Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 64 Menentukan pilihan


__ADS_3

Ujian penentu apakah mereka lulus atau tidak telah selesai. Mereka bisa sedikit bersantai sebelum mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri. Toni masih sering mengawasi Dina dari jauh, terkadang untuk mengobati rasa rindunya, ia sengaja pergi ke rumah Dina tapi tidak pernah ia masuk, ia hanya berhenti dari jauh menfamati rumah Dina kemudian ia pergi lagi.


Meski ingin sekali ia mengetuk pintu rumah Dina, tapi ia selalu ingat untuk menjaga jarak dengan Dina. Ia rela menjadi bayang-bayang Dina untuk bisa memastikan keadaan Dina.


"sudah kamu putuskan akan kuliah dimana?" tanya papanya sambil meminum kopinya


"aku kuliah di universitas M saja pa..."


"kenapa kamu tidak kuliah di kota J saja? Agar kamu tidak bolak-balik " ucap papanya Toni menatap Toni heran


"tidak apa-apa pa, aku di sini saja...masih belum ingin pergi jauh dari kota ini" sebenarnya Toni belum siap meninggalkan kota yang penuh kenangan.


Pendaftaran perguruan tinggi negeri telah dibuka, Toni tidak ingin mendaftar di perguruan tinggi negeri. Pikirannya hanya tertuju pada satu universitas swasta.


Toni tak ingin dipusingkan dengan keruwetan mendaftar di perguruan tinggi negeri. Selain itu dia sudah pasti diterima di universitas M karena diam-diam dirinya sudah lama mendaftarkan diri di universitas tersebut dengan jalur undangan.


Toni tak perlu bersusah payah mendaftar dan melakukan tes masuk seperti teman-teman lain yang ingin kuliah di perguruan tinggi negeri. Baginya tidak penting dia kuliah dimana, yang terpenting ia bisa menyelesaikan kuliahnya lebih cepat.


Lebih cepat ia lulus kuliah, lebih cepat pula ia bisa kembali menemui Dina kembali. Ia akan bisa mengangkat kepalanya dan membanggakan apa yang telah ia capai.


Entah kenapa ia sangat merindukan Dina. Ia terpikir untuk menemui Dina setelah sekian lama ia hanya memperhatikan Dina dari jauh. Toni mengambil kunci motornya, ia bergegas meninggalkan rumah dan pergi ke rumah Dina.


Sesampainya di depan rumah Dina, ia ragu antara masuk dan mengetuk pintu atau pulang lagi. Lama ia berdiam di depan rumah Dina, Toni dikejutkan oleh anak kecil yang menyapanya.


"kakak mau apa di depan rumahku?" ucap anak kecil itu


"kakak temannya kak Dina, kak Dina ada?" tanya Toni tersenyum ramah


"enggak ada, kak Dina di rumah sakit" jawab anak kecil itu yang tak lain adalah Nino adik Dina yang paling kecil


"kak Dina sakit?" tanya Toni penasaran


"Dina sakit...dari kemarin dirawat di rumah sakit..." ucap mamanya Dina yang datang menghampiri Toni

__ADS_1


"eh...tante..." Toni turun dari motornya kemudian menyalami mamanya Dina


"sudah lama di sini?" tanya mamanya Dina ramah


"baru saja tante....Dina sakit apa tan?" tanya Toni sopan


mamanya Dina menghela nafasnya "asam lambung Ton...sudah beberapa hari sebenarnya, tapi kemarin pulang dari mengembalikan formulir wajahnya pucat dan keringat dingin, bahkan sempat pingsan kata Dina"


"di rumah sakit mana tan?" tanya Toni dengan nada kawatir.


"di rumah sakit XX..." jawab mamanya Dina


"kalau begitu saya ke rumah sakit sekarang tan..." Toni buru-buru memakai helmnya


"tolong jaga Dina ya Ton....sampai papanya pulang dari kantor, tante belum bisa ke rumah sakit, di rumah tidak ada yang menjaga adik-adiknya Dina"


"iya tante...pasti..." Toni naik ke atas motorny kemudian ia melajukan motornya ke rumah sakit tempat Dina dirawat.


