagi keterkejutannya. Ia tak menyangka semudah itu mendapatkan Andini dan yak menyangka Andini juga menyukainya sejak lama.
"kita pulang sekarang ya..." ucap Toni
"ini masih sore Ton...buat apa pulang jam segini" Andini melihat arloji yang melingkar di tangan kirinya.
__ADS_1
"tapi ini sudah terlalu malam, sudah pukul sembilan lebih, aku tidak enak dengan papa kamu" ucap Toni mencoba memberi pengertian
"kita baru saja resmi berpacaran, masak iya kita tidak menikmati malam ini" Andini mengerucutkan bibirnya
"masih banyak waktu An..." Toni mencoba sabar, ia tahu Andini sedang merajuk
"kamu ke sini hanya tiap akhir minggu, itupun kamu sibuk mengurus perusahaan"
Toni merasa Andini tidak seperti yang ia kenal selama ini. Cewek yang pendiam, tak banyak bicara, sopan, tapi malam ini ia merasa tidak mengenal Andini.
"baiklah...kamu mau kemana?" Toni mengalah, ia tak mau berdebat untuk hal yang tak penting.
"aku mau jalan-jalan keliling kota..."
Toni menuruti keinginan Andini. Ia mengajak Andini berkeliling menikmati suasana malam minggu di kota J.
Malam semakin larut, berkali-kali Toni mengajak Andini untuk pulang, tapi Andini selalu menolaknya. Sebenarnya ia merasa lelah, banyak dokumen yang harus ia periksa, ia juga harus survei tempat untuk kantornya yang baru esok hari.
Toni teringat dengan Dina, jika bersama dengan Dina, mereka tak harus pulang malam. Dina selalu mengerti jika mereka berdua punya kesibukan masing-masing dan tidak pernah protes ketika Toni tak bisa menemaninya.
Karena terlalu lelah, tanpa memberitahu Andini, Toni melajukan mobilnya menuju ke rumah Andini. Ia sudah tak peduli jika Andini nanti marah, ia butuh istirahat masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan.
Setelah sampai di depan rumah Andini, Toni mematikan mesin mobilnya. Andini marah, Toni hanya diam tak menghiraukan semua perkataan Andini.
"sudah An...aku sangat lelah, kalau kamu memaksa kita pergi, kamu mau kita kecelakaan?" Toni memejamkan matanya menahan emosinya
"terserah kamu...!! Aku tak peduli!!" Andini turun dari mobil Toni dengan membanting pintu mobilnya
Toni tak habis pikir, hari pertama mereka resmi menjadi sepasang kekasih dilalui dengan pertengkaran hanya karena masalah sepele.
Toni pun meninggalkan rumah Andini, ia melajukan mobilnya ke rumah kontrakannya. Yang ia inginkan saat ini hanyalah tidur nyenyak.
.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g