Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 56 Memulai balas Dendam


__ADS_3

Tekad Toni sudah bulat untuk membalas dendam. Toni sengaja mengajak Roy untuk berlatih basket di tempat biasa Bian nongkrong. Perlahan tapi pasti, komunikasi dengan Bian mulai terjalin.


Hampir setiap hari sabtu dan minggu Toni sengaja mendatangi apangan basket di pusat kota. Toni tahu jika hari Sabtu sore Bian sering mengajak adiknya untuk nongkrong di dekat lapangan basket.


Toni dan Roy berpura-pura tak menyadari kedatangan Bian dan adiknya tanpa teman-teman Bian yang lain.


"aku perhatikan kalian sekarang sering berlatih di sini" ucap Bian dengan gaya angkuhnya


"iya....hanya untuk cari keringat saja" ucap Toni santai, sedang Roy acuh


"mau masuk ke timku lagi?" tanya Bian


"hmmm....memangnya boleh?" Toni pura-pura berpikir


"jelas boleh, tapi ada syaratnya..." Bian menarik satu sudut bibirnya ke atas


"apa?" tanya Toni sambil mendribble bola


"kamu harus jauhi Dina, kalau perlu kamu hancurkan dia" ucap Bian


"Dina sudah punya pacar lagi, tak perlu repot-repot menjauhi dia" ucap Toni sambil memasukkan bola dalam keranjang


"oke...tiga minggu lagi ada turnamen di kampus 'S' datanglah posisi kamu seperti dulu, tapi Roy tidak ikut" Bian meninggalkan Toni dan Roy yang saling tatap penuh arti


Bian berhenti dan menengok ke belakang "jaga Fara" kemudian Bian pergi meninggalkan mereka bertiga


Fara adik satu-satunya Bian, dia sangatlah manja, apapun keingannya dituruti oleh Bian. Bian dan Fara hanya terpaut satu tahun. Fara bersekolah di sekolah swasta terkenal di kota itu. Dimana hanya anak-anak orang kaya lah yang bisa bersekolah di sana.


Kehidupan Bian dan Fara sangatlah bebas, karena kedua orang tua mereka jarang berada di rumah. Tidak ada yang tidak kenal Bian, cowok kaya yang suka sekali gonta-ganti pacar. Bahkan banyak dari cewek-cewek yang mengejar Bian sudah Bian tiduri.


Toni tahu semua tentang Bian, semasa dia dekat dengan Bian sering Bian membawa cewek pulang ke rumahnya hanya untuk berpesta minum-minuman keras dan ****.


Toni sering melihat dengan mata kepalanya sendiri Bian mencumbu cewek yang kadang lebih tua darinya di depan dirinya dan teman-temannya.


Fara mendekati Toni "apa aku bilang, kamu tak akan bisa lepas dariku" ucap Fara menggelayut manja di lengan Toni.


"Ton...aku balik dulu, kamu bisa pulang sendiri kan?" pamit Roy

__ADS_1


"tenang Roy....Toni akan pulang bersamaku" ucap Fara penuh kemenangan


Roy berjalan melewati Fara dan Toni saat di samping Fara Roy membisikkan sesuatu "jangan sakiti Toni, atau aku akan membongkar aibmu" Roy berlalu meninggalkan mereka berdua


"Ayo Ton...kita jalan-jalan mumpung malam minggu" ucap Fara menggelayut manja di lengan Toni. Toni merasa risih tapi karena niat balas dendamnya ia berusaha santai dan berpura-pura menjadi cowok angkuh di depan Fara.


Toni mengemudikan mobil Fara dengan kecepatan sedang. Keringat yang mebasahi rambut, kaos serta badan Toni membuat penampilan Toni semakin tampan dan mempesona.


Pesona Toni itulah yang membuat Fara tergila-gila dengan Toni, dengan segala cara ia meminta Bian untuk membuat Toni mau bertekuk lutut dihadapannya.


Fara yang sudah jatuh ke dalam pesona Toni, perlahan mulai mendekatkan duduknya ke arah Toni, kemudian ia mulai memeluk tubuh Toni membelai dada Toni.


