
Dina terus saja diam, ia masih merasa antara percaya dan tidak menerima kenyataan jika dirinya hamil. Ia terus mengingat-ingat apakah ia pernah terlewat meminum pilnya.
Namun ia tak bisa mengingatnya, semakin ia paksa ia semakin pusing. Namun ia sadar, semua ada resikonya. Ia tahu Toni pasti akan bertanggung jawab namun ia masih belum rela jika ia harus menikah muda.
"sementara kamu tinggalah di sini..." ucap Toni masuk ke dalam kamar sambil membawa segelas susu hangat untuk Dina
Dina menoleh ke arah Toni "aku tinggal di kos saja..." ucap Dina tak bersemangat
"sayang....lebih baik kamu di sini, aku akan meminta Raya menemanimu jika aku pergi ke kantor"
Dina diam lagi tak menghiraukan perkataan Toni. Toni pun duduk di samping Dina "kenapa melamun, apa yang kamu pikirkan?" Toni meraih tubuh Dina dan memeluknya
"jika aku benar-benar hamil bagaimana?"
"sayang....kamu tak perlu kawatir, aku akan bertanggung jawab, aku akan menemui kedua orang tuamu bersama papa" ucap Toni lembut
"tapi aku belum siap....aku masih ingin bekerja....masih ingin menikmati masa mudaku"
"sayang...aku tidak akan melarang kamu bekerja, kamu masih tetap bisa bebas melakukan apa yang kamu suka, selama kamu bisa menjaga diri dan tahu kewajibanmu" ucap Toni lembut
Dua hari kemudian....
Pagi-pagi Dina bangun ia sudah mulai bisa menerima kenyataan dan siap jika memang dirinya hamil. Ia beranjak dari tempat tidur meninggalkan Toni yang masih terlelap.
Dina ke dapur dan bersiap untuk memasak sarapan untuk dirinya dan Toni. Hari ini ia akan ke kampus pagi-pagi mengurus pendaftaran wisudanya.
Empat puluh lima menit berlalu Dina sudah selesai memasak sarapan. Ia pun pergi ke kamar Toni "sayang...bangun....kamu tidak ke kantor hari ini" ucap Dina lembut
"hemm....ini jam berapa?" Toni masih enggan membuka matanya
"sudah jam tujuh kurang lima menit"
"aku malas ke kantor..." Toni menarik tangan Dina hingga Dina terjatuh di atas tubuh Toni
"kenapa malas...? Semangat dong...katanya mau jadi papa" ucap Dina. Seketika Toni membuka matanya dan menatap Dina "pagi ini sepertinya aku tidak mendengar kamu muntah-muntah"
"entah...pagi ini rasanya mualku hilang..." ucap Dina "ya sudah aku mandi dulu, sarapan sudah siap kalau kamu mau sarapan" ucap Dina beranjak dari tempat tidur
"kita mandi bersama ya....aku ingin memandikan ini" Toni membelai perut Dina kemudian ia mengecup perut Dina
__ADS_1
Dina tak menghiraukan ucapan Toni, ia masuk ke kamar mandi. Toni pun menyusul Dina saat masuk ke kamar mandi Toni mendapati Dina sedang diam menatap pakaian dalamnya.
"kenapa sayang?"
"ini..." Dina menunjukkan bercak merah di pakaian dalamnya, kemudian tiba-tiba ada yang mengalir dari *********** "sepertinya aku datang bulan..." ucap Dina dengan raut wajah bahagia
"hah...?" Toni bingung antara sedih, senang, kecewa bercampur menjadi satu
"sudah...kamu keluar sana...tolong ambilkan pembalut untukku" ucap Dina riang
Toni pun keluar dari kamar mandi mengambilkan apa yang Dina minta. Toni duduk di balkon kamarnya sambil menunggu Dina selesai mandi.
Ia merasa sedih dan kecewa karena Dina tidak jadi hamil, namun ia juga merasa lega karena Dina kembali lagi ceria. Selain itu ia juga lega karena tak harus menghadapi kemurkaan papa Dina.
