Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 109 Pidato Kenegaraan


__ADS_3

Meski Toni tak bisa menemui Dina, namun ia selalu mengirim pesan singkat atau menelpon di sela-sela waktunya bekerja. Toni juga mengirimi Dina makanan ketika Dina harus lembur mengerjakan tugas-tugasnya.


Tapi Dina masih sedikit kecewa karena Toni tak menyinggung soal ulang tahunnya sama sekali, ia pikir Toni melupakannya. Di telepon Toni hanya menceritakan sedang sibuk mengurus acara hari minggu, acara syukuran kecil-kecilan bersama para karyawan dan keluarganya atas pencapaian perusahaan selama ini.


Dina merasa tak bersemangat, hari sabtu biasanya ia pergi keluar, ia habiskan hanya dengan berdiam diri di kamarnya.


"enggak pergi Din?" Tere masuk ke kamarnya


"enggak kak...nggak ada teman" ucap Dina lesu


"kamu besok ada acara nggak?" tanya Tere


"hmmm...enggak kak...memangnya ada apa?"


"mau menemani aku ke acara ulang tahun temanku?"


"jam berapa? jauh nggak tempatnya kak?"


"acaranya jam 10, kita berangkat jam 9an ya...nggak jauh kok, cuma di daerah jalan Kelima" ucap Tere


"itu sudah di atas kak...aku belum pernah naik motor ke sana" ucap Dina


"kita nanti dijemput temanku Din....tenang saja...jangan kawatir" Tere terkekeh, ia tahu Dina kawatir karena ia belum mengenal daerah itu apalagi dengan jalanan yang menanjak.


Tere tidak menceritakan apa yang ia rencanakan lebih tepatnya rencana Toni untuk memberikan kejutan di ulang tahun Dina di acara perusahaan Toni.


.


Hari minggu pagi Dina sudah bersiap-siap, ia diminta berdandan cantik oleh Tere karena acaranya sedikit formal, namun Tere tetap berdandan seperti biasanya, Dina kesal namun ia juga malas harus berganti baju lagi.


"Din...ayo turun...kita sudah dijemput..." ucap Tere


"ayo kak..."


Mereka berdua menuruni tangga, dan keluar dari kosnya. Dina masih belum menyadari siapa yang menjemput mereka karena yang menjemputnya memakai topi.


Setengah perjalanan Dina baru menyadari, siapa yang berada di balik kemudi.


"bukannya kamu Ridwan..." tanya Dina dari belakang


"hehehehe...iya mbak..." Ridwan terkekeh, benar kata Toni, Dina itu tidak akan ingat jika tidak sering berinteraksi dengannya.


"kenapa kamu jempu kami, bukannya di perusahaanmu sedang ada acara?" tanya Dina dengan tatapan bingung


"kebetulan teman Tere saya mbak, saya tidak enak kalau tidak datang ke acaranya" kilah Ridwan


"terus acara perusahaan?" Dina ingin menanyakan tentang Toni namun ia malu

__ADS_1


"sudah banyak yang mengurusnya, saya juga sudah meminta ijin pada mas Toni mbak.."


Dina tak lagi bertanya, ia berpikiran positif jika yang berulang tahun memang teman mereka. Sepanjang perjalanan, ia hanya diam, sebenarnya ia sedih, di hari ulang tahunnya tak ada yang mengingatnya, namun ia tetap ingin membahagiakan Tere dengan menemaninya.


Setengah jam berlalu, mereka telah sampai di restoran yang dimaksud Tere. Dina turun bersama Tere, Ridwan mengantar mereka ke tempat acara perusahaan milik Toni.


"kenapa kita kesini? " Dina bingung


"sebentar mbak, saya mau bertemu Raya dulu" ucap Ridwan kemudian meninggalkan Tere dan Dina duduk di bagian belakang.


Dina memperhatikan sekelilingnya berisikan orang-orang yang tak ia kenal, namun Dina melihat Andini cewek yang telah mempermalukannya sewaktu pergi dengan Toni.


