
Roy serasa menjadi obat nyamuk menemani Toni ke rumah Dina. Yang lebih sering berbicara Toni daripada dirinya. Padahal Roy yang lebih tahu bagaimana Dina, dan tahu betul bagaimana hubungan Dina dengan neneknya.
Bagaimanapun juga melihat Dina sedikit tersenyum karena kedatangan mereka sudah cukup membuat Roy senang. Kedatangan mereka mampu menghibur Dina.
Asyik mengobrol tak terasa hari menjelang petang. Tapi sepertinya Toni tak ingin menyudahi obrolan mereka. Toni masih ingin berlama-lama di rumah Dina.
"Ton...ini sudah sore...ayo kita pulang" bisik Roy
"sebentar Roy mumpung Dina mau berbicara denganku" bisik Toni
"kalian ada apa? Kenapa bisik-bisik?" tanya Dina heran
"ah....tidak ada apa-apa" kilah Toni sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"begini Din.... Ini sudah sore...kami pulang dulu ya..." ucap Roy santai yang mendapat tatapan tajam dari Toni
"iya...tidak apa-apa, ini sudah sore pasti nanti dicari mama papa kalian" ucap Dina tersenyum "terima kasih sudah datang, aku jadi ada teman mengobrol"
"sebenarnya aku ingin masih di sini, tapi ini si Roy sudah mengajak pulang" ucap Toni sendu
"iya tidak apa-apa Ton....terima kasih sudah datang" ucap Dina tersenyum tulus
Toni sudah lama sekali tidak melihat Dina tersenyum setulus itu. Hanya dengan mendapat senyuman dari Dina hatinya bagaikan taman bunga.. Akhirnya dengan berat hati Toni menyetujui untuk pulang.
Dina merasa terhibur dengan kedatangan Toni, tak bisa dipungkiri jika ia juga masih menyayangi Toni. Tapi ia juga masih ingat betul kenapa ia memutuskan hubungan mereka berdua.
Keesokan paginya, Dina sudah bersiap untuk berangkat sekolah. Di rumah ia malah merasa sedih karena terus teringat dengan neneknya.
"Din....ada Toni di depan" ucap mamanya Dina lembut
"hah....sepagi ini mau apa dia?" Dina terkejut ternyata Toni serius mau menjemputnya
"katanya ia sudah berjanji akan menjemputmu berangkat sekolah" ucap mamanya Dina
"padahal aku sudah bilang mau berangkat sendiri" gerutu Dina sambil keluar dari kamarnya
"tidak baik menolak kebaikan seseorang..." ucap mamanya Dina
"bukan menolak ma...Dina hanya tidak mau merepotkan orang" ucap Dina kesal
"sudah sana temui Toni dulu, kasihan jauh-jauh ke sini pagi-pagi disuruh menunggu" ucap mamanya Dina
"iya ma..." Dina keluar dan menghampiri Toni yang sedang duduk di teras rumah Dina
"kemarin aku sudah bilang aku bisa berangkat sendiri..." ucap Dina ketus
Toni tersenyum, dalam semalam Dina bisa berubah sikapnya terhadap dirinya
__ADS_1
"kalau kamu mau sarapan dulu, aku akan menunggumu" ucap Toni lembut
"iya...aku tidak akan lama.." Dina kembali masuk ke dalam rumah dan masuk ke ruang makan
"Din...Toni sekalian diajak sarapan, kasihan dia pasti belum sarapan" ucap mama Dina
"dia sudah sarapan ma, tidak mungkin dia keluar rumah belum sarapan, mboknya pasti akan menahan dia" ucap Dina sambil mengunyah makanannya.
Mamanya Dina hanya geleng-geleng kepala melihat sikap Dina yang menjadi acuh terhadap Toni. Mamanya Dina tidak tahu permasalahan Dina dengan Toni seperti apa karena Dina tidak pernah menceritakan apa yang ia hadapi kepada mamanya.
Sepuluh menit kemudian Dina sudah selesai makan dan sudah siap berangkat sekolah. Dina keluar rumah dengan membawa helmnya.
