Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 23 omelet


__ADS_3

Dua jam pelajaran berlalu, bel istirahat berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar kelas. Rani sudah lebih dulu keluar kelas meninggalkan Dina.


"jadi makan?" tanya Toni dengan senyum tipisnya


"nanti istirahat jam sore saja ya Ton...sekarang aku masih belum lapar" jawab Dina lembut


"baiklah... Mau di kelas atau keluar?" tanya Toni


"di kelas saja...aku sedang malas keluar"


Dina dan Toni menghabiskan jam istirahatnya di dalam kelas. Mereka mengobrol bercanda saling mengenal lebih jauh tentang diri mereka masing-masing.


Lima belas menit berlalu, bel masuk telah berbunyi. Dina kembali ke tempat duduknya. Ia merasa tidak enak hati melihat Roy sepertinya terpaksa duduk dengan Rani.


Dua jam pelajaran terasa begitu lama, apalagi pelajaran mereka sekarang adalah matematika, sepuluh menit rasanya seperti sudah berjam-jam.


Akhirnya yang ditunggu-tunggu berbunyi. Bel tanda istirahat jam sore telah berbunyi, mereka memiliki waktu yang lebih lama untuk beristirahat.


"aku mau makan di kantin, kalian mau ikut tidak?" tanya Roy


"tidak...!aku mau makan dengan Dina..." jawab Toni datar


Roy meninggalkan Dina dan Roy, ia sengaja tidak makan di tempat Toni seperti biasa karena ia tahu mbok Nah sedang tidak ada.


Toni mengajak Dina ke rumahnya, seperti janjinya.


"kamu mau makan apa?" tanya Toni saat sudah sampai di ruang makan


"memangnya apa yang ada?" tanya Dina


"semua ada, mbok Nah sudah menyiapkan semua di kulkas tinggal memanaskan kalau mau makan" jawab Toni sambil membuka kulkasnya


"apa yang kamu makan, aku juga mau Ton..." jawab Dina dengan senyum tipisnya


"kamu mau, jika aku memasakkan sesuatu untukmu?" tanya Toni


"apa saja yang ada Ton..." jawab Dina yang tak mau merepotkan "apa yang mau kamu panaskan, aku bantu" Dina berjalan mendekati Toni


"kamu cukup duduk saja...aku yang mengajakmu jadi aku yang bertanggung jawab" ucap Toni lembut.

__ADS_1


Toni mulai menyalakan kompornya, ia mengambil makanan yang ada di kukas kemudian ia memanaskan. Ia juga menyalakan satu lagi tungku yang ada di sebelahnya, kemudian ia mulai memasak sesuatu.


Dina hanya menatap Toni dari tempat ia duduk dengan kedua sudut bibir yang terangkat. Melihat Toni begitu lincah di dapur ia semakin mengagumi Toni. Tidak salah ia telah jatuh cinta pada Toni


Tak lama kemudian Toni sudah membawa dua piring dan diletakkan di meja makan.


"aku membuat omelet untukmu..." ucap Toni dengan kedua sudut bibir terangkat menatap Dina


Dina takjub, melihat apa yang ada dalam piringnya. Ia tidak menyangka Toni bisa memasak. Kemudian Toni mengambil lauk yang ia panaskan tadi dan menaruhnya di meja makan.


"biarkan aku yang mengambilkan nasi..." Toni mengambilkan nasi ke piring Dina, kemudian ia mengambil untuk dirinya sendiri


"ayo makan...apa mau aku suapin?" tanya Toni lembut


"aku makan sendiri..." jawab Dina tersenyum


Dina menyuapkan makanannya ke dalam mulut, kedua sudut bibirnya terangkat, omelet yanh dibuat Toni sungguh enak. Hanya masakan sederhana tapi rasanya luar biasa bagi Dina


"tidak enak ya...?" tanya Toni was-was


"enak...ini enak sekali Ton..." jawab Dina dengan binar mata bahagianya "sejak kapan kamu bisa memasak? Aku malah tidak bisa memasak seperti ini" Dina mengembangkan senyumnya.