Di tengah jalan Toni menyadari tidak mengetahui Dina dirawat di ruang mana. Pikiran Toni tertuju pada kondisi Dina, ia berpikiran pasti Dina sakit parah sampai harus dirawat di rumah sakit.


Tanpa mengetuk pintu, Toni membuka pintu kemudian masuk ke dalam ruang rawat Dina "Princess sakit apa?"


"tahu dari mana aku di sini?" tanya Dina datar


"dari adikmu, tadi aku ke rumahmu dan adikmu yang paling kecil bilang kamu dirawat di sini" jawab Toni sambil melepaskan jaketnya "maaf aku ke sini tidak bawa apa-apa, aku tadi buru-buru"


"iya..." ucap Dina singkat


"tadi mama kamu minta tolong menjaga kamu sampai papamu pulang dari kantor"


"terima kasih" ucap Dina datar matanya masih fokus ke layar televisi


"sebenarnya kamu sakit apa? Kemarin aku lihat kamu baik-baik saja" tanya Toni menarik kursi mendekat ke brankar Dina

__ADS_1


"kamu tahu sendiri selama ini aku sakit apa, ya anggap saja aku sekarang disuruh istirahat" ucap Dina tak sedatar tadi


"pacar kamu tidak ke sini?" tanya Toni itu hati-hati, karena yang ia lihat kemarin sewaktu ia menemani Roy mengembalikan formulir Dina dan pacarnya sepertinya sedang bertengkar.


Dina menghela nafasnya "tidak ada yang tahu aku di sini Ton"


Toni merasa sedih sekaligus marah melihat Dina yang terbaring lemah dengan wajah pucat di brankar rumah sakit. Toni marah karena pacar yang Dina selalu bela jika bertemu Toni, memperlakukan Dina sedikit kasar.


Ia juga marah pada dirinya sendiri, karena selama ini menjaga jarak dengan Dina. Toni berpikir andai dirinya tak memberi ruang untuk Dina bisa dekat dengan pacaranya, Dina tak akan terbaring di rumah sakit.


"kalau perlu apa-apa bilang saja ya...aku akan menemanimu" ucap Toni lembut


"iya..." jawab Dina singkat.


Dina merasa tidak nyaman ada Toni yang menemaninya. Setiap berdekatan dengan Toni ingatannya selalu berputar kembali pada saat dimana dirinya dikecewakan oleh Toni. Bagaimana sakit hatinya ketika diabaikan oleh Toni, meski itu semua Dina tahu penyebabnya.


Tapi rasa trauma, rasa sakit itu selalu saja membayang-bayangi ingatannya. Ia tak bisa melupakannya begitu saja. Meski dengan rasa sakit yang begitu dalam masah ada secuil rasa sayang dalam hatinya untuk Toni.


Dina berusaha menyangkal rasa itu, ia selalu meyakinkan dirinya jika sekarang ia telah memiliki pacar. Ia harus menjaga hati dan pikirannya untuk Dendy.


Tapi di saat kesendiriannya, terkadang ia masih mengingat semua kenangannya bersama Toni. Bahkan ketika tidak sengaja bertemu di sekolah getar-getar rasa itu masih tercipta.


Tak ada yang tahu jika Dina masih sering bercerita tentang perasaannya pada Roy. Jika ada waktu luang Roy masih sering main ke rumah Dina.


"yang pertama tak akan mudah untuk dilupakan, bahkan takkan terlupakan" itu kata-kata Roy yang terus diulang-ulang ketika Dina menceritakan segala permasalahan yang ia hadapi.


Dina selalu menyangkal setiap Roy mengucapkan kata-kata itu. Roy hanya menjawab "kamu akan menyadarinya kelak". Dina selalu menuduh Roy sengaja membuat dirinya bimbang, Dina pikir Roy memihak Toni karena mereka berdua berteman baik.


Padahal Roy selalu mendukung apapun keputusan Dina selama itu baik buat Dina. Roy hanya mengatakan semua dari sudut pandang dia.


.


.

__ADS_1


.


B e r s a m b u n g


__ADS_2