
Kesibukan Dina mengerjakan tugas lembur sampai dinihari berlanjut berhari-hari. Tak hanya Dina dan teman-temannya yang kelelahan namun komputernya pun juga sepertinya mulai lelah. Selama itu pula Toni hanya datang membawakan makanan untuk mereka bertiga kemudian pulang ke rumahnya.
"yahhh....padahal tinggal revisi sedikit lagi..." gerutu Dina kecewa
"biarkan komputermu istirahat sejenak Din...." ucap Berta
"andai komputerku bisa dipakai...." ucap Caca lirih
"kepaksa deh...." gumam Dina
"kenapa Din...?"
"malam ini kita nggak usah lembur bareng-bareng ya....akan aku selesaikan di rumah Toni, kalian kerjakan laporannya aku yang menyelesaikan gambarnya" ucap Dina
"memangnya nggak apa-apa menegerjakan di tempat Toni?" tanya Berta
"Dina yang mengerjakan di sana...kamu nanti ke kosku saja membantu aku menyusun laporannya..." ucap Caca
"oo....begitu....kirain kita bertiga kesana"
"sebenarnya sih nggak apa-apa, cuma aku belum bilang Toni, dan lagi kalian mau menginap di rumah cowokku?" tanya Dina
"nggak ah...Din...serem..." ucap Caca. Dina dan Berta tergelak melihat Caca yang ketakutan
"padahal Toni nggak gigit lho" Dina terkekeh
"mending aku di kos saja" ucap Caca
Mereka bertiga berangkat ke kampus, bonceng bertiga Dina yang di depan mengendarai motor milik Toni. Sesampainya di pos satpam tempat parkir Dina berpapasan dengan Dendy, Dina hanya tersenyum menatap Dendy kemudian masuk ke dalam parkiran.
Mereka bertiga kuliah bersama dengan dosen yang kemarin sempat dicemburui oleh Toni. Banyak mahasiswi yang mengidolakan dosen itu, Berta dan Caca pun selalu histeris ketika melihatnya.
.
Sepulang kuliah, Dina langsung ke rumah Toni. Ia ingin melanjutkan mengerjakan tugasnya memakai komputer di ruang kerja milik Toni. Sejak Dina sering memakai komputernya, Toni membebaskan Dina menginstal program komputer yang ia perlukan.
Dina mengunci pagar kemudian masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya. Dina langsung ke ruang kerja Toni yang berada di sebelah kamar Toni.
Dina melihat banyak buku yang berserakan di meja kerjanya. "ternyata dia sudah mulai menyiapkan tesisnya" gumam Dina yang melihat lembaran-lembaran proposal tesis milik Toni.
Dina merapikannya, kemudian meletakkanya di meja kecil di sebelah sofa. Dina mulai menyalakan komputer dan mulai mengerjakan tugasnya. Merasa sedikit lelah, Dina turun ke bawah tujuannya adalah dapur, biasanya Toni menyimpan makanan ringak di dapur.
__ADS_1
Dina mengambil sebotol air dingin dan makanan ringan kemudian membawanya ke atas. Dina melanjutkkan lagi tugasnya, ia tak meyadari jika hari mulai gelap.
Toni pulang dari kantornya, tujuan pertamanya adalah kos Dina. Ia sudah membawa banyak makanan untuk Dina dan teman-temannya. Toni kawatir Dina akan melewatkan jam makannya jika sudah sibuk belajar.
Toni membunyikan bel kosnya Dina, namun bukan Dina yang keluar melainkan teman kosnya.
"cari siapa?"
"Dina ada?"
"hmm....sebentar ya...saya ke atas dulu" ucap teman kos Dina.
Toni mengamati di tempat parkir motor, motor Dina ada, namun motornya yang dibawa Dina tidak ada. Tak lama teman kos Dina turun
"Dina belum pulang dari tadi siang itu kak..." jawab teman kos Dina
"baiklah...kalau Dina pulang sampaikan, saya mencarinya" ucap Toni datar kemudian meninggalkan kos Dina dengan perasaan kecewa
Toni memikirkan semua kemungkinan dimana Dina berada. Atau Dina sengaja menghindarinya lagi. Toni pulang ke rumahnya, ia lelah seharian pekerjaannya menumpuk, belum lagi kuliahnya yang sedikit padat.
