
Karena Toni juga sangat menyukai basket, dan ia juga mencintai timnya, mau tidak mau ia menyetujui ketika teman-temannya mengajaknya berlatih.
Hampir setiap hari teman-temannya mendatangi rumahnya ketika jam pulang sekolah. Bahkan saat jam istirahat pun lebih sering Toni habiskan bersama teman-teman dekatnya.
Dina berusaha memaklumi Toni. Ia mendukung hobi Toni karena ia juga menyukai basket juga. Olahraga tersebut yang telah mempertemukan mereka berdua. Basket jugalah yang telah mempersatukan mereka.
Dina masih tidak mempermasalahkan Toni yang sering meninggalkannya untuk pergi bersama teman-temannya. Dina masih berpikiran positif terhadap Toni.
Sebulan berlalu, Dina merasa Toni semakin jauh darinya. Toni semakin sering mengabaikannya hanya untuk berkumpul dengan teman-temannya.
"Roy...Toni sesibuk apa? Sampai-sampai tak ada waktu untukku" tanya Dina
"aku tidak tahu Din..." Roy tidak ingin menyakiti Dina.
"kamu kan teman dekatnya, kenapa tidak tahu Roy?" tanya Dina dengan raut wajah sedihnya.
Roy tidak ingin Din tahu kalau teman-teman dekat Toni sering menjelek-jelekkan Dina. Bahkan ada yang sengaja memfitnah Dina.
"aku memang dekat dengannya Din...tapi aku juga tidak setiap hari bersamanya" ucap Roy menahan amarahnya kepada Toni.
Dina kembali dengan rutinitasnya, ia mencoba menghibur diri dengan tenggelam dalam buku-buku. Ia bisa bersama dengan Toni hanya ketika mereka berada di kelas.
Hari-hari berlalu, Toni masih belum berubah sikapnya. Ia beralasan jika turnamen basket sudah semakin dekat dan ia harus lebih fokus berlatih.
Dina semakin larut dalam kesedihan dan buku-bukunya, ia melampiaskan semua rasa sedih, kesal dan marahnya pada buku-buku. Ia tidak mau mengingat segala yang kurang menyenangkan dalam hubungannya dengan Toni.
Karena terlalu lelah belajar, dab terlalu sedih akhirnya Dina jatuh sakit. Sejak pagi Dina sampai di sekolah, wajahnya terlihat pucat.
Dina tak bersemangat, tapi ia juga tidak mau membolos pelajaran. Di tengah pelajaran Dina merasa kepalanya semakin berat. Ia pun memutuskan untuk beristirahat di UKS.
Toni mengantar Dina ke UKS, Toni sangat mengkawatirkan Dina. Meskipun mereka akhir-akhir ini sedikit renggang, tapi Toni begitu menyayangi dan mencintai Dina.
"aku antar pulang saja ya, Din..." ucap Toni yang duduk di samping tempat tidur di UKS
"tidak usah Ton...aku tidur sebentar juga sudah lebih baik" ucap Dina dengan mata sayu namun masih bisa tersenyum
Dina memejamkan matanya, Toni setia menunggui Dina yang sedang sakit.
"Toni..." suara seseorang terdengar dari luar. Dina membuka matanya dan melihat ke arah samping, Toni masih duduk di sampingnya.
"Toni...!"
Toni pun beranjak dari duduknya dan meninggalkan Dina sendirian. Dina hanya bisa menghela nafasnya, kemudian ia memejamkan matanya lagi. Lama ia menunggu Toni tapi tak kunjung kembali.
__ADS_1
Karena sudah merasa lebih baik, Dina memutuskan kembali ke kelasnya.
"kamu sudah lebih baik Din?" tanya Rani dengan nada kawatir.
Dina hanya menjawab dengan senyuman. Ia mengikuti pelajaran kembali meski pusing masih menderanya.
Bel istirahat jam sore pun telah berbunyi. Dina enggan untuk keluar kelas karena kepalanya masih sedikit pusing. Dina menundukkan kepalanya di atas mejanya.
