
Toni meletakkan nampan yang ia bawa di meja sebelah Dina duduk. Kemudian ia memberikan secangkir teh pada Dina.
"minumlah dulu agar kamu punya tenaga" ucap Toni lembut
"kamu itu kebiasaan, nggak pakai baju jalan kesana kemari" gerutu Dina sambil meminum tehnya
"buat apa memakainya kalau sebentar lagi akan dilepas lagi" ucap Toni santai. Dina berusaha berdiri namun ia terduduk lagi "kenapa begitu sakit" rintih Dina
"maaf...nanti aku obati setelah ini" ucap Toni sambil mengusap rambut Dina "makanlah ini dulu, makanan akan siap sebentar lagi" ucap Toni
"siapa yang memasak?" Dina menatap Toni dengan tatapan curiga
"Ridwan akan mengirimnya" Toni terkekeh
Dina menghabiskan sandwich dan juga teh hangatnya. Badannya sedikit lebih segar namu masih terasa remuk, Toni seakan tak ada puasnya bercinta dengannya
Toni pun menganggkat tubuh Dina dan membawanya ke dalam kamar mandi, kemudian mendudukkannya di atas closet. Toni mengisi bathtube dengan air hangat, setelah dirasa cukup Toni mengangkat tubuh Dina dan memasukkannya ke dalam bathtube pelan-pelan.
"berendam air hangat angan mengurangi rasa sakitmu" ucap Toni lembut kemudian ia memmbasuh punggung Dina dan memijitnya. "Bagaimana? Sudah merasa lebih baik?"
"iya, sakitnya sudah berkurang" ucap Dina tersenyum sambil membasuh badannya menikmati pijatan Toni yang begitu lembut dan menenangkan.
Melihat Dina menikmati pijatannya, Toni mulai meraba bagian sensitif milik Dina, Dina hanya pasrah menikmati setiap sentuhan yang begitu memabukkan.
Hingga akhirnya percintaan itu terjadi lagi di kamar mandi hingga satu jam lamanya. Dina ingin protes namun ia juga sangat menikmati apa yang Toni lakukan padanya. Setiap Toni menyentuhnya ia juga menginginkannya, meski badannya remuk redam ia tetap meladeni Toni.
Setelah percintaan itu selesai, Toni memandikan Dina. Ia benar-benar memanjakan Dina. Membasuh dan mengompres milik Dina yang terlihat bengkak dan memerah.
"maafkan aku milikmu pasti sakit sekali" Toni dengan telaten mengompresnya dengan air hangat. Sedangkan Dina mengerucutkan bibirnya, ia kesal dengan Toni yang tak bisa puas hanya sekali saja.
"kita ini udah kaya orang honeymoon aja, dari semalam sampai ini mau menjelang sore nggak keluar kamar, kamu menghajarku habis-habisan" Dina semakin mengerucutkan bibirnya.
"denganmu, aku tak bisa menahannya....anggap saja kita sedang mencicil honeymoon" Toni menyunggingkan senyumnya "honeymoon kita besok akan lebih spesial dan tentunya aku tak akan membiarkanmu tidur" Toni masih mengompres milik Dina
__ADS_1
"Toni...!!" Dina kesal kemudian ia mencubit tangan Toni. Toni tertawa melihat Dina yang kesal
"aku mencintaimu princess...." Toni mengambil handuk kemudian memakaikannya pada Dina. Toni mengangkat tubuh Dina dan membawanya ke keluar kamar mandi.
Toni telah menyiapkan baju ganti untuk Dina, dan membantu Dina memakainya. Toni keluar kamar dan kemudian masuk kembali dengan membawa makanan untuk Dina.
Toni menyuapi Dina dengan telaten dan tersenyum melihat Dina yang menghabiskan makanannya dengan cepat. Setelah memastikan Dina makan dengan kenyang ia pun makan.
