Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 88 Tentang masa depan


__ADS_3

Setengah jam berlalu, Dina mulai mengerjapkan matanya dan melihat ke arah jendela ternyata hari sudah gelap kamarnya pun sudah gelap. Dina bangun tak menyadari dari tadi Toni duduk memperhatikannya, Dina berjalan ke arah saklar lampu dan menyalakannya.


Dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka Dina membalik badannya "aaa....." Dina terkejut ada orang yang sedang duduk di meja belajarnya sedang tersenyum ke arahnya.


"ada apa Din?" Tere berlari masuk ke kamar Dina


Toni menahan senyumnya melihat Dina yang benar-benar terkejut "kejutaannn...." Toni terkekeh


"kenapa aku enggak dibangunin kak" gerutu Dina


"sudah Dinaaa.....tapi kamunya enggak bangun-bangun, tuh tanya saja sama pacarmu itu" Tere menunjuk Toni dengan dagunya


"pacar...?" Dina memutar kepalanya ke arah Toni


"kamu tadi bilang pacar lama...kamu lupa?" goda Tere


Dina menepuk dahinya "ampuuun kakkk....ya kakak tanya pacar baru, ya...aku spontan jawab pacar lama cuma buat godain kakak" Dina menghela nafasnya kesal karena menyebut Toni pacarnya


"jadi...dia ini siapa Din...?" Tere menaikturunkan alisnya


"dia..." ucapan Dina terhenti


"aku mantan pacar sekaligus calon pacarnya..." Toni menahan senyumnya melihat raut wajah Dina yang terlihat kesal marah tapi tak bisa melampiaskan amarahnya.


"tau....ah....pusing aku Din....sudah ya....aku mau pergi dulu mau ke kos Fani" Tere meninggalkan kamar Dina


Dina berjalan ke tempat tidurnya kemudian duduk sambil mengerucutkan bibirnya kesal karena merasa dikerjai oleh Toni dan Tere.


"Princess...." panggil Toni lembut


Dina menatap Toni dengan tatapan kesal "kamu di kamarku sejak kapan?"


"hampir satu jam yang lalu" Toni terkekeh


"dan selama itu kamu ngapain saja, kenapa aku enggak dibangunin?" Dina kesal


"kamu kelihatan capek , aku tidak berani membangunkan kamu" ucap Toni lembut


"kamu bilangnya malam baru ke sini, kenapa sore-sore sudah ada di sini?"

__ADS_1


"semua kerjaanku sudah selesai, dan tidak ada yang aku lakukan di rumah jadi aku ke sini saja" Toni menahan senyumnya. Di matanya tingkah laku Dina sama sekali tak berubah, terkadang Dina bisa terlihat lucu dan serius di saat yang bersamaan.


"aku mandi dulu kalau begitu, kamu enggak apa-apa kan kalau menunggu aku mandi?" Dina beranjak dari duduknya kemudian berjalan ke kamar mandi


"aku akan menunggumu..." Toni tersenyum penuh arti


Ia sedikit lega karena Dina tak marah padanya, ia kembali memperhatikan kamar Dina, ada yang luput dari pandangannya, di sisi lemari Dina, terpajang sebuah foto bergambar dua tangan, terlihat tangan cewek dan cowok yang memamerkan cincin yang mereka pakai.


Dada Toni terasa sesak, ada hal-hal yang ternyata tak ditulis oleh Dina di buku hariannya. Toni terduduk lemas, pikirannya melayang, membayangkan Dina sudah bertunangan dengan orang lain.


Lima belas menit, Dina pun keluar dari kamar mandi "kamu kenapa?" Dina berjalan melewati Toni yang terlihat sedikit pucat


"kalau aku pergi dengan kamu, kira-kira ada yang marah tidak?" tanya Toni menahan sesak di dadanya


"marah? Siapa?" Dina mengerutkan dahinya


"entah...pacar, tunangan mungkin" Toni mengedikkan bahunya


Dina tergelak "kamu ini ada-ada saja, pikiranmu terlalu jauh" Dina menunjukkan kedua tangannya "apa kamu lihat ada cincin pertunangan di jari-jariku?"


