Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 37 Secuil perhatian Toni


__ADS_3

Sepanjang jam pelajaran pertama pikiran Toni tertuju pada Dina. Ia tak tenang sebelum Dina ramah kepadanya seperti kemarin waktu ia ke rumah Dina.


Jam istirahat pertama Toni ke kelas Dina tapi Dina sudah tidak berada di kelasnya. Toni pulang ke rumahnya, ia malas berada di sekolah sementara ia tidak tahu dimana keberadaan Dina.


Sesampainya di rumah, Toni langsung menuju ke dapur. Ia menghampiri mbok Nah yang sedang memasak.


"mas Toni sendirian?" tanya mbok Nah


"iya mbok" jawab Toni lesu


"biasanya dengan mas Roy" ucap mbok Nah


Toni tak menjawab, ia duduk di meja dekat dapur. Toni melamun memikirkan Dina.


"Papanya mas Toni sepertinya menyukai non Dina" ucap mbok Nah menghampiri Toni


"hah....apa mbok?" tanya Toni terkesiap


"itu den Yanuar menyukai non Dina mas..." ucap mbok Nah


"menyukai bagaimana mbok?" tanya Toni penasaran


"tadi pagi papanya mas Toni bilang, non Dina itu mengingatkan papanya mas pada adik kelasnya dulu waktu masih sekolah" ucap mbok Nah


"begitu ya mbok, terus papa bilang apa lagi?" tanya Toni penasaran


"cuma bilang non Dina cantik, ramah, dan menurut papanya mas Toni non Dina wajahnya sedikit mirip dengan mas Toni" mbok Nah terkekeh


Toni tidak menyangka penilaian papanya pada Dina begitu baik. Biasanya ia akan acuh terhadap teman-teman anaknya. Toni bergaul dengan siapa saja papa mamanya tak peduli.


Terlebih mamanya yang seorang anggota dewan di kotanya. Mamanya begitu sibuk dengan pekerjaannya. Hampir tiap minggu selalu saja ada hari dimana mamanya dinas keluar kota.


Mamanya lebih jarang di rumah ketimbang papanya. Papanya Toni jarang pergi keluar kota lebih dari dua hari, hanya saja ia pergi pagi pulang malam jadi jarang bertemu dengan Toni.


Toni kembali ke kelasnya, ia menjadi malas untuk masuk ke kelas. Semangatnya hilang karena diabaikan oleh Dina. Pelajaran demi pelajaran ia lalui tapi tak satupun penjelasan gurunya yang ia tangkap dengan baik.


Bel tanda istirahat jam sore telah berbunyi, ia kembali ke kelas Dina, beruntung Dina masih berada di dalam kelasnya. Toni menunggu di luar kelas Dina. Tapi Dina tak kunjung keluar padahal teman-teman Dina sudah keluar kelas.


Toni memberanikan diri untuk masuk ke kelasnya Dina dan menghampiri Dina yang sedang duduk melamun sendiri di mejanya.


"kamu tidak makan?" tanya Toni


Dina menatap Toni yang masuk ke kelasnya menghampirinya. Dina menjawab dengan gelengan kepala.

__ADS_1


"ayo aku temani, mau makan bakso di tempat biasa?" tanya Toni lembut


Dina diam, tak menjawab ucapan Toni. "Aku tahu kamu masih sedih, tapi kamu harus tetap makan" ucap Toni lembut


Mata Dina berkaca-kaca menatap Toni.


"apa kamu mau makan di rumahku?" tanya Toni lembut, Dina menggelengkan kepalanya.


"kalau begitu makan bakso di tempat biasa saja ya..." ucap Toni menarik tangan Dina lembut.


Dina mengikuti langkah Toni berjalan ke rumah Toni. Toni bergegas mengeluarkan motornya, ia tak ingin Dina menunggunya terlalu lama. Toni mengendarai motornya dengan kecepatan sedang ke warung bakso yang tak jauh dari sekolah mereka.


Sesampainya di tempat yang merek tuju, Toni mengajak Dina masuk ke warung tersebut dan memesankan bakso untuk Dina. Tak lama pesanan mereka datang.


