
Hari yang dinanti pun tiba, sejak pagi buta Dina sudah merias dirinya di salon langganannya. Sedangkan mama papanya menginap di rumah Wilson. Mereka nanti akan ke kampus diantar oleh Wilson.
Sedangkan Dina akan dijemput Toni di kosnya. Sebenarnya Toni menginginkan Dina dan kedua orang tuanya menginap saja di rumahnya namun Dina menolaknya. Ia tak mau orang tuanya mengetahui jika selama ini dirinya sering menginap di rumah Toni.
Pagi-pagi buta Toni menjemput Dina di kosnya mengantarkannya ke salon untuk merias dirinya. Setelah memastikan Dina mulai dirias Toni meninggalkan Dina pulang ke rumah untuk bersiap-siap.
Pukul enam lebih lima menit Dina sudah selesai dirias dan Toni pun juga sudah menunggunya di depan salon. Toni tak berkedip ketika melihat Dina keluar dari salon.
"ayo Ton...aku harus berganti baju dan mengambil toga di kos" ucap Dina naik ke mobil Toni namun Toni diam saja "Ton..!" Dina memanggil Toni sedikit kencang
"ah....iya sayang..." Toni terperangah kemudian menyalakan mesin mobilnya. Toni mengantar Dina sampai di depan kosnya
"kamu tunggu di luar saja ya...aku nggak akan lama" ucap Dina turun dari mobil Toni
Dina masuk ke dalam kamar kosnya. Ia mengganti bajunya dengan setelan kebaya berwarna soft pink yang sangat pas di tubuhnya membuat Dina semakin cantik.
Setengah jam kemudian Dina keluar dari kosnya, lagi-lagi Toni terkesima matanya tak berkedip menatap Dina. Selama ini ia tak pernah melihat Dina berdandan. Biasanya Dina hanya memakai make up tipis itu sudah membuat Toni terpana, kali ini Dina sukses membuat Toni tak bisa berkata-kata.
"Ton..." Dina melambaikan tangannya di depan wajah Toni
"ahh...i..iya...apa sayang?" lagi-lagi Toni tergagap
"kamu melamun?" Dina memakai sabuk pengaman
"kamu cantik sekali sayang..." Toni tak bisa menyembunyikan kekagumannya
"baru tahu" Dina mengerucutkan bibirnya
"aku jadi nggak rela kalau banyak yang menatapmu nanti"
"sudah...sudah...ayo berangkat, kita harus sampai auditorium sebelum jam tujuh"
__ADS_1
Toni mengambil bungkusan dari kursi belakang "ini makanlah ini dulu, jangan sampai kamu sakit" Toni memberikan sebungkus roti untuk Dina. Dina pun memakannya, benar apa kata Toni ia tak ingin mendadak penyakitnya kambuh di hari istimewanya.
Lima menit kemudian, mereka telah sampai di tempat parkir. Toni turun membukakan pintu untuk Dina, kemudian ia membantu Dina turun dari mobil Dina terlihat kesusahan karena memakai kain panjang sebagai bawahannya.
Toni menggandeng tangan Dina menaiki tangga kampus mereka. Ketika mereka berpapasan dengan teman-teman Dina Toni meraih pinggang Dina dan memeluknya. Ia ingin menunjukkan bahwa Dina miliknya. Ia tak rela teman-teman Dina yang sebagian besar cowok itu menatap Dina lama-lama.
Dengan langkah pasti mereka berdua masuk ke dalam auditorium. "Sepertinya kita harus duduk terpisah" ucap Dina setelah melihat papan penunjuk tempat duduk
"ah....iya..." Toni seakan tidak rela jika harus berpisah dari Dina
"tempat dudukmu barisan depan, aku di sebelah sana" ucap Dina sambil menunjuk kursi-kursi yang sudah ditulis berdasarkan nama mahasiswa
"aku antar ke tempat dudukmu" Toni menggandeng Dina sampai ke barisan tempat mahasiswa jurusan Dina. Toni mengedarkan pandangan melihat dimana kursi Dina.