"Din...kamu tidak makan?" tanya Toni lembut
Dina hanya menjawab dengan gelengn kepala. Toni hanya menghela nafasnya.
"ayo ke kantin...kamu harus makan, nanti kamu tambah sakit" ucap Toni lembut
Dina akhirnya menyetujui untuk ke kantin dengan Toni. Toni menggandeng tangan Dina ke kantin yang dekat dengan kelasnya. Toni memesankan nasi soto dan segelas teh hangat untuk Dina.
Dina tak berselera makan, ia hanya memandangi semangkok soto yang ada di hadapnnya.
"kenapa tidak dimakan?" tanya Toni lembut
"tidak enak makan" jawab Dina lesu
"ayo dimakan...biar kamu sehat, dua hari lagi jadwal turnamenku, aku harap kamu bisa datang" ucap Toni lembut dengan senyum merekah "nanti pulang aku antar ya..." Toni menatap Dina dengan perasaan sedih, wajah Dina begitu pucat.
"Ton...aku ada perlu dengan dirimu" ucap Angga
Dina membanting sendoknya, kemudian ia berdiri meninggalkan kantin.
Dina kembali ke kelasnya dengan perasaan sedih. Dina sebisa mungkin menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia tidak mau terlihat lemah di depan semua orang.
"Din....kamu tidak makan?" Rani duduk di sebelahnya
"sudah..." jawab Dina datar.
"syukurlah kalau kamu sudah makan..." ucap Rani
Bel masuk pelajaran jam sore telah berbunyi. Semua siswa masuk ke dalam kelas. Wajah Dina semakin terlihat pucat, Rani yang duduk di sebelahnya semakin kawatir.
"Din..sebaiknya kamu pulang saja" bisik Rani
"tanggung Ran..." Dina memaksakan senyumnya.
Ia melirik ke belakang, Toni terlihat tenang memperhatikan penjelasan gurunya.
__ADS_1
Bel pulan sekolah berbunyi, semua siswa berhamburan keluar kelas. Dina masih membereskan buku-bukunya. Toni beranjak menghampiri Dina dan mebantu Dina membereskan buku-bukunya.
"ayo Ton..." ucap Bian merangkul pundak Toni
"hati-hati di jalan ya Din..." ucap Toni kemudian ia berjalan meninggalkan kelas bersama Bian dan Angga
"aku antar pulang ya Din..." ucap Roy dengan tatapan iba
"tidak usah Roy...aku bisa pulang sendiri" ucap Dina dengan senyum dipaksakan
"tapi wajah kamu pucat sekali Din..." Roy kawatir melihat kondisi Dina
"tidak apa-apa Roy..." Dina memaksakan senyumnya
"yakin tidak apa-apa?" Roy memastikan. Dina menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada Roy
Roy pun meninggalkan Dina, dan berjalan menyusul Toni dan teman-temannya. Rani yang masih duduk menunggu Dina merasa kawatir. Ia ingin mengantar Dina pulang tapi ia sendiri tidak membawa motor.
Ia melihat Widi berjalan melewati meja mereka.
"Widi...!" panggil Rani. Widi pun menoleh dan berjalan menghampiri Dina dan Rani.
"ada apa Ran?" tanya Widi
"aku bisa minta tolong tidak?" tanya Rani
"apa?"
"tolong antar Dina pulang ya Wid..." ucap Rani dengan tatapan memohon
"tidak usah Wid...aku bisa pulang naik bis" ucap Dina memaksakan senyumnya
"baiklah...aku antar kamu ya Din...tolong jangan menolak, daripada nanti kamu kenapa-kenapa di bis" ucap Widi dengan senyum tipisnya
Dina pun menurut, ia berjalan mengikuti Widi ke tempat parkir. Widi memboncengkan Dina dengan kecepatan rendah. Sesekali ia memanggil Dina, memastikan bahwa Dina masih sadar.
.
.
B e r s a m b u n g
Jangan lupa ritualnya ya bestie...please like vote dan komennya...
__ADS_1
Baca juga 'PACARKU ADIK KELASKU' biar sedikit nyambung ceritanya. Terima kasih sekebon bestie