Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 83 Ketakutan


__ADS_3

"aku tak bisa pindah.....pindah ke lain hati....ho...ho...ooo...oooo"


Toni masih saja bersenandung, mengikuti lagu yang menurutnya cocok dengan suasana hatinya saat ini, bernyanyi membuatnya tidak bosan dan mengantuk karena perjalanan yang jauh dan jalanan yang sedikit padat hari itu.


Toni menghentikan mobilnya karena ia telah sampai di depan kos kakaknya. Toni menunggu Dina terbangun, ia tak berani membangunkannya karena Dina sedang sakit.


Toni memandangi wajah Dina yang terlihat semakin cantik, tapi terlihat ada kesedihan dalam wajahnya "aku akan mendapatkanmu kembali Din..." batin Toni


"sudah bangun?" ucap Toni lembut mentapnya


"hmm....dimanaa ini?" Dina menegakkan tubuhnya


"di kos kakakku" ucap Toni sambil melepaskan sabuk pengamannya "kamu mau ikut turun atau menunggu di sini?" tanya Toni lembut


"aku menunggu di sini" ucap Dina sambil menegakkan kursinya kembali


"baiklah...aku tidak akan lama" Toni turun dari mobil kemudian mengambil sesuatu di bagian belakang mobilnya.


Tak lama menunggu, Toni terlihat keluar dari dalam kos cewek yang terlihat mewah bersama seorang cewek cantik, modis dan ia tak tahu itu siapa.


Toni membuka pintu mobil dan masuk kemudian membuka kaca mobilnya.


"sudah ya....besok-besok jangan menyuruhku lagi" ucap Toni kesal


"lhoh...ini siapa? Kenapa tadi enggak ikut masuk?" cewek itu menatap Dina


"ah...enggak penting..." Toni menutup kaca mobilnya sedangkan Dina hanya terpaku dengan sikap Toni yang terlihat sangat berbeda. Terdengar jendela kaca Toni diketuk sepertinya cewek itu belum puas dengan jawaban Toni.


"apa lagi sih Nya...?!" ucap Toni kesal


"aku cuma mau tahu kamu ke sini dengan siapa?!" ucap cewek itu kesal


"dengan pacarku, puas kamu!!" Toni semakin kesal, Dina membulatkan matanya mendengar perkataan Toni


"aku bukan pacarnya kak..." Dina menggelengkan kepalanya

__ADS_1


"hahahaha..." cewek itu malah tertawa "hati-hati dengan Toni....dia belum jinak" cewek itu semakin keras tertawanya


Dina mengernyit heran, ia semakin bingung siapa cewek tersebut, apa benar itu kakaknya Toni, mantan pacar atau pacarnya Toni? Dina hanya takut peristiwa di kampusnya dulu terulang lagi. Ia tak mau dianggap perebut pacar orang.


"sudah...jangan dengarkan dia...! Toni semakin kesal


"baik...nanti aku adukan mama, kamu ke sini bawa pacar" ucap cewek itu. Dina semakin kalang kabut, ia terlihat ketakutan, ia masih begitu trauma dengan peristiwa bersama Riri beberapa hari yang lalu.


"kamu kenapa Din? Wajah kamu pucat sekali.." Toni panik kemudian memegang dahi Dina, tapi tidak terasa panas


"kamu apakan anak orang Ton?" cewek itu kemudian memutari mobil kemudian membuka pintu Dina. Dina semakin panik, wajahnya semakin pucat ia benar-benar takut akan terulang lagi peristiwa yang sama.


"Din...kamu kenapa?" Toni memegang tangan Dina yang berkeringat dan terasa sangat dingin, Dina menggeleng


"kamu kenapa? Tadi di jalan kamu diapakan sama Toni?" cewek itu juga ikut panik, Dina diam tak menjawab "ayo ke dalam dulu aku buatkan sesuatu" ajak cewek itu.


"dia itu sedang sakit, mamanya menitipkannya padaku kalau terjadi sesuatu padanya bisa-bisa aku digantung papa" ucap Toni kesal


"ke dokter ya...aku antar di depan ada apotik ada dokter yang praktek juga" ucap cewek itu


"eng...gak usah kak...aku b..baik-baik saja" Dina gugup


Dina kaget dengan ucapan Vanya, akhirnya ia bisa bernafas lega. Ia tidak merusak hubungan siapapun. "aku kira...hmmm...." Dina sedikit tak enak


"kamu kira aku pacarnya Toni?" Vanya tergelak "aduh...kamu enggak lihat wajah kami ada kemiripan?"


Dina menatap Vanya kemudian menatap Toni "mm...maaf kak...aku tidak pakai kacamata jadi ya...sedikit kabur" Dina menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"sudah...sudah...aku antar kamu sekarang saja, keburu malam..." ucap Toni


"mau diantar kemana? Jangan dibawa ke rumah kamu ya...!" ucap Vanya ketus


"maunya sih begitu Nya..." Toni terkekeh


"awas ya...kuliah yang bener dulu...jangan sampai anak orang hamil" ucap Vanya kesal dengan jawaban Toni

__ADS_1


"iya...iya...sudah ah...dia kosnya deket dari sini kok" ucap Toni


"memangnya dia kos dimana?" Vanya menatap Dina


"di belakang kampus A kak" ucap Vanya sopan


"kamu anak kampus A apa kampus P?"


"dia kuliah di kampus A, sudah....sudah...ganggu anak muda saja" Toni makin kesal


"iya...iya..." Vanya kesal "main-main ke sini ya...nanti kita bisa belanja-belanja bersama" ucap Vanya dengan senyum mengembang


"iya kak...terima kasih" ucap Dina sopan


Toni mulai mengemudikan mobilnya keluar dari area kos Vanya "itu tadi kakakku satu-satunya dia kuliah di STIE X semester akhir" ucap Toni yang tau kalau Dina bertanya-tanya dalam hatinya


"kenapa aku tidak pernah bertemu dengannya Ton?" Dina menatap Toni


"dia dari kelas dua SMA sudah tinggal di kota ini, dia pindah sekolah sebagai bentuk protes pada mama dan papa" ucap Toni tercekat ia tak mau menceritakan yang tidak perlu ia ceritakan pada orang lain.


Dina hanya mengangguk mendengar ucapan Toni. Ia tak mau ambil pusing dengan masalah Toni. Menurutnya itu bukan urusannya, itu masalah keluarga Toni.


"kamu mau makan dulu atau langsung ke kos?" tanya Toni lembut


"aku ingin segera tidur Ton...langsung ke kos saja ya...."


"baiklah...." Toni menuruti permintaan Dina, sebenarnya ia tidak tega melihat kondisi Dina yang sedang sakit.


Tapi semakin ia memaksa Dina, makan kesempatannya untuk dekat dengan Dina akan semakin sedikit seperti yang sudah-sudah.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


Jangan lupa ritualnya ya bestie....please like komen dan votenya ya terima kasih sekebon bestie


__ADS_2