"aku lelah..." ucap Dina lirih. Toni mengangkat Dina naik ke atas tempat tidur dan menidurkannya. Toni juga ikut naik ke tempat tidur kemudian memeluk Dina.
"aku takut...." ucap Dina lirih
"takut apa?"
"kamu akan meninggalkan aku setelah mendapat apa yang kamu inginkan"
"kenapa berpikiran seperti itu? Aku mencintaimu, aku telah melamarmu, itu bukti keseriusanku" ucap Toni tegas
Dina tertidur dalam pelukan Toni, aroma tubuh Toni kini menjadi candu baginya. Terkadang ia sulit tidur ketika tak bertemu Toni.
Toni pun juga ikut tertidur, ia juga lelah, dari semalam tenaganya terkuras mendaki puncak kenikmatan bersama Dina.
Toni benar-benar bahagia, apa yang ia lakukan bersama Dina tak pernah terbayangkan olehnya. Semua masih seperti mimpi, mendapatkan Dina seutuhnya setelah bertahun-tahun penuh dengan kesabaran menunggu Dina menerimanya kembali.
Mereka berdua terlelap tidur tidak tahu jika matahari sudah kembali ke peraduannya berganti sinar bulan dan bintang-bintang.
.
Hari berganti hari, Toni masih mempersiapkan pembukaan restorannya, ia ingin memberikan kejutan untuk Dina. Restoran yang ia bangun terinspirasi dari Dina. Bahkan nama restorannya pun berasal dari nama mereka berdua.
Toni sudah mempersiapkan separuh dari restoran itu milik Dina. Tapi ia tak akan memberitahu Dina sampai mereka menikah kelak.
Toni sangat mengenal Dina, Dina tak akan mau menerima pemberian darinya selama status mereka masih belum jelas apalagi ini adalah sebuah tempat usaha, Dina pasti tak akan mau menerimanya sebelum ada ikatan resmi di antara mereka.
__ADS_1
Toni dan Dina juga masih sering menghabiskan waktu bersama, namun Dina sering menolak jika Toni memintanya untuk menginap di rumahnya. Jika berada di rumah Toni, Dina tak akan bisa fokus mengerjakan skripsinya.
Toni menjadi sering kesepian. Ia sudah terbiasa tidur bersama Dina. Ke kampus pun juga mereka jarang bersama-sama.
Toni berjalan di lorong ruang perkuliahannya, ia melihat orang yang menjadi saingannya selama ini.
"aku ingin berbicara denganmu" ucap Toni dengan wajah datar
"ada apa?"
"jangan kamu dekati Dina lagi, Dina sudah jadi milikku" ucap Toni dengan sorot mata tajam
Orang itu tergelak "aku tidak mendekatinya, kamu boleh memilikinya tapi tidak dengan hatinya, di dalam hatinya tetap ada aku sampai kapanpun"
Toni tersulut emosinya ia mencengkeram baju yang dipakai Dendy "jangan sekali-sekali kamu dekati dia lagi, dia sudah jadi milikku!"
Dendy hanya tersenyum sinis, melihat apa yang Toni lakukan pada dirinya. Namun perkataan Toni membuatnya begitu terpukul, ia tak berani memperjuangkan Dina dan akibatnya Dina sekarang menjadi milik orang lain. Namun ia masih percaya jika hati Dina miliknya.
Toni begitu marah mendengar apa yang Dendy katakan, ia melepaskan cengkraman tangannya dari baju Dendy kemudian meninggalkan Dendy dengan perasaan marah.
Yang ia rasakan sekarang adalah takut. Takut Dina akan meninggalkannya lagi seperti dulu. Ia melajukan mobilnya ke kos Dina dengan perasaan marah dan takut.
.
.
.
B e r s a m b u n g
Para reader tersayang....mohon maaf Nona jarang up, sedang ada kedukaan. Ada keinginan nulis tapi ide rasanya kosong Nona usahakan secepatnya bisa rutin up lagi.
Terima kasih sekebon 😘😘
__ADS_1