"makan dulu..." ucap Toni lembut. Dina hanya menatap mangkok baksonya tanpa berniat memakannya


"aku suapin ya..." Toni mulai menyendokkan bakso dan menyuapkan ke mulut Dina. Dina mengambil sendok yang dipegang Toni.


"aku makan sendiri saja..." ucap Dina datar


Toni menyerahkan sendok yang ia pegang. Ia tidak mau memaksa Dina, karena kondisi Dina yang benar-benar masih berduka. Toni hanya memperhatikan Dina bisa makan dengan benar.


Usahanya tidak sia-sia, meskipun sedikit lebih lama dari biasanya, Dina menghabiskan makanannya. Toni bernafas lega setidaknya meskipun hanya makan bakso satu mangkok perut Dina keisi.


Toni memarkirkan motornya di tempat parkir sekolah. Ia tidak mau nanti Dina menghindarinya saat mau mengantar Dina pulang. Dina turun di depan pos satpam dan meninggalkan Toni yang masih memarkirkan motornya.


Toni menghela nafasnya menatap nanar ke arah Dina yang meninggalkannya. Toni berusaha menahan emosinya, sebenarnya ia ingin sekali marah menghadapi sikap Dina yang seperti itu.


Tapi melihat Dina yang sedih dan sering melamun membuat Toni iba. Toni berjalan ke kelasnya dan melewati kelas Dina. Ia melihat Dina duduk sendiri di taman depan kelasnya.


"Princess...." ucap Toni lembut


Dina menatap Toni dengan tatapan datarnya. Perasaannya campur aduk, antara sedih, senang dan marah.


Dina merasa Toni sedikit demi sedikit menunjukkan penyesalannya, tapi Dina terlalu sakit hatinya jadi ia tidak mau memberikan harapan lebih pada Toni.


Sebisa mungkin ia akan bersikap datar dan cenderung tak bersahabat, demi kesembuhan luka hatinya. Diabaikan dan lebih mempercayai perkataan orang lain itulah yang ia rasakan terhadap Toni.


Dina tak akan pernah lupa akan hal itu. Meski Dina sudah memaafkan Toni tapi ia belum bisa melupakan kesalahan Toni. Dina terlalu sakit diabaikan dan tidak dipercayai.


"kamu melamun apa lagi hmm?" tanya Toni lembut


"tidak apa-apa" Dina bangkit dan berjalan masuk ke kelasnya

__ADS_1


Toni menghela nafasnya kasar, ia berjalan menuju kelasnya.


Bel pulang sekolah telah berbunyi. Toni bergegas keluar kelasnya dan ke kelas Dina, Toni menunggu Dina dengan sabar karena guru yang mengajar di kelas Dina belum juga keluar.


Lima menit ia menunggu, guru yang mengajar di kelas Dina keluar. Toni segera mengjampiri Dina yang keluar dari kelasnya. Semua mata temannya Dina tertuju padanya dan Dina, tapi Toni tak mempedulikan, yang ia pedulikan hanya Dina.


Toni menarik tangan Dina lembut "ayo aku antar pulang" ucap Toni lembut


"aku bisa naik bis pulangnya Ton..." ucap Dina datar


"ini sudah sore Din...lagipula tadi pagi aku yang menjemputmu jadi aku juga yang harus mengantarmu pulang"


Dina menyerah, berdebat dengan Toni kadang ia tak akan menang. Dina mengikuti Toni dari belakang, berjalan ke tempat parkir motor. Dina membonceng Toni tanpa satu patah katapun terucap dari bibirnya.


Lima belas menit perjalanan, merela telah sampai di rumah Dina. Dina turun dari boncengan Toni "terima kasih" ucap Dina datar


"Din..." ucap Toni


Dina menatap heran Toni "ada apa?"


"kamu masih belum memaafkan aku?" tanya Toni sendu


Dina menghela nafasnya "aku sudah lama memaafkanmu" ucap Dina datar


"lantas kenapa sikapmu masih dingin terhadapku?" tanya Toni dengan tatapan nanar


"aku masuk dulu..." ucap Dina kemudian ia masuk ke dalam rumahnya


.


.


.


B e r s a m b u n g


.


Dukung terus karya ini ya bestie...


Please like, vote dan komennya ya...


Terima kasih sekebon bestie

__ADS_1


__ADS_2