"ayo berangkat..." ucap Dina datar
"iya..." ucap Toni menarik kedua sudut bibirnya ke atas
Toni berjalan ke arah motornya dan memakai helmnya, kemudian ia menyalakan mesin motornya.
"ayo naik..." ucap Toni lembut , Dina pun naik ke boncengan Toni. Toni melajukan motornya dengan kecepatan sedang, lima belas menit kemudian mereka telah sampai di depan rumah Toni.
"kenapa ke rumahmu Ton?" tanya Dina datar
"aku mengembalikan motor dulu Din..." ucap Toni lembut.
Toni memasukkan motornya sedangkan Dina hanya duduk di teras menunggu Toni memasukkan motornya ke garasi.
"iya mbok..." ucap Dina tersenyum
Papanya Toni keluar dari rumah dengan pakaian yang sudah rapi "siapa mbok?" tanya papanya Toni
"ini den...yang namanya non Dina.." ucap mbok Nah
"oh...ini yang namanya Dina" ucap papanya Toni dengan senyum mengembang
Dina menjadi salah tingkah, tidak menyangka jika akan bertemu dengan papanya Toni.
Dina pun memyalami papanya Toni "saya Dina om" ucap Dina tersenyum ramah
"benar seperti yang mbok katakan" ucap papanya Toni
"ayo Din..." Toni berjalan mendekati Dina melewati papanya begitu saja
"baru juga papa bertemu Dina sudah diajak pergi saja...." protes pak Yanuar
"sudah hampir bel masuk pa..." ucap Toni datar
"Dina pamit om..." Dina kembali menyalami papanya Toni
__ADS_1
"sering-sering main ke sini ya Din..." ucap papanya Toni tersenyum mengembang
Dina hanya mengangguk dengan senyumnya. Dia merasa terjebak dalam situasi yang tak pernah ia bayangkan. Toni menggandeng tangan Dina, tapi Dina segera menepis tangan Toni.
"kenapa kamu mengajak aku ke rumahmu?" tanya Dina kesal "aku malu dengan papamu"
"papa yang meminta aku mengajakmu ke rumah" ucap Toni santai
"kenapa papamu meminta aku datang ke rumah? Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa Ton"
"aku tidak tahu apa maksud papaku, semua gara-gara mbok Nah" ucap Toni santai
"kamu yang mengajakku kenapa menyalahkan mbok Nah..." Dina kesal
Mereka pun tiba di gerbang bagian depan sekolah.
"kita pisah di sini Ton....aku tidak mau ada yang tahu kalau aku bernagkat sekolah bersama kamu" Dinaa berjalan mendahului Toni dan menghilang begitu saja di tengah kerumunan para siswa yang baru saja masuk gerbang
Toni menghela nafasnya kasar, ia tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk merebut hati Dina kembali. Dina begitu berbeda dengan kemarin. Dina hari ini kembali lagi menjadi Dina beberapa hari yang lalu, yang selalu menghindari dirinya.
Setidak hari ini ia berhasil menjempu Dina berangkat ke sekolah, dan berhasil mengenalkan Dina pada papanya. Toni tidak tahu maksud papanya yang ingin mengenal Dina.
Selama ini papa mamanya terlalu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing tidak pernah peduli apa yang ia lakukan. Bahkan kakaknya pun sekolah di luar kota juga jarang pulang ke rumah karena malas dengan keadaan rumah.
Toni masuk ke kelasnya "kata mbok Nah kamu pergi menjemput Dina" ucap Roy setengah berbisik
"iya" jawab Toni singkat
"terus kenapa wajahmu bermuram durja begitu?" tanya Roy sedikit meledek
"Dina balik lagi ketus seperti dulu" Toni menghela nafasnya kemudian duduk di sebelah Roy
Roy terkekeh "selamat memulai dari awal lagi"
"kenapa begitu?" protes Roy
"Dina kalau sudah begitu akan sulit untuk di dekati" Roy menepuk bahu Toni
Pikiran Toni tak tenang, memikirkan bagaimana caranya meluluhkan hati Dina yang sudaj mengeras. Itu semua juga memang karena kesalahannya di masa lampau.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1