"benar kata mbok Nah...masakan kamu enak..." Dina tak lagi bisa berkata-kata, hanya sebuah omelet membuat ia benar-benar bahagia.


"habiskan...atau kamu mau menambah lagi?" tanya Toni lembut


"tidak Ton...terima kasih" jawab Dina tersenyum tulus


Setelah menghabiskan makanannya Dina membereskan peralatan makan yang ia pakai. Toni sudah melarangnya malah mendapat lirikan tajam dari Dina. Toni pun mengalah, asal Dina tidak marah ia akan menuruti semuanya.


Pelajaran berharga buat dirinya. Menjaga perasaan cewek tidak selalu dengan barang pemberian, tapi hanya dengan perbuatan sederhana bisa membuat cewek bahagia. Ia hanya perlu mencintai Dina dengan sederhana.


Hari kedua mereka resmi berpacaran, mereka habiskan dengan menghapus kesalahpahaman. Berusaha saling mengenal, saling mengerti dan memahami.


Dina bahagia, pertama kali berpacaran, ia mendapatkan pacar yang penuh perhatian. Cowok yang sempurna seperti keinginannya selama ini.


.


Beberapa hari berlalu, hubungan mereka semakin mesra baik di kelas atau di luar sekolah. Meski Dina masih membatasi Toni untuk sering datang ke rumahnya tapi itu tidak membuat hubungan mereka renggang.

__ADS_1


Pada pertemuan Toni yang pertama dengan mamanya Dina respon mamanya begitu di luar pikiran Dina. Kedua orang tuanya menerima Toni dengan baik.


Mama Dina mengenal baik kedua orang tua Dina. Bahkan mamanya Toni adalah teman semasa kecil mamanya Dina. Toni sungguh beruntung tidak mendapat penolakan dari mamanya Dina seperti yang ia dan Dina takutkan selama ini.


Tapi bukan berarti Toni bebas datang ke rumah Dina, Dina tetap membatasi, karena papanya yang tidak suka jika Dina terlalu sering didatangi cowok.


Kemesraan Dina dan Toni membuat banyak orang iri. Teman-teman satu tim basket Toni merasa kesal karena Toni sering mengabaiakan mereka.


Toni pun sekarang tahu bagaimana cara untuk menyalurkan emosinya. Ia mulai mengikuti latihan bela diri untuk bisa menyalurkan dan mengendalikan emosinya.


Ketika ia kawatir atau cemburu dengan Dina, ia memilih untuk berlatih daripada harus bertemu Dina. Teman-teman tim basketnya yang juga teman-teman dekat dulu waktu SMP merasa Toni semakin jauh dari mereka.


"Ton...kapan kamu ada waktu buat kita? Sudah lama kita tidak berkumpul?" ucap Bian


"aku selalu ada waktu..." jawab Toni


"waktu kamu sebagian besar kamu habiskan dengaan berpacaran, pacaran bisa kapan saja, tapi kalau berkumpul dengan kita-kita kan sudah pasti tidak bisa kapan saja" ucap Bian dengan nada tidak suka


"kita bisa berkumpul setelah jam lima sore setiap harinya, tapi jangan ganggu aku di hari minggu" jawab Toni datar


"justru hari minggu saat yang tepat untuk kita berlatih" ucap Bian "aku dengar, sebentar lagi akan ada turnamen basket antar sekolah, kita harus ikut..." ucap Bian dengan nada menggebu-gebu


Toni hanya menghela nafasnya, dari awal ia berpacaran dengan Dina, teman-teman dekatnya seperti tidak suka dengan kebahagiannya, hanya Roy yang mendukungnya.


Toni tidak tahu apa yang membuat teman-temannya tidak menyukai Dina. Setahu Toni, Dina jarang berinteraksi dengan teman-temannya, hanya di kelas mereka berinteraksi itu pun jika ada tugas kelompok yang mengharuskan Dina satu kelompok dengan mereka.


.


.


B e r s a m b u n g


.


Jangan lupa ritualnya ya bestie


Vote, like dan komennya ditunggu


Yang belum baca karya 'PACARKU ADIK KELASKU' baca dulu ya...

__ADS_1


Terima kasih sekebon bestie...


__ADS_2