Toni menggeleng, ia tak melihat cincin yang tadi ia lihat di foto. Hanya sebuah cincin dengan batu merah delima yang Dina pakai, dan ia sudah pernah melihat Dina memakaimya beberapa tahun yang lalu.


"kuliah kamu bagaimana?" Dina tersenyum


"oh....begitu..." Dina mengangguk-anggukkan kepalanya "setelah lulus apa rencana kamu?"


"mau lanjut magister Din...dan merencanakan masa depan"


"masa depan yang bagaimana? Memangnya mau ambil magister bukan dari rencana masa depan?" tanya Dina sambil menyisir rambutnya.


Ada perubahan dalam diri Dina yang Toni baru menyadarinya. Dina yang sekarang terlihat lebih cuek, biasanya Dina tak mau saat berdandan dilihat oleh orang lain, tapi kali ini Dina berdandan di depan Toni, dan Toni memyukainya, Dina tampil apa adanya tak dilebih-lebihkan.


"maksudku, setelah magister aku mau apa, kerja, menikah dan punya anak, itu yang aku maksud merencanakan maasa depan" jawab Toni dengan wajah serius


"oh....begitu...semoga rencanamu bisa terwujud seperti apa yang kamu inginkan" Dina tersenyum menatap Toni


"kalau kamu? Bagaimana?" Toni penasaran


"aku? Hmmm.....apa ya....yang jelas sekarang mau fokus kuliah dulu yang sempat berantakan" Dina terkekeh

__ADS_1


"berantakan? Maksudmu?"


"aku pernah di posisi IPK jauh di bawah standarku, meski enggak buruk namun cukup membuat aku harus mengulang memperbaiki nilai-nilaiku" terang Dina


"seorang Dina nilainya jelek? Aku enggak percaya memangnya IP kamu sempat berapa? Sampai-sampai kamu harus mengulang banyak"


"masih di atas 2,5 tapi itu membuat IPK di bawah 3 Ton"


Toni terkekeh " ternyata kamu enggak berubah ya....."


Dina mengerutkan keningnya, "aku kira sampai di bawah dua" lanjut Toni


"ih....amit...amit....jangan sampai, nanti aku kapan lulusnya, ini saja sudah membuat aku mundur satu atau dua semester" Dina mengerucutkan bibirnya


"kamu pindah magang tempatku saja ya Din..." ucap Toni serius


"mana bisa.....aku harus mengurus surat-surat dari kampus lagi, enggak ah...ribet, memangnya kenapa? Toh di perusahaan Pak Ferdi juga bisa" protes Dina


"enggak apa-apa, suka saja melihat kamu kesal" Toni terkekeh


"aih....aku baru tahu kalau kamu itu jahil" Dina melemparkan bantal ke arah Toni


"keluar yuk....kita makan, dari siang aku belum makan, enggak ada teman"


"hah....jadi tadi siang kamu enggak jadi makan?" Dina terkejut ia pikir Toni akan makan sendiri ternyata karena ia menolaknya Toni melupakan jam makan siangnya


"ya sudah ayo....tapi kamu yang traktir ya..." Dina bangkit berdiri kemudian mengambil jaket dan tas selempang kecil miliknya


"iya...tenang saja....aku traktir sampai kamu kenyang" Toni tergelak


Mereka berdua keluar dari kamar Dina, Dina mengunci pintu kamarnya kemudian berjalan ke arah kamar Tere. "sebentar Ton..." Dina berhenti di depan pintu kamar Tere kemudian ia menuliskan pesan di kertas yang tergantung di pintu kamar Tere.


Dina berjalan menuruni anak tangga diikuti oleh Toni. Seperti biasa Toni membukakan pintu mobil untuk Dina. Dina ingin protes tapi kalah cepat dengan gerakan Toni.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


Hari ini sudah 2 bab, jangan lupa komen like dan votenya ya bestie


__ADS_2