"kak...ini siapa yang ulang tahun?" Dina berbisik


Tere terkekeh "enggak ada Din...Ridwan yang mengundangku ke acara perusahaannya"


"oh...berarti kakak diundang di acara perusahaan milik Toni?" Dina penuh tanda tanya


"iya....aku diundang....dan disuruh mengajakmu...." Tere terkekeh


"kenapa enggak ngomong sendiri ke aku" Dina mengerucutkan bibirnya merasa kecewa dengan Toni


"karena Toni tahu kalau kamu diajak ke acara ini pasti enggak mau"


Dina terkekeh, memang benar apa yang diucapkan Tere, ia tak mau diajak ke acara perusahaannya karena ia merasa bukan siapa-siapa.


Semua mata tertuju padanya, tak terkecuali Dina. Ia baru pertama kali melihat Toni yang tampak tegas dan berwibawa saat di depan karyawannya.


"sebagai penutup...saya akan menyanyikan sebuah lagu....untuk seseorang yang sangat spesial, yang hadir di sini...orang yang selama ini saya cintai..."


Toni mulai bernyanyi diiringi pemain band yang telah disewa oleh peeusahannya. Dari atas panggung pandangan matanya tertuju pada Dina yang duduk di kursi paling belakang.


Toni melepas michropone kemudian ia bernyanyi sambil berjalan menuruni panggung semua mata tertuju pada Toni, terdengar suara bisik-bisik mempertanyakan siapa yang Toni maksud. Dari tempat Dina duduk, ia bisa melihat senyum mengembang dari Andini.


Toni berjalan pelan, sambil bernyanyi, ketika ia sudah hampir di tempat Dina duduk, Ridwan muncul menyerahkan sebuket bunga mawar kuning kesukaan Dina.


Toni tetap bernanyi menatap Dina dengan tatapan penuh cinta. Melangkah menghampiri Dina, Tere pun bergeser untuk memberikan ruang bagi Dina dan Toni


Andai saja aku masih punya


Kesempatan kedua


Pasti akan kuhapuskan lukamu


Menjagamu memberimu


Segenap cinta (hu hu hu hu hu hu ho)

__ADS_1


Kau bawa bersamamu


Sebelah hatiku separuh jiwaku


Yang mampu sempurnakan aku


Andai saja aku masih punya


Kesempatan kedua


Pasti akan kuhapuskan lukamu


Memberimu segenap cinta


Andai saja aku masih punya (aku masih punya)


Kesempatan yang kedua


Pasti akan kuhapuskan lukamu


Menjagamu memberimu


Segenap cinta


(Kesempatan Kedua ~ Tangga)


Toni berhenti bernyanyi, ia menatap Dina yang terlihat kebingungan, malu, dan kesal.


"Dina....aku tahu mungkin kesalahanku di masa lalu tak akan bisa termaafkan...selama ini aku tak bisa melupakanmu, sebesar apapun usahaku untuk melupakanmu namun nyatanya hati ini tak bisa berpaling darimu"


"pertemuan kita kembali beberapa waktu lalu membuatku sadar, kalau aku memang benar-benar mencintaimu, sejak saat itu aku berusaha semampuku merebut hatimu lagi"


Dina mulai berkaca-kaca, ia sebenarnya menahan malu, karena seluruh karyawan dan keluarganya yang berada di sana menyaksikan apa yang Toni lakukan.


Toni memang cowok yang paling romantis yang pernah singgah di hatinya. Cowok yang bisa mewujudkan apa yang ia inginkan apa yang ia impikan.


"kebersaamaan kita beberapa bulan terakhir, membuatku menyadari jika dulu tak banyak waktuku untuk membahagiakanmu, dan aku menyadari kebahagianmu bukan terletak pada apa saja yang aku berikan padamu namun bagaimana aku bisa menghargaimu, menghargai setiap waktu kebersamaan kita"


"bukan kemewahan yang membuatmu bahagia namun hal-hal sederhana tapi berkesan itulah yang membuatmu senang"


Toni menjeda kata-katanya, baru kali ini ia menyatakan perasaannya di depan karyawannya. Biasanya, ia akan bersikap tegas dan jarang tersenyum, biacara hanya seperlunya saja, namun kali ini Toni bisa dengan lancar berbicara, karena seoran Dina.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


__ADS_2