"kamu tidak jadi mandi?" ucap Dina mendekati Toni
"kamu sudah selesai?" Toni menarik Dina ke pangkuannya "bagaimana perasaanmu?" Toni melingkarkan tangannya di pinggang Dina
"aku lega...ketakutanku tidak menjadi kenyataan"
Toni tersenyum "berarti besok-besok kita harus memakai pengaman ganda"
"kamu tau maksudku kan" Toni menaikturunkan alisnya
"kamu itu....!!!" Dina mencubit pinggang Toni
"tapi kamu suka kan? Buktinya kamu selalu mendesah berulang kali" ucap Toni jahil
"Toni...!!" Dina kesal kemudian turun dari pangkuan Toni
Seminggu berlalu, Dina pulang ke kota K, ia memberitahu jika akhir minggu depan ia akan wisuda dan meminta kedua orang tuanya untuk hadir.
Toni pun kembali disibukkan dengan pekerjaannya. Lelaki berumur dua puluh empat tahun itu menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda karena berlibur dan menemani Dina yang sedang sedih.
Dina berada di rumahnya mempersiapkan semua keperluannya untuk wisuda dan juga untuk pergi ke kota S setelah wisuda nanti. Ia telah memberi tahu orang tuanya jika ia ada tes wawancara di kota S.
Papanya sedikit keberatan karena Dina harus pergi jauh ke kota S. Namun Dina meyakinkan jika ini adalah kesempatan yang tak boleh disia-siakan.
Dua hari berada di rumah, ia pun kembali ke kota J. Ia mulai merapikan barang-barangnya yang berada di kosnya. Setelah wisuda ia akan pindah kos yang selama lima tahun terakhir menjadi tempat tinggalnya.
__ADS_1
Sedih memang, namun itu harus ia lakukan. Tak mungkin lagi ia tinggal di sana. Ibu kosnya hanya menerima mahasiswa, ia tidak menerima karyawan atau orang yang sudah menikah.
Sementara itu di kantor, Toni masih memikirkan peristiwa beberapa haru yang lalu. Ia berandai-andai jika Dina benar-benar hamil ia akan sangat bahagia.
"Wan....waktu Raya hamil muda, apakah merepotkan?" tiba-tiba Toni berbicara yang menurut Ridwan aneh
"lumayan bos....setiap pagi selalu mual-mual muntah-muntah sampai lemas, makan saja juga susah, maunya aneh-aneh" jawab Ridwan yang bingung
"mual sampai muntah begitu ya....hanya pagi saja?"
"setiap saat sih bos...tapi yang paling parah di pagi hari, memangnya kenapa bos?" Ridwan masih bingung
"ah...tidak apa-apa hanya tanya saja..." jawab Toni
"Non Dina hamil bos?" Ridwan memberanikan diri bertanya
"kukira begitu, sempat ke dokter kandungan namun ternyata nggak jadi" jawab Toni jujur. Ia percaya pada Ridwan, tak ada yang ia tutup-tutupi dari Ridwan teman bermainnya sewaktu kecil.
Pernah sekali Ridwan tidak sengaja memergoki Toni sedang bercinta di kantornya bersama Dina namun Toni tidak mengetahuinya. Itu yang membuat Ridwan berani bertanya pada Toni.
Bahkan terkadang mereka berdua mengobrol hal-hal vulgar, maklum mereka berdua telah sama-sama dewasa bukan hal yang tabu jika mereka membicarakan hal yang lebih intim.
"kenapa bos, bukannya bos kalau bermain dengan Non Dina nggak pernah sebentar harusnya tidak gagal, apalagi bos selalu rajin olah raga pasti lebih sehat"
"kamu ini..." Toni melempar gulungan kertas ke arah Ridwan "darimana kamu tahu?" Toni sedikot malu
"ya...ampun bos....apa bos lupa, bos sering menyuruh saya mengantar ini itu ke rumah...ya saya tahu...bagaimana permainan bos dengan non Dina" Ridwan terkekeh
"hush...itu rahasia...awas kalau sampai bocor kemana-mana! Atau jangan-jangan kamu suka mengintip ya...?!" Toni menatap Ridwan dengan tatapan membunuh
"tenang bos....aman...saya hanya mendengar dari bawah suara-suara kalian" Ridwan tergelak
Toni merasa malu, dengan perkataan Ridwan. Namun memang harus ia akui jika memang ia begitu menikmati permainannya dengan Dina. Ia selalu membuat Dina kewalahan dan tak cukup sekali.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g