Toni yang sedang fokus menyetir menjadi kehilangan kendalinya. Ia berusaha mengabaikan perasaan bergejolak karena belaian Fara di dadanya. Keringat yang tadinya mulai mengering kembali keluar seiring belaian Fara. Toni merutuk dalam hatinya, andaikata yang membelainya adalah Dina tak akan ia sia-siaka.


"kenapa Ton? Kamu kenapa berkeringat apa AC nya kurang dingin?" Fra pura-pura tak tahu sambil tangannya membelai dada dan memainkan choco chip milik Toni. Toni semakin tak karuan, karena ia sudah tak tahan akahirnya ia menepis tangan Fara.


"jangan macam-macam atau kamu akan menyesalinya" ucap Toni dengan suara berat seolah-olah menahan sesuatu. Toni tidak bodoh, meski ia belum pernah melakukannya tapi ia tahu kemana arah tangan Fara.


"ayolah Ton...ini malam minggu, lama kita enggak jalan berdua" Fara dengan gaya santainya


"kamu bisa mandi di rumahku" ucap Fara tak mau kalah


"aku tidak bawa baju ganti" Toni mencoba untuk menghindar


"pakai bajunya Bian, aku rasa ukuran kalian sama" desak farah


Toni menghela nafasnya, dia berada dalam posisi sulit, tapi ia ingin balas dendamnya segera berakhir.


"baiklah..." Toni membelokkan stir kemudinya ke arah rumah Bian.


Di rumah Bian tampak sepi, hanya terlihat satpam yang berjaga di pintu gerbang.


"kok sepi Far?" Toni mematikan mesin mobilnya


"pembantu minta ijin libur, sedangkan Bian kamu tahu sendiri pasti sedang pesta dengan cewek-ceweknya" Fara melepas sabuk pengaman dan turun dari mobil.


Toni ragu untuk masuk ke dalam rumah, karena sepi, ia takut terjadi sesuatu yang tak dia inginkan di dalam.

__ADS_1


"ayo...katanya mau mandi? Mandi di kamarku saja" Fara menarik tangan Toni


"aku mandi di kamar tamu saja Far....tidak enak masuk kamar cewek" Toni berhenti di depan pintu rumah


"baiklah....aku ambil baju Bian dulu..." Fara naik ke atas mengambil baju


Sedangkan Toni berjalan ke arah kamar tamu yang sering ia tempati kalau menginap di rumah Bian dulu. Toni masuk ke dalam kamar mandi kemudian membersihkan tubuhnya.


Lima belas menit kemudian Toni keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Toni terkejut melihat Fara yang duduk di tempat tidur hanya memakai tanktop serta celana pendek.


"ini bajunya Bian, masih baru belum dipakai" Fara menepuk baju yang terletak di sebelahnya.


Dengan langkah ragu, Toni berjalan mengambil baju yang ditunjuk Fara.


"ternyata badan kamu sekarang lebih bagus" Fara berdiri meraba dada Toni.


Toni memejamkan matanya, sekuat tenaga Toni menahan gejolak di tubuhnya. Fara berputar membelai tubuh Toni menggoda Toni.


"jangan ditahan Ton...." bisik Fara


Toni diam tak menjawab, ia tetap memejamkan matanya, ia mecoba mengalihkan pikirannya mengingat wajah canti Dina yang sedang tersenyum kepadanya.


Perlahan ia mulai bisa mengendalikan gejolak dalam tubuhnya. Ia tetap tak membuka matanya, ia membayangkan kebersamaannya dengan Dina. Hingga ia tak merasakan sentuhan Farah lagi.


Perlahan Toni membuka matanya, dan betapa terkejutnya dia, Fara sudah duduk dihadapannya, mulai melepas satu per satu kain yang menempel pada tubuhnya.


Toni kembali memejamkan matanya, mengingat wajah Dina. Saat ini hanya itu yang bisa ia lakukan agar tak jatuh dalam godaan Fara. Ia tahu Fara menginginkan apa.


Hanya saja ia tak mau merusak Fara, ia tak mau melakukannya dengan Fara, cewek yang sama sekali tidak ia cintai. Cewek yang menjadi penyebab hancurnya hubungannya dengan Dina.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2