
Dina masuk dengan langkah gontai, ia begitu lelah, badannya pun juga terasa remuk. Dengan menggendong tas ransel yang berisi baju-baju kotor serta menenteng paper bag besar Dina menaiki tangga.
"sudah pulang Din? Gimana liburannya? Asyik nggak? Ngapaian aja sama pacar baru?" Tere menyambut Dina di ujung tangga
"satu-satu kak tanyanya....yang jelas capek...." Dina tampak kelelahan menaiki tangga dengan wajah kusut
"kamu enggak diapa-apain kan sama Toni?" Tere mengambil ransel Dina
"aku cuma capek, capek main air sama perjalanan jauh kak..." Dina terkekeh
"oh....aku kira kamu diapain sama Toni...eh itu Bimo bolak-balik ke sini, baru saja dari sini sebelum kamu datang tadi"
"kakak bilang apa ke dia?" Dina duduk di lantai bersandar pada dinding kamar Tere
"kamu pergi, belum tahu kapan pulangnya" jawab Tere
"terus dia enggak neror kakak kan?"
"iya...sehari ke sini bisa empat kali" Tere mengerucutkan bibirnya
"sudah ya kak....aku mau ke kamar dulu mau tidur...." Dina beranjak dari duduknya menyeret barang bawaannya ke kamarnya
Dina mengunci pintunya, ia tak mau diganggu siapapun, ia malas Bimo tiba-tiba datang dan mengganggunya istirahat. Dina membuka tas yang diberikan oleh Toni dan mengeluarkan isinya, sebuah boneka beruang memakai baju princess.
Dina tersenyum, bonekanya tidak terlalu besar namun bagus menurutnya. Di dalamnya masih ada lagi kotak kecil Dina membukanya, Dina kembali tersenyum berisi anting yang seperti Dina inginkan.
Dan juga ada surat di dalam tas itu, Dina membukanya dan membacanya
Princess,
boneka ini selucu dan secantik dirimu, dan juga aku lihat kamu sekarang lebih suka berdandan, semoga kamu menyukainya....
Dina melipat kertas kemudian membereskan semua barang bawaannya. Kemudian ia membersihkan diri setelah itu ia tidur.
Dina terbangun, karena ponselnya berdering, waktu menunjukkan pukul delapan malam. Dengan mata yang masih setengah terpejam Dina mengangkat teleponnya.
"hmm..."
__ADS_1
^^^📲 kamu enggak apa-apa kan Din?^^^
"ini siapa?"
...📲 kamu masih tidur? Maaf....maaf....aku cuma mau bilang aku kirim makanan untukmu, aku titipkan teman kosmu...
"ya...terima kasih"
Dina meletakkan ponselnya dan hendak memejamkan matanya lagi, tapi pintunya diketuk dari luar. Dina berjalan dan membuka pintunya, terlihat Tere membawa bungkusan makanan.
"ada titipan dari Toni" Tere menyodorkan bungkusan makanan
"terima kasih kak...." Dina mengambil bungkusan kemudian ia masuk lagi ke dalam kamar
"tadi Toni pesan makan yang banyak katanya itu dia sendiri yang memasak" ucap Tere
Dina langsung membuka bungkusan, dan mengeluarkan kotak makanan satu per satu. Toni membawakannya omelet, mie goreng dan juga tumis sayur.
"kapan dia memasaknya, perasaan baru beberapa jam dia pulang ke rumahnya" gumam Dina
"apa isinya Din? Sepertinya enak...." Tere masuk ke kamar Dina
"kenapa aku enggak pinjam kamu aja, kenapa harus ambil di kamarku" gerutu Tere
"biar kakak banyak gerak, biar kakak enggak gemuk" Dina tergelak
Dina membagi makanan menjadi dua bagian, mereka berdua pun mulai makan.
"enak ini Din....beneran dia yang memasak?" ucap Tere sambil mengunyah makanannya
"aku enggak tahu kak....kalau omelet ini jelas dia yang masak, tapi kalau mie dan sayur aku enggak tahu"
"memangnya Toni bisa memasak?"
"bisa..."
"calon....ideal itu Din....cakep, kaya, udah kerja pintar memasak pula....jangan sia-siakan dia Din...."
__ADS_1
"entahlah kak....melihat dia aku ingin membuka hatiku untuknya tapi ....aku takut....lagipula di hati ini masih ada Dendy seorang" ucap Dina santai
"pelan-pelan saja Din....lagipula Dendy jelas sudah meninggalkanmu dan sampai sekarang dia sepertinya tak pernah mengingatmu"
Dina menghela nafasnya, benar yang dikatakan Tere. Sejak mereka berdua putus, Dina tak pernah lagi bertemu dengan Dendy di kampus. Melihat motornya terparkir di area parkir kampus saja ia tidak pernah.
Dendy seperti ditelan bumi, hilang begitu saja. Bahkan Dodi yang dulu selalu menjadi pelindungnya tak pernah lagi terlihat di kampus. Dina tidak tahu semua orang yang berhubungan dengan Dendy seperti kompak menghindarinya.
.
Satu bulan berlalu, Toni tak pernah menghubungi Dina lagi. Tapi Dna sering menerima kiriman makanan entah saat dia berada di tempat magang atau di kosnya.
Dina tak mau ambil pusing dengan Toni yang tak ada kabar. Dina tak terpengaruh dengan keberadaan Toni. Yang ia pikirkan hanya menyelesaikan magangnya dan mendapatkan nilai memuaskan dari pembimbingnya.
Satu setengah bulan sejak terakhir kalinya Dina bertemu Toni, Dina mulai sibuk menyusun laporan magang yang akan ia presentasikan ke dosen pembimbingnya di kampus.
Dina lupa akan Toni, ia terlalu fokus dengan urusan magangnya. Siangnya ia magang malam harinya ia menyusun laporan. Seperti itu setiap hari.
Minggu terakhir Dina magang, dengan badan yang sudah sangat lelah dan merasa tak enak badan, Dina pulang ke kosnya mengendarai motornya dengan kecepatan rendah.
Dari pagi, badannya mulai demam, namun tak dihiraukannya. Perjalanan yang biasa ia tempuh selama kurang dari tiga puluh menit karena badannya sedang demam empat puluh menit lamanya Dina baru sampai di kosnya.
Ketika akan membuka pintu kosnya, ia dikejutkan oleh seseorang yang sedang duduk di teras kosnya dengam senyum mengembang menatapnya.
"kaget aku...."
Orang itu terkekeh melihat ekspresi Dina yang terlihat berlebihan. Namun ia senang bisa memberikan kejutan untuk Dina yang telah lama tak ia temui.
Dina hanya menatap datar padanya. Ia terlalu lelah untuk menanggapi lelucon ataupun kejutan dari teman-temannya. Wajahnya pun semaiin pucat.
Pandangan Dina mulai kabur ia tak bisa melihat dengan jelas siapa yang sedang tertawa kepadanya. Dan beberapa saat kemudian semua tampak gelap, Dina jatuh tak sadarkan diri.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g