Toni masuk ke dalam rumahnya, dan naik ke lantai dua. Toni terkejut, pintu ruang kerjanya sedikit terbuka dan lampunya menyala. Tanpa berpikir panjang, ia mengambil vas bunga yang ada di dekat tangga. Ia masuk ke dalam ruang kerjanya dan mendapati orang yang ia cari tertidur di depan komputernya yang masih menyala.
"ternyata kamu di sini" ucap Toni pelan berjalan mendekati Dina yang terlihat tidur nyenyak dengak kepala di atas meja kerjanya.
Toni mengangkat Dina dan membaringkannya di sofa yang ada di ruang kerjanya. Ia kembali ke meja kerjanya dan melihat apa yang Dina kerjakan, terlihat gambar garis-garis yang menurutnya rumit dan seperti ada ruangan-ruangan. Toni meninggalkan Dina pergi ke kamarnya untuk membersihkan dirinya.
Setelah selesai membersihkan dirinya, ia pun ke ruang kerjanya dan duduk di sofa kecil yang menghadap Dina tidur. Ia mengambil buku dan membacanya ia pun juga tertidur.
Dina mulai membuka matanya, ia terlalu lelah sampai ia tertidur, namun ada yang aneh, ia tidur di sofa padahal seingatnya tadi ia masih di depan komputer.
Ia menoleh ke arah samping dan terlihat Toni sudah pulang dan tertidur di sofa juga. Ia pun berjalan pelan-pelan, turun ke bawah untuk mandi di kamar mandi biasa ia pakai.
Setelah selesai, ia pun ke dapur dan mendapati banyak bungkusan makanan di meja makan. Ia membuka satu persatu bungkusan itu "makanan segini banyak buat siapa?" gumam Dina
Ia pun membuat segelas teh hangat untuknya dan juga Toni. Setelah siap ia pun naik ke ruang kerja Toni.
"sayang...." Dina menepuk pelan bahu Toni dan membangunkannya
"hehhh..." Toni terbangun dan menatap Dina yang tersenyum padanya "jam berapa ini?"
"jam delapan lebih sepuluh menit" ucap Dina
__ADS_1
Dina duduk di pangkuan Toni, ia mencium lembut bibir Toni kemudian memeluknya.
"ada apa?" tanya Toni lembut sambil membelai punggung Dina
"aku hanya merindukanmu" ucap Dina lembut
Toni tersenyum "aku kira tadi ada pencuri di rumahku"
"kenapa aku di samakan dengan pencuri?" Dina kesal
"semua terkunci hanya ruangan ini yang sedikit terbuka, aku mulai panik saat membuka pintu ternyata memang benar ada pencuri" ucap Toni dengan nada serius
"aku hanya meminjam komputermu, kenapa bilang aku pencuri?!" Dina mengerucutkan bibirnya
"kamu memang pencuri!" Toni menjeda ucapannya menatap Dina yang mulai terlihat marah "kamu pencuri hatiku" Toni mengembangkan senyumnya
"kamu jahat....!!!" Dina kesal Toni mempermainkannya ia memukul dada Toni namun Toni menangkisnya. Ia menggenggam tangan Dina
"sayang....sudah ya...." ucap Toni lembut kemudian mengecup bibir Dina
"aku sudah buatkan teh hangat, diminum dulu keburu dingin" ucap Dina mengambil cangkir yang tadi ia bawa
Toni mengambilnya "calon istri terbaik" kemudian ia meminum tehnya
"di bawah kenapa banyak makanan?" tanya Dina
"oh....itu...aku tadi membelinya untuk kamu, aku kira kamu lembur lagi bersama teman-temanmu, ternyata lemburnya pindah di sini" Toni terkekeh
"maaf....komputerku mungkin terlalu lelah diajak lembur, makanya aku pindah ke sini" ucap Dina lirih
"boleh...tapi kamu harus bayar ya...." Toni tersenyum miring
"pelit..." Dina beranjak dari pangkuan Toni kemudian meninggalkannya.
Toni menyusulnya, ia pun membuka bungkusan yang tadi ia bawa kemudian memanaskannya. Toni dan Dina makan berdua, mereka saling menyuapi dan sesekali bercanda.
Bersama Toni banyak batasan yang ia langgar. Ia tak lagi membatasi dirinya seperti dulu. Ia mulai menikmati hubungannya dengan Toni, dan mulai terbiasa dengan sebutan calon istri. Meski dalam hati kecilnya masih ada sedikit harapan untuk bersama Dendy namun ia berusaha menerima kenyataan yang ada di depan matanya. Siapa yang telah dengan berani berjuang untuknya.
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g