Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 80 Jatuh Cinta


__ADS_3

Jalan yang Dina lalui semakin licin karena terkena cipratan air dari air terjun. Dina melangkah dengan hati-hati, tiba-tiba ia terpleset, Toni yang berjalan di belakangnya langsung menangkap tubuh Dina yang hendak terjatuh.


"eh....!" ucap Dina kaget


"maaf Din...aku hanya takut kamu terjatuh" ucap Toni melepaskan tangannya dari tubuh Dina


"ah...iya terima kasih" Dina merasa canggung


Dina menaiki batu yang agak besar kemudian duduk di atasnya. Toni pun juga duduk di batu yang berada di sebelah Dina duduk. Saat Dina asyik menikmati pemandangan ponsel di dalam tasnya berbunyi. Dina mengambil ponsel dari dalam tasnya.


"Halo ma.... Iya bilang saja aku ada reuni dadakan dengan teman-temanku" Dina memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


Toni memperhatikan apa yang Dina lakukan, ia penasaran kenapa Dina berkata seperti itu.


"mamamu menelpon?"


"iya....mama bilang ada Dendy di rumah" jawab Dina santai, tanpa menatap Toni.


"Oh...Iya...nomor ponselmu berapa Din?" tanya Toni sambil mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya.


"08xxxxxx" jawab Dina santai


"oke...aku simpan" Toni mengetikkan nomor ponsel Dina di ponselnya kemudian memasukkannya kembali ke sakunya


Kemudian ponsel Dina berbunyi lagi, Dina mengambilnya dari tasnya ada nomor baru yang menelponnya, ia tidak tahu itu nomor siapa.


"angkat saja Din...mungkin itu penting" ucap Toni menatap Dina dengan rasa was-was.


Dina pun menekan tombol hijau di ponselnya "Halo......ah...iya...maaf...aku belum sempat memberitahumu........aku sedang kumpul-kumpul dengan teman SMA ku......besok pagi saja ya sayang...." Dina mengakhiri panggilan teleponnya kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.


Raut wajah Toni berubah ketika Dina menyebut sayang, ia sedih Dina menyebut kata sayang di akhir teleponnya. Ternyata hati Toni masih belum siap menerima kenyataan jika Dina masih memiliki pacar.


"mau pulang sekarang?" tanya Toni dengan nada sedih

__ADS_1


"enggak....memangnya kamu mau pulang sekarang?" tanya Dina mengerutkan dahinya


"enggak juga....aku kira setelah tahu ada pacar kamu di rumah kamu mau langsung pulang" ucap Toni lirih


"sudah terlanjur kemari, kalau pulang juga sampai rumah hampir satu jam, kasihan Dendy kalau disuruh menunggu di rumah" ucap Dina riang seperti biasanya


"oh..." Toni makin sedih, ia pikir Dina tak ingin segera pulang karena memang mau bersama dengan dirinya tapi kenyataannya karena kasihan dengan pacarnya jika menunggu terlalu lama.


"jadi kamu mengajak aku ke sini hanya untuk merenung Ton?"


"maksudnya?"


"dari tadi kamu hanya diam saja....ayo cerita bagaimana ceritanya kamu bisa kuliah di universitas M.."


Toni menceritakan awal mula ia memutuskan kuliah di kampus M, tapi ia tak menceritakan semuanya, biarlah alasan ia memilih kuliah di kotanya menjadi rahasianya.


Toni bersyukur Dina sekarang sudah mau bertemu bahkan berbicara lagi dengannya. Ia tak ingin merusak suasana yang ada, ia ingin menikmati pertemuan singkatnya dengan Dina.


Tak terasa dua jam mereka di sana, mendung mulai datang tanda sebentar lagi turun hujan. "Ayo Ton...sepertinya mau turun hujan" Dina bangkit berdiri dari duduknya


Hujan mulai turun, meski belum terlau deras tapi rambut serta baju yang Dina pakai mulai basah. "Baju kamu basah, mau mampir ke rumahku dulu?" tanya Toni ketika sudah sampai di dekat mobil


"mau apa ke rumahmu Ton?" tanya Dina sambil berjalan memperhatikan langkahnya


"ganti baju kamu dulu, di rumah ada baju kakakku yang bisa kamu pakai" ucap Toni sambil membuka pintu mobil untuk Dina


"enggak...enggak usah..." jawab Dina masuk ke dalam mobil dan duduk di sisi penumpang. Toni memutari mobil kemudian ia masuk ke sisi pengemudi.


"tapi baju kamu basah itu Din...nanti kamu sakit bagaimana?" ucap Toni sambil menghidupkan mesin mobil. Toni kawatir dengan Dina ia tak mau Dina sakit gara-gara dirinya.


"cuma basah sedikit Ton..." ucap Dina mengibas-ngibaskan tangannya mengeringkan lengan bajunya


"kalau begitu kamau pakai jaketku saja" Toni mengambil jaketnya yang tadi ia letakkan di kursi belakang dan memberikannya ke Dina

__ADS_1


"tidak perlu Ton...."


"ayolah Din...nanti aku dimarahi mama kamu karena sudah membuat anak gadisnya kehujanan" paksa Toni


"baik...baik...." Dina meraih jaket yang diberikan oleh Toni kemudian ia memakainya.


Setelah memastikan Dina memakai jaket dan duduk dengan nyaman Toni mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang mengantar Dina pulang.


Sesampainya di rumah Dina, Toni turun terlebih dahulu membawa payung dan kemudian membantu Dina turun dari mobil. Toni memayungi Dina berjalan ke teras rumah. "Sebentar Din...oleh-olehmu masih di dalam mobil" Toni berlari ke mobil mengambil paper bag tadi kemudian kembali lagi dan memberikannya ke Dina.


"jaketnya kamu pakai dulu saja, baju kamu tadi basah" ucap Toni


"enggak apa-apa aku bawa dulu jaketmu?"


"kamu pakai terus juga enggak apa-apa, itu juga masih baru, baru aku pakai hari ini" Toni tersenyum penuh arti


"terima kasih ya Ton..." ucap Dina tersenyum tulus


"aku yang terima kasih, sudah mau pergi denganku" Toni mengembangkan senyumnya "aku pulang dulu, sudah sore takut kamu dimarahi papamu" ucap Toni


Dina terkekeh, dulu alasannya setiap Toni datang ke rumahmya pasti takut dimarahi papanya, rupanya Toni masih mengingatnya.


"salam untuk mamamu ya...daahh pricess...." Toni mengembangkan senyumnya, hari ini kerinduannya kepada Dina sedikit terobati.


Dengan perasaan bahagia, Toni mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya. Ia merasa hari ini adalah hari keberuntungannya ia bisa menghabiskan waktu dengan Dina.


Dina tak lagi ketus kepadanya, sudah riang kembali saat bersamanya, terlebih sekarang Dina lebih cantik dan lebih dewasa membuat ia jatuh cinta kepada Dina untuk yang ke sekian kalinya.


Usahanya untuk melupakan Dina dan menjadikan Andini pelarian ternyata tak berhasil. Ia malah semakin mengingat Dina, bahkan yang ada dalam hati dan pikirannya hanya Dina.


.


.

__ADS_1


.


B e r s a m b u n g


__ADS_2