"eh....itu tempat dudukku, aku ke sana dulu ya..." ucap Dina menunjuk ke kursi yang diapit dua cowok
"hah...harus ya...sebelahan sama cowok?" Toni cemburu
"tapi aku nggak rela tunanganku duduk dekat cowok-cowok itu" Toni semakin posesif
"sudahlah Ton...ini hanya sebentar, jangan diributkan...sudah aku mau ke sana" Dina meninggalkan Toni dengan perasaan kesal
"hanya masalah duduk saja diributkan...." gerutu Dina kemudian menduduki tempat duduknya.
Kali ini Dina wisuda sendirian tanpa ketiga sahabatnya karena ia yang paling dulu lulus dibanding ketiga temannya yang masih mengerjakan tugas akhir mereka.
Acara wisuda pun dimulai, diawali dengan sambutan rektor dan direktur yayasan kampus mereka. Kemudian pengumuman lulusan terbaik di setiap fakultas baik program sarjana maupun pasca sarjana.
"Louis Antoni Wijaya dari magister menejemen dengan predikat cumlaude" pembawa acara memanggil Toni untuk naik dan menerima penghargaan dari rektor mereka.
Dina tersenyum bangga, Toni mendapat predikat itu. Ia tidak menyangka jika orang yang selama ini terlihat santai dalam kuliah bisa menjadi salah satu lulusan terbaik.
__ADS_1
Toni naik ke atas panggung berdiri bersama beberapa mahasiswa lain yang sama-sama menjadi lulusan terbaik di jurusan mereka masing-masing. Toni menatap Dina dari atas panggung, ia melihat Dina mengembangkan senyumnya seraya mengangjat ibu jarinya.
Toni senang sekaligus cemburu karena Dina duduk dikelilingi oleh cowok-cowok. Saat rektor memberinya selamat pun tatapannya masih tertuju pada Dina.
Setelah pengumuman lulusan terbaik, kini saatnya pengukuhan kelulusan mahasiwa di universitas Dina. Satu per satu dipanggil ke panggung untuk menerima ijazah mereka.
Acara demi acara telah selesai, satu per satu mahasiswa keluar dari auditorium. Toni berjalan dengam cepat ke arah tempat duduk Dina. Dina tampak masih berbincang dengan teman-temannya.
"sayang...." Toni menarik tangan Dina, Dina pun kaget "eh...aku duluan ya...." pamit Dina pada teman-temannya.
"selamat ya sayang....aku nggak nyangka kamu lulus cumlaude" ucap Dina mencium pipi kiri dan kanan Toni. Dina ingin meredakan kecemburuan Toni. Ia tahu Toni kesal karena Dina begitu akrab dengam teman-teman cowoknya.
"selamat juga untukmu...." Toni mengecup bibir Dina sekilas.
"eh..." Dina menutup mulitnya, ia tidak menyangka Toni akan seberani itu mengecup bibirnya di depan umum
"ayo keluar, papa pasti sudah menunggu" Toni menggandeng Dina.
Sesampainya di depan pintu auditorium, Dina disambut ketiga sahabatnya. Mereka mengucapkan selamat kepada Dina. Tak lupa mereka mengabadikan momen bersama Dina, berharap mereka segera menyusul Dina cepat lulus.
Mereka berfoto berbagai macam gaya, Dina sangat bahagia wisudanya dihadiri orang-orang terdekatnya. Dina bersyukur memilik teman seperti ketiga sahabatnya itu.
"Din..." tiba-tiba keceriaan mereka terhenti. Dina menoleh ke arah sumber suara, ia pun terkejut menatap orang yang memanggilnya. Ia tidak menyangka orang itu akan datang ke wisudanya.
.
.
.
Siapakah gerangan orang itu???
__ADS_1
B e r s a m b u n g